Laki-laki Kelas Dua

Perjalananku pada akhirnya menemukan siapa sesungguhnya aku. Aku bukanlah laki-laki hebat, populer, baik, apalagi cerdas. Kutemukan aku hanya laki-laki biasa saja. Laki-laki yang melakukan sesuatu karena kusuka dan apa adanya saja. Bibit kesombongan dan ego bagiku lahir karena sifat kemanusian diriku yang ternyata melingkupi keseharianku. Tapi aku tidak bermaksud untuk merasa hebat atau besar kepala walaupun terkesan ada.

Dulu aku pernah berbicara akan eksistensiku. Sebuah esensi kenapa aku ada dan bergerak. Tapi kini aku berubah. Kusadari, itu bukanlah diriku. Aku telah belajar. Belajar banyak pada alam. Alam telah menempaku. Mendidikku untuk menghargai apapun yang dihadapanku. Jika kalian berhadapan dengan alam maka tidakkan ada kesombongan, yang ada pengharapan. Lalu lintas kehidupan memberi nyawa perjalanan kehidupan seseorang, termasuk aku. Besar dari keluarga sederhana dan pekerja keras, menciptaku untuk terus menang. Mengalkulasikan setiap kemenanganku pada eksistensi pribadi. Kutunjukkan pada dunia aku ada.

Tersadarkan pada alam. Aku hanya laki-laki yang mencintai kesederhanaan. Langkah kakiku hanya menuju pada satu titik. Bukan lagi untuk mengukuhkan eksisitensiku tetapi pada hakikat kehidupanku. Semua kuyakini hanya fatamorgana dunia. Dulu dunia telah kuletakkan di hati, kini aku hanya ingin menggenggamnya. Aku tak pantas menerima pujian dan hadiah apapun. Aku sadar diri, aku hanya laki-laki kelas dua. Tak berhak menerima bintang, pun sebatas pandangan penggapaianku pada keindahan bulan. Kuterima dengan sederhana saja akan takdir yang menyertaiku. Kuyakini dengan kesederhanaan pada mimpi dan impianku yang tertuju pada masa depanku.

"Khauf, Raja' dan Mahabbah hanya pada-Mu, ya Rabbul izzati"
(die)
You liked this post? Subscribe via RSS feed and get daily updates.

0 comments:

terima kasih atas kunjungannya. silahkan menuliskan saran, kritik atau komentar apapun dalam kotak komentar dibawah ini :) dan bila ingin mengkopi, tolong sertakan link dan sumber. tabik!