Showing posts with label celoteh. Show all posts
Showing posts with label celoteh. Show all posts

Hilangnya Kesadaran Mahasiswa

Mahasiswa tentunya merasa ikut bertanggung jawab atas apa yang menimpa masyarakat Indonesia. Sebagai kelompok terdidik yang merupakan lapisan kecil elite Indonesia yang sampai sekarang sarjana di Indonesia hanya sekitar 5% dari total penduduk Indonesia. Mereka lapisan masyarakat yang memiliki kemampuan untuk berfikir dan berperan menjadi pendorong bergeraknya kehidupan masyarakat. Padahal untuk mendorong dinamika dan perubahan sosial yang berkaitan untuk penungkatan dan perbaikan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat diperlukan setidak-tidaknya 30% kelompok penduduk pada berbagai keahlian, terutama sekali pada berbagai bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Peran mereka sungguh sangat menentukan

Sisanya di negeri ini dari keseluruhan penduduk, ada 85,7%, hampir mendekati seluruh jumlah penduduk di negeri ini yang hanya mengenyam pendidikan dasar, dan termasuk mereka yang drops out dari sekolah dasar. Kalau kita lihat laporan data ESCAP population data sheet tahun 2006 ada sebanyak 35,29% rakyat Indonesia tidak tamat SD. Ada sebanyak 34,22 % rakyat indonesia hanya tamat SD dan hanya 13% rakyat indonesia hanya tamat SMP.

Pertanyaan sekarang ialah, apakah mahasiswa sudah berperan dalam proses pemberdayaan masyarakat yang bersifat mencerdaskan dan memajukan taraf hidup mereka? Masih adakah perhatian terhadap kampung halaman yang mengharapkan uluran tangannya? Menjawab pertanyaan tersebut cukup susah karena beberapa persoalan senantiasa melingkari realitas mahasiswa. 
 
Pertama, mengingat study dan serangkaian kegiatan kampus yang padat sehingga sangat sedikit mahasiswa yang punya waktu untuk berkumpul dengan masyarakat khususnya di daerah desa. Kesibukan mahasiswa untuk terlibat dalam aktivitas kampus lambat laun menciptakan keengganan untuk merasakan apalagi menyelesaikan persoalan di pedesaan. Kesibukan mereka adalah bagaimana mahasiswa cepat selesai dengan nilai memuaskan dan cepat mencari kerja. Jadi kapan mahasiswa memiliki waktu untuk bercengkerama dengan orang-orang pedesaan?

Kedua, kita tahu bahwa hampir semua universitas sekarang berada sangat jauh dari lingkungan pedesaan atau sekarang cenderung berada ditengah kota missal UGM, UI, ITB, UIN dan yang lain. Dulu lingkungan universitas keberadaanya banyak diantara lingkungan masyarakat desa seperti UGM yang memiliki citra “kampus ndesa”, sehingga lebih bisa merasakan langsung penderitaan yang sedang dialami masyarakat desa. Sekarang ini, kalaupun ada keluhan atau pengaduan langsung dari masyarakat masih harus menunggu karena ada mekanisme birokrasi yang harus dipatuhi. Posisi universitas sekarang berada ditengah kota secara tidak langsung menjauhkan pergaulan mahasiswa dengan masyarakatnya. Intensitas pertemuan dan pergaulan mahasiswa dengan budaya kota ketika menjadi dominan memungkinkan mahasiswa menjadi lupa diri akan perannya dan lupa dengan tanggung jawab moralnya.

Bermuncullah kelompok-kelompok intelektual dengan kegemaran menjarah, merusak dan membinasakan lingkungan pedesaan, hutan dan habitat makhluk hidup. Mereka rubah budaya-budaya masyarakat menjadi obyek pasar dengan logika masyarakat konsumen. Para mantan mahasiswa berbondong-bondong ke desa dengan modal besar untuk menggusur mereka karena menjadikan citra buruk pembangunan. Lingkungan pedesaan kemudian disulap menjadi bermacam mega proyek untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.

Pangkat dan keilmuan sebagai salah satu sebab yang menciptakan strata sosial dan menentukan tingkat penghargaan di masyarakat, akan tetapi karena orientasi berfikir mahasiswa dibentuk dengan logika masyarakat kota, akhirnya menjauhkan dan memisahkan dirinya dengan kehidupan masyarakat. Ia bersikap masa bodoh terhadap persoalan yang dihadapi bangsanya yang tinggal di pedesaan karena terbius dengan kemegahan dan gemerlap kota karena menyediakan fasilitas yang serba lengkap. Pengaruh pendidikan tinggi sering menanamkan superiority complex sehingga gengsi menghalangi mereka untuk bergaul dengan masyarakat yang masih serba sederhana dan terbelakang. Sering terdengar mahasiswa yang cenderung bersikap oportunis dan hanya memikirkan dirinya sendiri.

Ketiga, kesalahan universitas kurang memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk bisa berkomunikasi dengan bahasa masyarakat pedesaan yang cenderung miskin terbelakang dan buta huruf. Program kuliah kerja nyata (KKN) sebagai bagian dari proyek keumatan universitas dipahami mahasiswa hanya sebagai bagian dari mata kuliah. Dalam implementasinya, mahasiswa mencoba seoptimal mungkin meraih nilai A dan mengindahkan muatan pemberdayaan, orientasi mereka adalah nilai bukan bagaimana mampu mencerdaskan masyarakat. Sekarang ini sebagian besar masyarakat pedesaan melihat kedatangan mahasiswa tetap diperlakukan sebagai orang kota yang perlu dilayani bukan malah sebaliknya; mahasiswa yang melayani masyarakat pedesaan dengan program-program dan misi universitas yang mencerdaskan.

Keempat, sekarang ini mahasiswa bahkan menjadi salah satu bagian dari persoalan itu sendiri ditengah masyarakat pedesaan dengan semakin meningkatnya pengangguran sarjana yang, dilihat dari angka pengangguran terdidik di Indonesia telah mencapai angka 740 ribu, angka yang fantastis pada tahun 2007 (Republika, 13/02/2008). Meningkatnya jumlah pengangguran sarjana erat dipicu ketidakmampuan mahasiswa untuk bersaing karena keterbatasan skill dan lemahnya pembacaan potensi, kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup, ketahanan ekonominya di tengah masyarakat. Sementara ini kemampuan universitas hanya memberikan teori-teori sedang aplikasinya masih sangat minim. Akhirnya universitas seperti tempurung yang memenjarakan mahasiswa dalam aplikasi intelektualnya ditengah masyarakat.

Kelima, ketika mahasiswa nampak mapan karena mendapatkan pasokan modal kaum kapitalis dengan garis perjuangan ekonomi-kompromis. Aktivis mahasiswa banyak terlena dengan kecukupan ekonomi-material dan enggan berkonflik dengan penguasa modal dan penyedot aset rakyat. Mereka menjadi lupa akan garis perjuangan dan hakekat mahasiswa sebagai bentuk respon solutif berbagai persoalan dan realitas keumatan yang muncul. Lebih parah apabila kemapanan normatif menjadi landasan gerak, mereka akan melihat realitas menggunakan kacamata kuda. Semua serba hitam-putih, baik-buruk dan tidak mampu berfikir dengan jernih.

Keenam, ketika mahasiswa disusupi tokoh-tokoh ”pejuang politik praktis” yang identik dan lebih dekat ke struktur elite penguasa plus janji-janji bergula di kursi birokrasi. Maka beramai-ramailah elite mahasiswa mensosialisasikan politik-kompromis dengan mau menukar idealisme dan komitmen keumatan dengan kepentingan material-pragmatis.

Kekacauan aktivitas mahasiswa sekarang ini lebih cenderung disebabkan orientasi gerakan yang berubah dari awalnya yang merupakan gerakan intelektual dan kultural menjadi gerakan politik. Dominasi warna politik ini bisa kita lihat dari peran mahasiswa yang selalu mempersoalkan dasar legitimasi mkekuasaan. Bukan satu kewajiban yang harus ditinggalkan, tetapi ketika orientasi politik lebih dominan maka akan menghambat terwujudnya daya kreatif yang tersimpan didalamnya (gerakan inteektual dan kultural). Juga mengutuk mahasiswa dalam kestabilan yang mantap, stagnan dan mandul. Keadaan ini bisa menimbulkan sikap pengunduran diri atau apatis, atau seperti yang dikatakan David Reisman, ”privatisme”: penekanan nilai-nilai yang paling tipis hubungannya dengan kehidupan sosial. Mahasiswa akan sibuk dengan diri sendiri dan mempersetankan lingkungan sosial.

Barangkali sudah saatnya bagi mahasiswa memikirkan kembali peran-peran yang selama ini sudah dilakukan, mari kita budayakan gerakan intelektual masuk desa dengan mahasiswa sebagai lokomotifnya sehingga kesadaran dari mahasiswa akan membuka jalan bagi kemajuan masyarakat pedesaan. Dengan pengabdian yang sepenuhnya dari mahasiswa kiranya berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, akan mudah diserap masyarakat pedesaan sehingga daya kompetisi dan kemampuan bertahan hidup masyarakat pedesaan meningkat. Cukuplah jangan terus menerus menghambur di kota-kota besar, desa merupakan peringatan sejarah bahwa disana pernah dilahirkan manusia yang kini menjadi “Orang Besar”.
READ MORE [...]

Youth Care Community (sebuah latar belakang)

Apa yang terlintas dalam benak kita tentang kemiskinan? Apapun itu, kemiskinan sepertinya telah menjadi pemandangan biasa dalam kehidupan kita. Hampir di setiap perempatan jalan kita melihat pengemis dan gelandangan yang menjadi wajah buram kemiskinan di sekitar kita.  Mungkin karena sering melihatnya, kita menjadi kurang empati dan peduli terhadap nasib yang menimpa saudara-saudara kita tsb. Padahal orang miskin (kaum dhuafa) jumlahnya mencapai 17,75 % dari 220 juta penduduk kita, kira-kira 39 juta orang!!!. Jumlah yang fantastis.

Ada baiknya sekali-kali kita merenung dan menyelami apa yang dirasakan saudara kita yang 39 juta orang itu, makan hanya sekali sehari bahkan sering tidak makan berhari-hari, tidur dipinggir jalan atau ditempat seadanya, tidak sekolah atau kuliah seperti kita, tidak pernah rekreasi ataupun jalan-jalan, dan hari-hari mereka dipenuhi tanda tanya apa yang bisa dimakan untuk sekedar mengganjal perut. 

Nasib mereka seperti lingkaran setan yang tak berujung. Karena orang tua mereka miskin/dhuafa, anak mereka akan senasib karena tidak bisa sekolah atau kuliah dan hanya jadi pemulung, pengamen, pengemis, atau buruh rendahan. Sementara amanah bagi kita (baik lewat Al-Qur’an atau UUD 1945) adalah mengentaskan kemiskinan. Dan semua itu bisa membuat kita tergerak dan membantu bila kita memiliki satu kata, kepedulian. Peduli pada nasib saudara-saudara kita yang tidak beruntung. Dan peduli tidak harus setelah kita jadi orang kaya lho…

Ada fakta yang fantastis. Sebagian dari orang miskin yang kadang kita anggap malas dan bodoh, ternyata memiliki niat dan keinginan kuat untuk BERSEKOLAH. Sekolah untuk memperbaiki nasib. Ini fakta yang setidaknya bisa kita lihat di Yayasan Sabilul Huda. Sebuah yayasan sederhana dengan spirit besar membebaskan para dhuafa dari kemiskinan. 

Di Sabilul Huda, puluhan anak usia SD-SMA tinggal dan belajar di sana, juga sekolah di sekolah-sekolah yang ada disekitar pondok. Mereka inilah anak-anak pemberani dan hebat yang ingin berilmu dan menaikkan derajat hidup diri dan keluarga mereka, yang berkemauan kuat untuk sekolah. Sayang kemampuan Sabilul Huda untuk menghantarkan mereka masih sangat terbatas. Banyak calon santri yang tidak tertampung karena keterbatasan fasilitas dan dana.

Berangkat dari keresahan itulah, kami pemuda-pemudi yang sering silaturahim ke Sabilul Huda berinisiatif membuat sebuah komunitas sosial. Komunitas yang bertujuan mengangkat harkat orang-orang miskin/dhuafa dari kemiskinan, melalui pendidikan yang gratis, berkualitas dan menanamkan keimanan dan moralitas. Komunitas sosial yang dikemudian hari diharapkan tidak hanya mampu menjadikan Sabilul Huda sebagai wahana membebaskan orang-orang miskin, namun juga berkontribusi di tempat-tempat lain yang menjadi kantong kemiskinan. 

Kami yakin dengan kepedulian dan upaya bersama, kita dapat membantu saudara-saudara kita keluar dari lingkaran kemiskinan. Dan Insya Allah kita akan mendapat ganjaran pahala dari Allah sebagai amal jariyah (amal yang tidak terputus aliran pahalanya) selama anak-anak yang kita bantu dan meningkat kualitas hidupnya, terus beramal, berilmu dan mengamalkannya.
READ MORE [...]

Capitalism was Failed

Konsep-konsep Kapitalis dianggap gagal, karena menyuburkan budaya eksploitasi manusia atas manusia lainnya, kerusakan lingkungan serta melupakan tujuan-tujuan moral dan etis manusia. Singkatnya, konsep yang ditawarkan Barat,  bukanlah pilihan tepat apalagi dijadikan prototype bagi negara-negara yang sedang berkembang. Namun demikian kita tak boleh menafikan bahwa pengalaman dari ekonomi pembangunan yang telah berkembang itu  banyak yang bermanfaat dan penting  bagi kita dalam membangun, meskipun relevansinya sangat terbatas.

Sistem kapitalis maupun sosialis jelas tidak sesuai dengan sistem nilai Islam. Keduanya bersifat eksploitatif dan tidak adil serta memperlakukan manusia bukan sebagai manusia. Kedua sistem itu juga tidak mampu menjawab tantangan ekonomi, politik, sosial dan moral di zaman sekarang. Hal ini bukan saja dikarenakan ada perbedaan ideologis, sikap moral dan kerangka sosial politik, tetapi juga karena alasan-alasan yang lebih bersifat ekonomis duniawi, perbedaan sumberdaya, stuasi ekonomi internasional yang berubah, tingkat ekonomi masing-masing dan biaya sosial ekonomi pembangunan.

Teori pembangunan seperti yang dikembangkan di Barat, banyak dipengaruhi oleh karakteristik unik dan spesifik, juga  dipengaruhi oleh nilai dan infra struktur sosial politik ekonomi Barat. Teori demikian jelas  tidak dapat diterapkan persis di negara-negara Islam. Terlebih lagi, sebagian teori pembangunan Barat lahir dari teori Kapitalis. Karena kelemahan mendasar inilah, maka teori tersebut tidak mampu menyelesaikan persoalan pembangunan di berbagai negara berkembang.

Ketika sistem ekonomi kapitalisme mengalami kegagalan maka peluang ekonomi syariah makin terbuka luas untuk menjadi solusi kerusakan ekonomi dunia. Diharapkan para ilmuwan dan praktisi ekonomi Islam saat ini dapat memanfaatkan  peluang besar yang sangat strategis itu dengan jihad iqtishadi dan ijtihad yang lebih kreatif dan inovatif dalam koridor syari’ah ilahiyah.

 Sistem kapitalis itu  akan terus menerus mengulangi kesalahan-kesalahan lama dan kejadian itu akan terus berulang jika sifat dasar, filosofi dan prinsip-prinsipnya  tidak diperbaiki. Sifat dasar kapitalisme memang dari awalnya sudah tidak ‘seimbang’ dan  tidak adil. Karena visi dan misinya  hanya mengutamakan ‘pemilik modal’. Pemilik modal sebagai motor penggerak, inisiator, leader dan otomotis juga sebagai penerima profitnya.. Pihak lain seperti tenaga kerja, profesional harus di bawah naungannya. Agar tidak terjadi lagi kesalahan-kesalahan yang menyengsarakan ummat manusia, maka tidak ada jalan lain, kecuali kembali ke sistem ilahi, pencipta manusia itu sendiri, yakni sistem ekonomi Islam (SEI). 

Sistem ini menempatkan aspek transendental sebagai prioritas dalam bangunan sistemnya dan SEI tidak saja menonjolkan aspek moral, tetapi juga menyuguhkan prinsip-prinsip ekonomi yang adil, melarang bunga (riba), spekulasi (transaksi derivatif), karena dalam Islam, uang bukan sebagai komoditas. 

Islam sangat mendorong  pertumbuhan  sektor riel, dan tidak memisahkannya dengan sektor moneter. Sektor moneter wajib terkait dengan sektor riel. Dengan kata lain, uang yang beredar harus seimbang dengan kegiatan sektor riel. Sedangkan dalam ekonomi kapitalisme sektor moneter benar-benar terpisah  sektor riel. Praktek bunga perbankan yang masih berkembang saat ini  merupakan aplikasi sistem kapitalisme yang menjadikan uang sebagai komoditas. Akibatnya rakyat dirugikan ratusan trilyun dan semakin miskin. Semoga Allah menunjuki kita untuk mengamalkan ajarannya dan meninggalkan riba.
READ MORE [...]

Shock Culture/ Kampungan

Deso (baca: ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, Countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.

Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya
terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara ceremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai Merk Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.

Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia seorang warga Negara Malaysia keturunan cina, sudah selesai S3, sekarang lagi mengikuti program Post Doc, Dia anak serorang pengusaha yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.

Satu bulan saya di jepang tidak melihat orang pakai hp communicator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca Koran ternyata konsumen terbesar hp communicator adalah Indonesia. Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi Negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang deso siapa yaa?

Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di jepang atau di Australia, baik dari penampilannya,
bajunya, kendaraannya, atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu pekerjaan dan jabatanya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang jepang diajak ke Pondok Indah bisa Pingsan melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah disana memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan.

Ketika Indonesia sedang terpuruk, Hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk, Negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak ceremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen
dan pengemis, tidak ada lagi WTS (di Malaysia "Wanita Tak Senonoh") , angka kriminal rendah, korupsi
berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso (alias norak) tidak mampu
mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah Negara normal atau bahkan mengikut Negara maju. Bayangkan ada daerah yang menganggarkan Sepak Bola 17 Milyar sementara anggaran kesranya 100 juta, wiiieh!

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat
mengerikan dari atas sampai bawah :
- Orang bisa antri Raskin sambil pegang hp
- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untk beli tv dan kulkas
- Orang bule mabuk krn kelebihan uang, Orang kampung mabuk beli minuman patungan
- Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
- Para Pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
- Orang beli Gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
- Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di cibubur
- Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk Mc Donald
- Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan.
- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin hp
- 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara tembang kenangan.
- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
- Agar kelihatan inklusif mk hrs bisa menggandeng siapa saja, kl perlu jin tomang jg digandeng

Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.

*) penulis: Hendra Kusuma, Putra Indonesia Asli, kini bertempat tinggal di Paris, Perancis dan bekerja sebagai Pembawa Acara di salah satu stasiun di Perancis.

http://www.mail-archive.com/karisma_honda@yahoogroups.com/msg44216.html
READ MORE [...]

Arti Sebuah Cinta


Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu mencintai seseorang, meski kamu tahu ia tak sendiri lagi, dan
meski kamu tahu cintamu mungkin tak berbalas, tapi kamu tetap mencintainya.
Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai, meski kamu tahu ia takkan pernah peduli. ataupun ia peduli dan mengerti, tapi ia tetap pergi.

Pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta, tersenyum kala terluka, menangis kala bahagia, bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah.

Aku pernah, aku pernah tersenyum meski kuterluka karena kuyakin Tuhan tak menjadikannya untukku.

Aku pernah menangis kala bahagia, karena kutakut kebahagiaan cinta ini akan sirna begitu saja.

Aku pernah bersedih kala bersamanya, karena kutakut aku kan kehilangan dia suatu saat nanti.

Aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya, karena sekali lagi, cinta tak harus memiliki, dan  Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku.

Aku tetap bisa mencintanya, meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku, karena memang cinta ada dalam jiwa, dan bukan ada dalam raga
READ MORE [...]

Cinta Memang Aneh

Mengapa kita menutup mata ketika kita tidur? Ketika kita menangis? Ketika kita membayangkan? Ini dikarenakan “hal terindah di dunia tidak terlihat”.   Kita semua aneh.

Hidup itu sendiri juga memang aneh, dan ketika kita menemukan seseorang yang dengan segala keunikannya ‘sejalan’ dengan kita,  maka kitapun bergabung bersamanya dan jatuh ke dalam suatu keanehan yang serupa, itulah yang dinamakan “cinta”. 

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan dan orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan.  Tetapi ingatlah, ‘melepas’ bukan berarti akhir dari kehidupan dunia ini, melainkan “awal suatu babak kehidupan baru”.   Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis, mereka yang tersakiti, mereka yang sedang mencari dan mereka yang telah mencoba mendapatkannya.  Karena merekalah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh pribadinya dan memberi ‘warna’ pada kehidupannya. 

Cinta itu agung ?!  Adalah ketika kamu menitikan air mata dan ‘masih perduli terhadapnya’.  Adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan kamu masih ‘tetap menunggunya dengan setia’. Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain  dan kamu masih bisa tersenyum sambil berkata, “aku turut berbahagia untukmu”.  

Apabila cinta tidak berhasil, bebaskan diri kita, biarkan hati kita kembali melebarkan sayapnya dan terbang lepas ke alam bebas.  Dan ingatlah… ! Bahwa ‘kita mungkin menemukan cinta dan kehilangan cinta’ itu, tetapi ketika cintapun mati kita tidak perlu mati bersamanya.  Orang terkuat, bukanlah mereka yang selalu menang, melainkan mereka yang tetap tegar dan tabah ketika mereka jatuh dan kalah.

Entah bagaimana dalam perjalanan kehidupan kita belajar tentang diri sendiri dan menyadari bahwa ‘penyesalan tidak seharusnya ada’,  tetapi hanyalah “penghargaan abadi atas pilihan-pilihan kehidupan yang telah kita buat” serta tetap ‘menikmati’ dan ‘mensyukuri’ dengan apa yang kita miliki dalam hidup ini,  walau terkadang ‘bertentangan’ dengan harapan dan impian.   Teman sejati…?!  Mengerti ketika ‘kamu berkata aku lupa’.

Menunggu selamanya ketika ‘kamu berkata tunggu sebentar’.  Tetap tinggal ketika kamu berkata ‘tinggalkan aku sendiri’. Membukakan pintu meski ‘kamu belum mengetuk dan berkata bolehkah saya masuk?’ 

Mencintai…?!  Bukanlah bagaimana kita harus ‘melupakan’, melainkan bagaimana kita harus ‘memaafkan’.  Bukanlah bagaimana kita harus ‘mendengarkan’, melainkan bagaimana kita harus ‘mengerti’.  Bukanlah apa yang harus kita ‘lihat’, melainkan apa yang telah kita ‘rasakan’. Bukanlah bagaimana kita ‘melepaskan’, melainkan bagaimana kita ‘bertahan’.  

Lebih berbahaya mencucurkan air mata didalam hati,  dibandingkan dengan menangis tersedu-sedu. Air mata yang terurai dapat dihapus dan dikeringkan dengan hanya selembar saputangan,  sementara air mata yang tersembunyi mengiris dan menggoreskan luka yang dalam dan tidak akan pernah hilang dan mengering,  bahkan mungkin selamanya akan ‘basah dengan darah yang bernanah’. 

Dalam hal cinta, kita sangat jarang mendapat kemenangan, tetapi ketika cinta itu tulus, meskipun kita kalah, kita tetap mendapat kemenangan,  hanya karena “kita berbahagia dapat mencintai seseorang lebih dari kita mencintai diri sendiri”. 

Akan tiba saatnya dimana kita harus berhenti mencintai seseorang bukan karena orang itu berhenti mencintai kita,  melainkan karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.  Apabila kamu benar-benar mencintai seseorang, jangan lepaskan dia,  melainkan berjuanglah demi cintamu itu. Itulah “cinta sejati”.  

Lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, daripada berjalan bersama orang yang tersedia.  Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai daripada bersama orang yang berada disekelilingmu.  Lebih baik menunggu orang yang tepat karena “hidup ini terlalu singkat untuk dibuang hanya dengan seseorang”.  

Kadangkala orang yang kamu cintai adalah orang yang paling menyakiti hatimu dan kadangkala teman yang membawamu ke dalam pelukannya dan menangis bersamamu adalah “cinta yang tidak kamu sadari”.
READ MORE [...]

Skenario Umar untuk KAMMI

Aktivis Lembaga Dakwah Kampus yang disebut-sebut sebagai ikon kebangkitan Islam di kampus terpanggil untuk mengarahkan dan mengamankan proses perubahan Indonesia, dan sepakat membentuk gerakan bernama KAMMI sebagai wadah perjuangannya. Hingga kemudian KAMMI tercatat sebagai salah satu motor gerakan reformasi Mei 1998. Sebuah kebanggaaan tentunya, namun pembicaraan tentunya tidak sampai disini saja karena kelanjutan gerakan (eksistensi) menjadi masalah serius. 
READ MORE [...]

Merokoklah... (sebuah pledoi panjang)


Gerakan satu catatan satu hari dilanjutkan, semua sekedar berbagi pikiran dengan kawan-kawan. Melanjutkan catatan terakhir facebook yang sempat aku janjikan di akhir catatan. Tema kali ini seputar pembelaan perokok. Lagi-lagi dalam bahasa kesederhanaan, lugu dan heboh. Sebelum melanjutkan, aku beri tahu bahwa catatan kali ini hanya dikumpulkan dari berbagai sumber baik yang dipercaya maupun tidak.

Kenapa selalu saja rokok jadi masalah? Padahal dalam ajaran agama dan pendidikan pancasila, kita tidak boleh saling menyalahkan. Toleransi itu bukan hanya antar umat beragama tapi antar perokok dan tidak perokok juga harus saling menjaga toleransinya agar negara kita ini maju.
READ MORE [...]

23 Wajah Manusia di Wall Facebook




1. Manusia Super Update
Kapanpun dan di manapun selalu update status. Statusnya tidak terlalu panjang tapi terlihat bikin risih, karena hal-hal yang tidak terlalu penting juga dipublikasikan.
Contoh : “Lagi makan di restoran A..”, “Dalam perjalanan menujuneraka..”, “Saatnya baca koran..”, dan sebagainya.
READ MORE [...]

Ibu atau Negara (hold your breath!)


Catatan sederhana kali ini sebenarnya ingin bercerita tentang melodrama century namun urung, berhubung sampai saat catatan ini kubuat belum juga selesai rapat pandangan akhir pansus century. Tema dialihkan dengan menyoal kerja SBY yang terganggu karena ibundanya sakit.

Walaupun presiden sudah memiliki pembantu (baca: menteri) yang sangat banyak, tetap saja menjadi orang yang super sibuk di negeri ini. Saking sibuknya setiap ada rakyat yang "mengadu" ke istana negara, dia tidak sempat melayani karena harus ke luar negeri, atau sedang di luar kota. Pembuktiannya sangat mudah, lihat ribuan massa yang hadir selama bulan februari di Istana Negara, Monas, dan Bundaran HI, sulit menemuinya.
READ MORE [...]

Misteri B-07 (sederhana saja)

Gerakan diskusi dan menulis kembali menguat. Stimulan yang hadir dari anak muda yang menghidupkan suasana diskusi di malam-malam kontrakan yang diberi nama B-07. Berbicara tentang nama B-07 sendiri tidak lepas dari peniruan nama kontrakan-kontrakan yang ada di Jogja. Berhubung dalam lingkaran "ikhwah" maka begitu banyak nama kontarakan selalu memakai nama-nama yang menggunakan bahasanya Abu Jahal. Ups, bukan maksud menghina tapi memang Abu Jahal menggunakan bahasa arab, lain ceritanya dengan Karl Marx. Dia tidak bisa menggunakan bahasa arab. Berandai kalau si Karl Marx bisa berbahasa arab, mesti dia akan menjawab bahwa solusi melawan kapitalisme dan perlawanan kelas dengan mencontoh bagaimana Islam menjawab urusan kapital dan kelas.

READ MORE [...]

Please, Jangan dibaca! Jangan!

Malam ini menarik juga. Diskusi panjang tentang KAMMI, Century, Negara, Bisnis (baca: proyek), KPK, dan tentu saja lagi-lagi PKS. Sayang tidak banyak yang ikut. Hanya 4 orang saja dan sambil makan nasi penyet tempe telur.
Aku, Nendi (KAMDA Sleman), Arif (x-BEM KM UGM), dan Lakso (X-BEM KM, Garda Intelegensia).

Jadi ingat dengan Lenin tatkala akan menciptakan imperium sosialis. Tidak butuh banyak orang. Tapi kali ini kita bukan mau mendirikan imperium. Sederhana saja, memperkuat gerakan ekstra parlementer melalui KAMMI, BEM, LSM dan forum diskusi, dan paling utama kaderisasi ide dan gagasan. Kalau yang terakhir seperti "brainwashing". ckckck...

READ MORE [...]

Pesan Hidup Dari Bocah Penjual Koran

Dari tadi pagi hujan mengguyur kota tanpa henti, udara yang biasanya sangat panas, hari ini terasa sangat dingin. Di jalanan hanya sesekali mobil yang lewat, hari ini hari libur membuat orang kota malas untuk keluar rumah.

Di perempatan jalan, Umar, seorang anak kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah, dia membiarkan tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia begitu erat melindungi koran dagangannya dengan lembaran plastik.

“Korannya bu !”seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan.

Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan kasihan, dalam hatinya dia merenung anak sekecil ini harus berhujan-hujan untuk menjual koran. Dikeluarkannya satu lembar dua puluh ribuan dari lipatan dompet dan membuka sedikit kaca mobil untuk mengulurkan lembaran uang.
READ MORE [...]

Ayah, Maafkan Dita

Ini adalah kisah yang sangat mengharukan. perlu dibaca dan disadari betapa pentingnya kesabaran. berpikir sebelum bertindak. waktu tidak bisa diputar balik. terutama bagi Yang sudah lama jadi Orang tua, baru akan punya anak dan yang akan membina rumah tangga, dan bagi semua orang. Thanx my brother Rizky.

Sepasang suami istri (seperti pasangan lain di kota2 besar meninggalkan anak2 diasuh pembantu rumah tangga sewaktu bekerja).
Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Ia sendirian di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.

Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
READ MORE [...]

Maafkan Aku Kawan...


sbnrnya aku ga mw menjelaskan ini kpdmu, planku saat ada evaluasi pendakian ancagar sj. tp bbrp ank ancagar menanyakan mk akan kuberi jawaban jg padamu.

bagiku utk mengenal seseorang mk bs diliat dr buku2 yg dibaca, teman2ny, dan saat pendakian.

knp aku mlakukan tindakan kasar saat itu.
1. aku btanggungjawab ke tim, semua hrs selamat. apri sbg sweaper mlakukan ksalahan fatal. dia ga lapor ttg break yg diminta, qt tau, break tlalu lama akn mbwt qt down, males, nambah ngantuk. hitunganku, waktu break kalian b2 saat itu sdh lama. pdhl waktu sdh siang.

READ MORE [...]

Cerita Malam (15-16 Juli '09)

Kuraba jiwamu yang bersahabat
Kedipkan suasana hati

Seiring sepi menjepit sukmamu

Seorang bijak 'kan memahami

Cinta bukan dicari

Cintapun hadir sendiri
(restu bumi - Dewa19)


15 Juli 2009
pk.05.15

aku sangat ngantuk. tadi malam nonton film Dragon Wars, Dragon Ball Evolution, dan X-Men Wolverine. Selepas shubuh, kepalaku pusing. akhrirnya kurebahkan tubuhku. meringkuk dalam kamar yang dingin.

pk.09.50
terbangun. mengingat janji-janji hari ini. kunyalakan komputerku, winamp kuputar, lagu-lagu saujana dan gradasi menggema di kamarku. beranjak dari kamar, raup di kamar mandi dan mengambil wudhu, aku mau dhuha.

pk.11.00
kuambil buku Annapurna, membaca beberapa halaman. kumatikan winamp dan mendengar radio, mengalun musik-musik jazz, senang rasanya mendengar saxopone, piano, dan biola.

pk.12.00
kudengar adzan zuhur dari masjid Uswatun Hasanah dan Al Hidayah. Mandi dan memilih sholat di Al Hidayah. sekembalinya dari masjid, aku beli makan di warung padang Buyung, my fave, sambal ijo, bumbu rendang, lauk gulai ati ampela dan semangka. dahsyat. selesai makan, main game strategi. sebenarnya mau berangkat kerja tapi di luar panas terik. enakan di kamar, adem. maen game, baca buku, buat artikel. betahan di kamar dh.

pk.15.15
sholat di masjid Uswatun. bersiap mandi untuk rapat pekerjaan berikutnya di alun-alun selatan. amanah baru ini kurasa lebih menantang. divisi pemberdayaan pemuda, bidang yang belum pernah kutekuni. berkumpul di alun-alun selatan. beberapa pengurus intinya sudah kukenal, kesemuanya aktifis kampus. sampai bulan september, jadwal agenda tim sudah penuh. semangatku menggelora.

pk.18.20
makan malam dengan seorang kawan di warung sebelah DPW PKS DIY. kita berdiskusi tentang KAMMI, PKS, UGM, dan lembaga yang kita geluti sekarang. selesai makan, aku memilih ke Tazkiyah, menjenguk srikandi fajarku.

kulirik jam tanganku, pk.19.10. wajahnya sudah tidak pucat, tersenyum, tertawa, dia memang lucu, unik, dan menyebalkan. beruntung telah menjadi sahabat dan saudara baginya. beberapa hari belakangan aku selalu menghubunginya, sakitnya bahkan membuatnya pasrah saat itu, aku panik. obrolan yang berlangsung 2jam. semua tentangku, kamu, ancagar, lutfi yang memutuskan pindah ke lamongan, keinginanmu yang ingin belajar menulis artikel, mengajakku lomba karya tulis namun kutolak, aku memilih ikut lomba sajak.

kmu punya julukan yang aneh buatku, "pujangga malam", aku tersanjung srikandi fajarku tapi itu berlebihan. aku lebih senang dengan ikhwankiri, pengelana malam atau beruang madu, seperti cara dewi malam meledekku.

pk.21.40
aku ke LP Pogung Lor. menyapa seorang kawan, yang baru tiba dari medan. asap rokok mengepul di sekelilingnya. omongannya dahsyat. lama tidak kudengar cerita-cerita tentang kehidupan di medan. rimba, itu kesimpulanku. makian-makian yang terlontar khas medan kudengar di sela-sela ceritanya. lama tidak kudengar.

aku berpikir antara kangen dan semakin menjauh dari medan. jiwaku sudah di jogja kukira tapi kata seorang kawan, "kalau kita mau maju, keluar dari jogja, menyamankan kawan".

pk.24.00
aku pulang ke B-07. home sweet home. kunyalakan komputerku. kudengarkan lagu-lagu padi, peterpan dan aerosmith. browsing di dunia maya. facebook, situs-situs pendakian, lomba esei, blogku, men-download lagu-lagu dan serial novel lupus.


16 Juli 2009
pk.01.20
nonton film Fast and Furious4. selesai nonton mataku belum bisa terpejamkan untuk segera tidur. kubuka folder ebook di komputerku. ehm... baca novel lupus. kangen banget dengan ceritanya. dulu ada serial tv-nya, irgi ahmad, mona ratuliu, nia paramita, dll. wajib tonton.

pk.03.00
aku keluar rumah. kuambil kursi dan duduk di tengah halaman rumah. kupandangi langit malam, seandainya aku bisa terbang maka aku akan segera menuju ke awan-awan yang seperti menyelimuti bulan. aku mulai berpikir tentang masa lalu, mengingat beberapa pendakianku bareng FORBA dan Ancagar, aktifitasku di KAMMI yang kini telah usai, mulai merubah beberapa life planning. setengah jam waktu berlalu, udara terasa lembab, tubuhku mulai menggigil. aku masuk ke dalam kamarku. 1 jam lagi Shubuh. komputerku masih menyala, kuputar winamp dengan lagu-lagu Gradasi, Sujana dan Suara Persaudaraan.

pk.04.35
ke masjid al hidayah. mataku sudah mulai berat, kepalaku pusing. kuraup kembali wajahku di tempat wudhu masjid.

pk.05.30
selepas tilawah singkat, kurebahkan tubuhku. migrain.
zzz...
READ MORE [...]

Lupakanlah, Aku Bukan Matahari


Maaf bila melupakanmu Satu hal yang telah terbiasa Kuberjanji tak kan berbuat Satu kesalahan yang sama

Sebenarnya aku harus bergerak kembali. Terlalu lama mengurung diri di kamarku. Biasanya kamarku dapat memberikan inspirasi. Melihat poster Vertical Limit, darahku kan bergejolak untuk melakukan petualangan kembali. Tidak harus mendaki, mungkin backpacking atau touring. Membaca buku-buku dan artikel-artikel di komputerku pun dapat memberikan gagasan menulis. Mendengar radio akan mengantarkanku ke alam hayalku. Tapi kali ini berbeda, aku kehilangan keberdayaan. Beberapa malam kuhabiskan dengan tidak tidur pun mulai kehilangan makna.

Aku mulai kehilangan siapa diriku. Orang yang kini kuharapkan bersamaku pun mulai menghindar. Pertanda yang tidak menyenangkan. Kesalahan apa kutak tau. Mungkin saatnya kumenyerah. Tibakah waktuku tuk rehat atau malah habis. Menyongsong 'kematian' ikhwankiri yang selama ini menjadi kebanggaanku. image perlawanan yang kubangun, trademark gerakan yang kuciptakan.

Dan sedihku tak kuujinkan Membawa semua kebahagiaan

Aku seperti sedang mencari kembali benih pengharapan. Berkutat pada pencitraan baru siapakah seonggok Yudi ini. Tapi serasa aku bukan diriku. Cap 'kenakalanku' telah kubangun dengan kesempurnaan bangunan istana yang megah. Atau aku kembali melongok pada sejarahku, tiba-tiba berharap waktu kembali dan menjadi hipokrit. Aku tidak mau. Aku punya sejarah. Aku telah lahir dan tidak kan dapat ditarik dari sejarah.

Aku sadar, yang kulakukan tidak dimengerti orang-orang, tapi dari dulu aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang. Aku punya pilihan dan kupilih semua dengan caraku. Ini jalanku.

Terkutuk bila aku Melepaskan cintamu itu Hanyalah satu asa Yang harus lakukan

Kupandangi seluruh isi di kamarku. Komputer yang senantiasa menemaniku, rak-rak kayu penuh buku-bukuku, tivi tercintaku, tape/radio kecil yang memperdengarkan lagu-laguku, gitar, perlengkapan tempur pendakianku, ah... kalimat-kalimat indah yang tertempel di dinding kamarku... Lupakanlah...

Kulirik pintu kamarku, terpajang foto pendakianku pertama. Betapa pasca itu aku sangat mengagumi gunung, keindahan awan-awan, kabut-kabut yang menutupi jalan-jalanku. Keangkuhan untuk menaklukan gunung kini berubah menjadi sebuah kecintaan. Semua kegalauan dan pertanyaan terjawab tuntas.

Ingin aku melupakanmu Berhenti tak membayangkanmu Satu hari saja ku coba Tapi memang kutak terbiasa

Seolah kaki dan tanganku kini teramputasi. Aku tak bergerak. Mencoba diam dan bersembunyi di kamarku, sebuah tempurung raksasa. Anganku melayang. Semua impianku mulai kosong. Perencanaanku buyar seketika.

Kuarahkan kepalan tanganku kepada tembok kamarku. Ah... Biarlah sakit, tak mengapa. Biarkan terluka, biarkan membengkak. Agar tenang jiwaku, menemukan kembali siapa aku. Melupakan kalau aku matahari dan melepaskan malam-malamku.

sang lelaki kelas dua
(lirik perihal cinta - Gigi)
READ MORE [...]

Fool On Fire


When I couldn't breathe
Let the night heal my soul
let the moon and stars take control

I wanna laugh i wanna cry
I cross my heart and hope to look for
Till it's over and then

Time can never mend
The careless whispers of heart or mind
Go insane and out of my mind

Oh...
The sky caves in
Go ahead put my rhymes on trial
Cast me off into exile
Won't come in from the rain
Sees oceans running down the drain
Blue as ice and desire

And these memories lose their meaning
One more for hire, a wonderful liar
When I think of love as something new,
Though I know I'll never lose affection

But if this ever changin
In which we live in
Makes me give in and cry
Makes me feel the way I feel
Say live and let die

No...
Never thought it would end up this way
Here and now, still somehow
I'll do the best that I can
To turn it around

But not! It wasn't that way
Dreams last so long
Even after i was gone

Ah...
I kind of noticed from one night
Trying to remember where it all began
I was got myself a little piece of heaven
Waiting for the time when earth shall be as one

Ectually...
There's no comfort in the truth
Pain is all i'll find
I think it's time we all should come clean
If i'm lost i can look and i will find you

(die-, 22 Juni 2009)
READ MORE [...]

Hitam dan Putih


Dibatas lelah
Kuhentikan, langkah hidup ini
Mungkin harusnya aku mengerti
Semua adanya
Bila... kubayangkan warna hidupku

Lama kunanti saat-saat ini. Keyakinan yang telah kuragukan pasca pertemuan di pendakian gunung Sumbing, 12 Juli 2008. Lama kuberpikir dan keraguan besar itu hadir. Ragu-ragu mundur saja. Kuputuskan melupakannya. Benar-benar terlupakan. Namun pertemuan tidak dapat dihindari. Setelah berkali-kali bertemu, kami makin akrab. Seiring komunikasi yang intens terjadi, kembali kumengingatnya.

Melanjutkan keyakinanku terdahulu. Berkali-kali kumendaki gunung, bertanya pada gunung dan gemerlap bintang. Keraguan tetap hadir. Kuminta pendapat kawan-kawan. Keraguan itu hadir dalam alasan tidak jelas. Pikirku, ini hanya tantangan.

Kulukis dunia hitam dan putih
Yang hanya berselang
Tawa... Tangis...

Dalam dunia hitam putih maka yang ada jawaban ya atau tidak, benar atau salah. Satu bulan lebih yang lalu, aku telah meminta untuk segera diselesaikan. Tersanggupi. Namun 'perang' yang terjadi menghentikan yang sedang terjadi. keraguan itu menyeruak begitu saja. Tapi kali ini berbeda, keraguan malah meyakinkanku. Seperti pandanganku pada Tarbiyah dan KAMMI, malah meyakinkanku pada pilihan gerakku. Semua harus dituntaskan.

Dua pekan lalu, keyakinanku kurealisasikan. Walaupun sebuah fakta, sahabatku pun bergerak untuk hal yang sama dan kuketahui ada orang lain pula. Sahabat bagiku sangat penting, kudorong dia untuk maju walaupun disaat yang sama aku turut maju. Salahkah.

Ada saat
Kutenggelam, dilumpur-lumpur
Kupastikan, kuhempaskan
Diriku di jalanan lurus
Semua itu harus tertelan pahit dan manis

Kamis itu di masjid kampus, usai sudah. Keyakinanku menjadi fakta. Usai sudah tanpa perlawanan yang berarti. Diputuskan. Sebuah lagu terngiang di kepalaku. "hadapi dengan senyuman, semua yg terjadi, biar terjadi... hadapi dengan tenang jiwa, smua kan baik-baik saja... relakan saja ini bahwa smua yang terbaik, terbaik untuk kita semua, menyerahlah untuk menang..."

Simpul senyum pun terkembang, tawa mengalir renyah. Tapi semua berakhir. Kusepakati apapun yang menjadi komitmenku. Ah... Laki-laki, apa yang bisa dilakukannya selain menepati janjinya. Kuberjanji... Telah berjanji.

Aku memang manusia
Yang takkan mungkin harus selalu putih
Akupun tak ingin terlukis hitam lagi
Biarlah hidup berjalan lagi apa adanya

Kutinggalkan masjid kampus. Aku ingin mendaki tapi ku tak bisa. Kuhentikan laju motor di boulevard. Diam memandang Merapi di utara, tegak dengan gagahnya. Aku harus seperti dia. Angkuh pun tak mengapa. Temaran senja hadir begitu cepat. Keyakinan pun buyar seketika.

Aku lupa harus segera ke Sardjito. Ada yang menungguku. Aku menjadi Merapi. Kutegakkan kepala, senyum tersimpul, hiburku dalam canda tawa. Menipu diri sendirikah? Kepada Putri Matahari, kuungkap kejujuran.
Sangat pantas diperjuangkan, kan kuperjuangkan. Tapi aku laki-laki, ucapan dan tindakanku menjadi komitmen walau perih. Komitmen kujaga erat.

Hitam... Putih...
Pahit... Manis...
Tawa... Tangis...
(lyric by Dewa19, Hitam dan Putih)


"Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak seorangpun dapat menahannya dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu" (QS. Fatir 2)
READ MORE [...]

Before Sleeping

mmh...

apa yang kalian lakukan sebelum tidur?
klo aku, ada 12 hal yang akan kulakukan sebelum tidur.

1. ke kamar mandi
2. minum segelas air
3. menutup pintu kamar
4. membuka baju
5. menyalakan kipas angin
6. mematikan komputer
7. menyalakan tv/radio
8. manyanyikan 1-2 lagu dgn gitar
9. membaca buku/majalah
10.menyalakan alarm jam dan hp
11.mematikan lampu
12.evaluasi hr ini dan agenda esok hari

lalu mulai rebahan dan ...zzz...
klo dihitung, proses sblm tidur bisa memakan waktu 30 menit sampai 1 jam.
nah, bagaimana dgn kalian?

ada yg lebih menarik....
READ MORE [...]