Showing posts with label umum. Show all posts
Showing posts with label umum. Show all posts
Takwil dan Hermeneutika
Posted by
Maringan Wahyudianto, SH
Labels:
umum
Prof. Nasr Hamid Abu Zayd dalam mengatakan bahwa: "Hermeneutik dalam bahasa Arab adalah takwil. Takwil adalah metode yang sangat-sangat Islami untuk memahami Al-Qur'an. Tidak peduli Anda Sunni, Syiah, atau apa, Anda perlu menginterpretasi Al-Qur'an. Hermeneutik adalah teori untuk menginterpretasi Al-Qur'an." Pada poin ini terjadi konfusi dan kerancuan terjemahan terminologi. Hermeneutika, mengingat alur pemikirannya di Barat, lebih tepatnya diterjemahkan sebagai: falsafat al-fahm (filsafat pemahaman teks) atau fahmu al-fahmi (memahami pemahaman teks), bukan takwil atau falsafat al-takwil. (lihat 'Adil Musthafa: Fahmu al-Fahmi Madkhal ila al-Hermeneuthiqa, Ro'yah for Publishing & Distribution, 2007). Sama halnya dengan kekeliruan menerjemahkan sekularisme dengan al-'Almaniyah/al-'Ilmaniyah (yang berkonotasi ilmiah, berlandaskan ilmu dan sains), yang seharusnya lebih tepat dipadankan dengan istilah "al-Huna - al-Aniyah" (kedisinian dan kekinian).
Beda Takwil dengan Hermeneutika
Sebenarnya tidaklah sulit bagi kita, apalagi sekelas Prof. Abu Zayd, untuk membedakan konsep takwil dalam tradisi keilmuan Islam dengan konsep Hermeneutika di Barat.
Pertama, dari sisi etimologis saja padanan dua kata itu tidak dapat dikatakan sama. Karena orientasi takwil itu adalah penetapan makna, sementara orientasi hermeneutika itu adalah pemahaman yang berubah-ubah dan nisbi mengikuti pergerakan manusianya. Kekeliruan penerjemahan istilah peradaban lain ke dalam kamus peradaban kita, disadari atau tidak, akan dapat merusak konsep istilah keilmuan kita yang telah mapan.
Kedua, dari segi latar belakang historisnya. Sebagaimana maklum, metode hermeneutika lahir dalam ruang lingkup yang khas dalam tradisi Barat-Kristen. Perkembangan khusus dan luasnya opini tentang sifat dasar Perjanjian Baru, dinilai memberi sumbangan besar dalam mengentalkan problem hermeneutis dan usaha berkelanjutan dalam menanganinya. Hal ini berbeda dengan Alquran. Tidak ada alternatif pemahaman selain bahwa Alquran, seluruh redaksi dan maksudnya langsung dari Allah swt. Nabi Muhammad saw menjadi sekadar "Juru bicara ada" (loudspeaker of being). Status otoritatif yang diduduki Alquran tidak pernah dipertanyakan lagi, yang disebabkan dua hal:
- Alquran sendiri dengan tegas menekankan teori ini dan tidak menyediakan ruang untuk spekulasi. Nabi tidak pernah gagal menarik garis yang tegas antara kata-katanya dan kata-kata dari Alquran.
- Kaum Muslim tanpa ragu meyakini bahwa di tangan mereka, huruf, kata, kalimat dan sistematika Alquran tetap terjaga seperti keadaannya di masa Nabi.
Dua faktor ini, dan ditambah fakta bahwa Alquran mengandung prinsip-prinsip penafsiran dalam dirinya sendiri, mempersulit tematisasi problem hermeneutis dalam Islam, suatu hal yang di Barat dipaksakan kemunculannya oleh kebutuhan mendesak. Belum ada seorang pemikir Muslim pun yang pernah mengajukan problem ini sebagai tema utama pemikirannya.
Metode Takwil di Tengah Tarikan Humanisme Sekuler-Liberal
Wacana kaum sekuler-liberal dengan semangat mempropagandakan takwil sebagai brand untuk membaca Al-Qur'an di era modern ini. Oleh karena istilah takwil ini adalah istilah yang sering digunakan Al-Qur'an (paling tidak 17 kali) dibanding istilah tafsir (hanya 1 kali), maka dengan mudah dimaknai untuk kepentingan dan target ideologis yang hampir dipraktekkan oleh seluruh sekte-sekte sempalan dalam setiap agama, tak terkecuali Islam, dalam membaca dan menafsir ulang teks-teks kitab suci.
Takwil dalam pandangan kelompok liberal dan sekte sempalan lainnya adalah batu karang kokoh yang akan memecah kesatuan sistem pemikiran Islam yang telah dikonstruksi dengan teliti dan seksama oleh para ulama muslim selama kurun perjalanan Islam sebagai agama sekaligus peradaban. Dengan mengendarai tumpangan takwil inilah, mereka berupaya untuk melakukan kontribusi penghancuran dan perusakan Islam dari dalam secara mengerikan. Melalui mekanisme takwil itu, teks suci Islam dijebol pemaknaannya dengan cakrawala ijtihad "modern" dengan mengajukan tawaran superioritas realitas hidup manusia yang terus berubah, terutama ke arah keburukan, untuk dibenturkan dengan ajaran ideal normatif dari teks suci, dengan harapan teks dapat dikuasai, dikendalikan dan diarahkan maknanya oleh realitas manusia yang jauh dari idealisasi teks Al-Qur'an dan sunnah nabi.
Modus pemikiran semacam inilah yang telah menyebabkan mereka secara membabi buta membela terminologi takwil dalam konteks penafsiran kitab suci. Takwil yang telah sekian lama ditinggalkan dan dikubur oleh otoritas agama kemudian diangkat dan dihidupkan lagi, serta diposisikan sebagai pihak 'terzalimi' dan 'tertindas' di tengah pertarungan ideologi dan otoritas keagamaan. Meminjam bahasa Nasr Hamid, bahwa selama perjalanan panjang tradisi keilmuan Islam, para ulama Islam melakukan praktik belah bambu; "mengangkat nilai tafsir" dan "menginjak, meremehkan nilai takwil", menerima yang pertama dan kemudian menolak yang kedua dengan stigmatisasi kekufuran dan kesesatan bagi ilmuan yang mempraktekkannya dalam upaya penafsiran kitab suci. (Abu Zayd: Mafhumu al-Nash; Dirasah fi 'Ulumil Qur'an)
Konsep orisinalitas takwil dalam tradisi keilmuan Islam yang telah dikenal baik dan dipraktekan dengan apik selama berabad-abad ini pun telah direduksi dan ditelanjangi dari berbagai batasan dan aturan yang melingkupinya oleh sang kampiun ahli sastra (dan belakangan dipuja pengikutnya sebagai pakar Al-Qur'an!). Konsep itu tidak lagi dimengerti sebagai pengalihan suatu lafal kepada makna lain yang dimungkinkan berdasarkan dalil kuat (secara bahasa, adat dan syar'i), yang tanpanya ia tidak boleh sembarangan dialih makna. Sehingga menjadi semacam proses dekonstruksi yang menghancurkan sistem keterkaitan antara teks dan pemiliknya, dan antara makna dan segala kemungkinan arti yang diakomodasi oleh dalil yang kuat itu tadi.
Bagi Nasr Hamid dan semisalnya konsep tafsir dalam 'Ulumul Quran klasik tidak cukup untuk memuaskan kepentingan ideologisnya yang lebih berpihak kepada realitas manusia dan hukum-hukum yang disadur dari deklarasi HAM ala Barat. Konsep tafsir yang sudah matang atau "gosong" (meminjam istilah Prof. Amin Abdullah) itu hanya bertujuan untuk menyingkap kehendak pemilik teks dan makna yang dikandungnya. Tentu saja hal ini tidak memuaskan kepentingan ideologis kaum liberal, yang berupaya lebih dari itu untuk mengosongkan teks dari makna dan maksud pemiliknya untuk diisi dengan konsepsi-konsepsi ideologis berlatar HAM dan modernitas ala Barat; tentu dengan mengusung terminologi takwil yang dipraktekkan sewenang-wenang tanpa batasan (hudud) dan aturan (dlawabith).
Pola Kerja Metode Takwil yang Ideal
Penulis setuju dengan pendapat bahwa bahasa teks sebagai sumber tak pernah kering bagi keragaman pembacaan (at-Ta'addud al-Ta'wîlî, meminjam istilah Abu Zayd). Tetapi patut dicurigai pula bahwa bahasa memiliki sifat untuk mengelak (murâwaghah) dan liar jika tidak dibatasi oleh pagar-pagar metodologis. Dengan demikian amat penting untuk membedakan dua tingkatan dalam menentukan sistem penandaan suatu makna (dalâlah). Pertama, tingkatan dalâlah yang bersifat sistemik dan kolektif, melalui prosedur-prosedur penciptaan makna secara leksikal (perkamusan), gramatikal (nahw), filologi (fiqh lughah, balaghah dll), dan Kedua, tingkatan dalâlah yang non sistemik-individual yang memberikan ruang luas untuk proses qiro'ah dan ta'wil. Seorang penafsir dituntut untuk menjaga 'equillibrium' pola pikir individual non sistemik dengan pola kerja sistemik yang kolektif. Tidak boleh pola pikir individual seorang penafsir menodai memori kolektif bagi suatu takwil yang justru dapat menyelamatkannya dari kesesatan. Sebaliknya pola kerja sistemik yang kolektif tetap bisa menyisakan ruang bagi imajinasi individu sang penafsir sesuai dengan tambahan pengetahuan dan kekayaan pengalaman hidupnya.
Pola kerja kolektif dalam proses takwil misalnya terumuskan dengan baik oleh otoritas keilmuan Islam dengan istilah 'dalil' (didukung argumentasi kuat) dan 'la'b' (permainan kata-kata yang terlepas dari dalil maupun ta'wil). "Man yadzhab ila al-ta'wil yaftaqir ila al-dalil", siapa yang mau mentakwil maka ia memerlukan indikator kuat. Rumusan mereka bahwa "Nash memiliki dua macam dalâlah yaitu penandaan lafaz atas maknanya dan penandaan makna yang telah ditunjuk oleh nash atas makna yang lain" ('Abdul Qâhir al-Jurjâni: Dalâ'il al-I'jâz) dan bahwa "Lâ mathmaha fi al-wushul ila al-bâthin qabla ihkâm al-zhâhir", tidak ada harapan sampai kepada makna batin teks sebelum meraih makna zahirnya (Al-Zarkâsyi: Al-Burhân fi 'Ulum Al-Qur'ân), mengindikasikan kuatnya memori kesadaran kolektif disamping memperhatikan aspek 'ma'tsur' (sabda dan perilaku Rasul, sebagai penafsir utama) dalam proses pentakwilan. Oleh karena itu dibutuhkan nilai pertanggungjawaban atau akuntabilitas dalam setiap upaya takwil sebagai akibat perimbangan nilai individual dan kolektif.
Sehingga akhirnya, penulis sepakat dengan apa yang dilontarkan Musthafa Nashif (Mas'uliyyat al-Ta'wil: 2004) bahwa kemunculan takwil dalam lingkungan tradisi Islam terkait dengan upaya menjaga keseimbangan dan merupakan wujud dari pemberian kesempatan bagi kehidupan yang berubah dengan cepat dan pengakuan terhadap kerangka dasar dan otoritas sekaligus.
(Fahmi salim, MA)
0 comments 25 November, 2010
Kultwit Bisnis IJP
Posted by
Maringan Wahyudianto, SH
Labels:
umum
Pelajaran 1: Dlm bisnis, gertak dulu mitra bisnis anda. Klaim apapun yg ada di Indonesia.
Pelajaran 2: Dlm bisnis, apapun mungkin. Yg tak mungkin itu hanya kemungkinan.
Pelajaran 3: Dlm bisnis itu, modal tak jadi soal. Mulut manis dan penampilan adlh modal.
Pelajaran 4: Dlm bisnis itu yg penting bisnisnya sementara yg lain tdk penting. Ini indonesia, hahaha.
Pelajaran 5: Dlm bisnis itu, baik swasta atau BUMN, kompetensi tak penting, krn yg penting adlh kepentingan.
Pelajaran 6: Dlm bisnis itu, kalau anda pemain baru, mk anda spt masuk bunker baja yg di dlmnya sudah sesak dg apapun bisnisnya.
Pelajaran 7: Dlm bisnis itu yg baru2 hrs+wajib lbh mengandalkan Good Corporate Governance, smtr yg lama Bad CG.
Pelajaran 8: Dlm bisnis itu tak ada bisnis yg ada teori2 bisnis yg cepat usang krn iklim bisnis spt udara gurun pasir tandus.
Pelajaran 9: Dlm bisnis itu otoritas adlh otoritas non bisnis, spt politik, keturunan, klpk2 nepotis, atau kecoak2 simbolik.
Pelajaran 10: Dlm bisnis itu ya lupakan pelajaran 1-9, kembangkan sj apa yg kamu punyai sebelumnya. (Ini yg paling benar).
Pelajaran 2: Dlm bisnis, apapun mungkin. Yg tak mungkin itu hanya kemungkinan.
Pelajaran 3: Dlm bisnis itu, modal tak jadi soal. Mulut manis dan penampilan adlh modal.
Pelajaran 4: Dlm bisnis itu yg penting bisnisnya sementara yg lain tdk penting. Ini indonesia, hahaha.
Pelajaran 5: Dlm bisnis itu, baik swasta atau BUMN, kompetensi tak penting, krn yg penting adlh kepentingan.
Pelajaran 6: Dlm bisnis itu, kalau anda pemain baru, mk anda spt masuk bunker baja yg di dlmnya sudah sesak dg apapun bisnisnya.
Pelajaran 7: Dlm bisnis itu yg baru2 hrs+wajib lbh mengandalkan Good Corporate Governance, smtr yg lama Bad CG.
Pelajaran 8: Dlm bisnis itu tak ada bisnis yg ada teori2 bisnis yg cepat usang krn iklim bisnis spt udara gurun pasir tandus.
Pelajaran 9: Dlm bisnis itu otoritas adlh otoritas non bisnis, spt politik, keturunan, klpk2 nepotis, atau kecoak2 simbolik.
Pelajaran 10: Dlm bisnis itu ya lupakan pelajaran 1-9, kembangkan sj apa yg kamu punyai sebelumnya. (Ini yg paling benar).
http://twitter.com/Lapau_IJP
0 comments 23 November, 2010
Kultwit Sokrates Gunawan Muhammad
Posted by
Maringan Wahyudianto, SH
Labels:
umum
1. Mengapa Sokrates? Saya sebut dia sbg Sang Penanya dr Yunani kuno. Ia tak meninggalkan karya berupa buku, tapi ia begitu penting. #Skt
2. Sokrates itu guru Plato, tokoh utama filsafat Yunani kuno. Berdasarkan kenangan Plato ttg gurunya, kita kenal Sokrates. #Skt
5. Sokrates hidup di abad ke-5 dan 4 Sebelum Masehi. Ayahnya seorang pemahat, ibunya seorang bidan. #Skt
6. Sokrates sendiri kelak dianggap sbg “bidan” filsafat. Ia sendiri tak membuahkan sistem pemikiran. Ia membantu pemikiran lahir. #Skt
7. Tapi di waktu muda, ia prajurit yg tangguh. Sbg umumnya warga Athena, ia berperang utk mempertahankan kotanya. #Skt
8. Keberaniannya diakui sejak dlm Perang Peloponnesia. Di Delium, ia orang Athena terakhir yg menyerah kpd pasukan Sparta. #Skt
9. Sokrates, yg rajin melatih tubuhnya, ulung dlm perang krn bisa tahan lapar, lelah dan dingin. #Skt
10. Tapi di kotanya, ia bekerja sbg penatah batu dan pembuat patung. Ia tak tertarik bepergian. Tapi ia bukan suami yg “ideal”. #Skt
11. Istrinya, Xanthippe, mengeluh krn ia mengabaikan keluarganya. Sokrates mengakui itu — tapi tetap tertarik kpd partner sejenis. #Skt
12. Di zamannya, jadi “gay” tampaknya bukan suatu aib. Plato, muridnya, menggambarkan Sokrates yg “mengejar-ngejar pemuda tampan”. #Skt
13. Tapi ia dicintai murid2-nya. Ia hangat, suka humor, tenang. Bibirnya tebal, hidungnya pesek, tubunya melebar, tapi ia menyenangkan. #Skt
14. Satu hal yg istimewa dari Sokrates: ia guru yg tak memungut bayaran. Di masanya ada guru2 yg meminta honor mahal sekali. #Skt
15. Di masa itu guru2 filsafat (disebut “sophistai”, guru kearifan) memang dpt pasar yg baik dari orang kaya yg ingin mendidik anaknya. #Skt
16. Masa itu ada kebutuhan untuk cakap berdebat di Majelis, di peradilan, dan berpikir logis dan jernih. #Skt
17. Waktu itu, lazim ada orang2 berilmu dan cendekia yg berjalan dari kota ke kota, mengajar retorika, ilmu, kenegarawanan. #Skt
18. Tampaknya Sokrates melanjutkan tradisi mengajar itu. Ia sendiri belajar dari filsuf pengembara spt Parmenides, Zeno, Archeleus. #Skt
19. Baginya, filsafat adalah percakapan ttg kebajikan. Dgn itu hidup di-”telaah”. “Hidup yg tak ditelaah tak berharga bagi manusia”.
20. Itu sebabnya, ia menelusur ke dlm keyakinan manusia, dan memergoki orang dgn pertanyaan2 utk dijawab dgn tak sembarangan. #Skt
21. Maka ia ditakuti mereka yg tak mampu berpikir jernih. Tapi ia menyebut diri sbg “lalat pengganggu” – bagi lembu yg nyenyak. #Skt
22. Ia biasa berangkat pagi2 ke pasar, ke gimnasium dan tempat2 orang berkumpul dan melibatkan orang ke dlm diskusi. #Skt
23. “Bukankah jalan ke Athena dibuat untuk bercakap-cakap?”, katanya. Ia seakan-akan tak serius, dan menyebut diri “filosof amatir”. #Skt
24. Tapi pertanyaan2-nya serius: apa yg kau sebut saleh? Dan tak saleh? Adil atau tak adil? Bisakah kau definisikan istilahmu? #Skt
25. Metodenya sederhana: setelah meminta definisi ttg satu istilah yg dipakai orang, ia telaah apa yg kurang dan yg ngaco di situ. #Skt
27. Metode Sokrates, “elenchus” yg memecah soal ke dlm pertanyaan2 – satu pendekatan analitis – kelak berguna bagi metode ilmiah. #Skt
28. Dgn bertanya, satu hipotesa ditelaah. Kalau guyah, hrs ditinggalkan, dan diganti dgn hipotesa yg lebih baik. #Skt
29. Dgn pertanyaan2 itu, keyakinan kita diuji, sejauh mana sahih – dan pertanyaan hrs berani radikal. Itulah dasar filsafat. #Skt
30. Pertanyaan yg radikal menunjam ke akar (“radix”) persoalan. Mis: mengapa kita ada? Benarkah alam semesta diciptakan Tuhan? #Skt
31. Kata Sokrates: “Puncak keunggulan manusia adalah menanyai diri sendiri dan orang lain.” Malas bertanya, sesat di jalan hidup. #Skt
31. Krn bertanya melulu, Sokrates menjengkelkan. Tapi spt sdh disebut di atas, menempatkan diri sbg “lalat pengganggu”. #Skt
32. Krn “lalat pengganggu” itu, kita tak bisa lelap dlm dogmatisme. Dogma menolong kita utk tak gelisah, tapi itu ketenangan semu. #Skt
33. Tapi apa jawabannya, setelah Sokrates bertanya? Sokrates selalu bisa mengelak. Ia hanya “filosof amatir”, katanya.#Skt
34. Musuh2-nya menyerang Sokrates: orang ini cuma membongkar dan tak pernah membangun. #Skt
35. Sokrates mengakui itu. Tapi “dewa2 memaksaku untuk jadi seorang bidan, dan melarangku melahirkan.”#Skt
36. Memang dari pertanyaan2-nya, para muridnya kemudian mencari jawab. Dlm proses itu lahir pemikiran penting dan pemikir besar. #Skt
37. Dan sesuai dgn sikapnya yg menggugat setiap doktrin, murid2-nya tak mengembangkan satu ajaran tunggal. #Skt
38. Plato kemudian dikenal sbg bapak Idealisme. Muridnya yg lain, Aristippus, meletakkan dasar epikuranisme. Dst. #Skt
39. Tak berarti tak ada jejak pemikiran Sokrates. Dialektika-nya diteruskan Plato, lalu Aristoteles jadi logika yg kukuh selama 19 abad.#Skt
40. Dlm ethika, Sokrates boleh dikatakan yg memulai kesadaran bhw “hati nurani” lebih utama ketimbang hukum. #Skt
41. Ttg yg terakhir, itu tak cuma diucapkannya dgn pidato. Ia tunjukkan keyakinannya ketika ia dihukum mati. #Skt
42. Kenapa Sokrates dihukum mati oleh penguasa Athena? Ada yg bilang: krn ia “lalat pengganggu” iman yg melemahkan agama.#Skt
43. Di Athena yg konservatif, Sokrates memang dituduh tak beragama. Tapi ia ikut upacara agama. Mungkin baginya agama itu pemersatu. #Skt
44. Ia tak mengklaim ia tahu ttg hidup setelah mati. Ia tak mau bicara ttg dewa2. “Tentang dewa2 kita tak tahu apa2″, katanya.#Skt
45. Tanpa melibatkan dewa2, ia tak mendasarkan moralitas kpd sesuatu yg kekal di luar alam ini. #Skt
46. Dlm “Euthyphro” Sokrates dikutip: apa yg baik bukan baik krn disetujui dewa2. Tapi dewa2 menyetujuinya krn itu memang baik.#Skt
47. Konsepsinya ttg kebaikan tak didasarkan kpd alasan theologis, dikaitkan dgn Tuhan. Kebaikan itu berkaitan dgn guna bg hidup #Skt
48. Kebajikan (arete) bagi Sokrates bukanlah ditandai keadaan tanpa dosa, melainkan ulung dlm hal kearifan dan pengetahuan. #Skt
49. Sokrates demokratis dlm percaturan pendapat: tak ada pihak, juga sang guru, yg dianggap lebih tahu. Tapi ia antidemokrasi. #Skt
50. Baginya demokrasi itu tak masuk akal. Pemungutan suara utk memilih politisi? Kita tak toh memilih jurumudi dgn pemungutan suara.#Skt
51. Syahdan, salah satu muridnya, Critias, memimpin gerakan dgn kekerasan utk menumbangkan demokrasi, Sokrates ikut tertuduh.#Skt
51. Ia ditangkap dan dihukum mati: ia hrs minum racun. Dgn tenang ia menerima itu. Ia menolak utk lari. Ia setia kpd negerinya #Skt
52. Ribuan tahun ia dikenang sbg “lalat” yg membuat lembu bangun dan kuda bergerak. Kita perlu Sang Penanya agar kita tak buta tuli.#Skt
53. Terutama di masa ketika orang dgn membutatuli ikut ajaran, dan dgn itu berkelahi habis2-an. Misalnya atas nama agama. #Skt
54. Dan kita tak berani bertanya, spt pertanyaan; apakah manusia utk agama, atau agama utk manusia? #Skt
55. Juga tak bertanya: Adakah agama itu kendaraan utk ke surga, atau pembawa damai ke kehidupan dunia? #Skt
56. Islam is the Answer. Jesus is the Answer. The Book is the Answer. Kita takut akan Pertanyaan – dan tak mau mengakui kita takut #Skt
READ MORE [...]
2. Sokrates itu guru Plato, tokoh utama filsafat Yunani kuno. Berdasarkan kenangan Plato ttg gurunya, kita kenal Sokrates. #Skt
5. Sokrates hidup di abad ke-5 dan 4 Sebelum Masehi. Ayahnya seorang pemahat, ibunya seorang bidan. #Skt
6. Sokrates sendiri kelak dianggap sbg “bidan” filsafat. Ia sendiri tak membuahkan sistem pemikiran. Ia membantu pemikiran lahir. #Skt
7. Tapi di waktu muda, ia prajurit yg tangguh. Sbg umumnya warga Athena, ia berperang utk mempertahankan kotanya. #Skt
8. Keberaniannya diakui sejak dlm Perang Peloponnesia. Di Delium, ia orang Athena terakhir yg menyerah kpd pasukan Sparta. #Skt
9. Sokrates, yg rajin melatih tubuhnya, ulung dlm perang krn bisa tahan lapar, lelah dan dingin. #Skt
10. Tapi di kotanya, ia bekerja sbg penatah batu dan pembuat patung. Ia tak tertarik bepergian. Tapi ia bukan suami yg “ideal”. #Skt
11. Istrinya, Xanthippe, mengeluh krn ia mengabaikan keluarganya. Sokrates mengakui itu — tapi tetap tertarik kpd partner sejenis. #Skt
12. Di zamannya, jadi “gay” tampaknya bukan suatu aib. Plato, muridnya, menggambarkan Sokrates yg “mengejar-ngejar pemuda tampan”. #Skt
13. Tapi ia dicintai murid2-nya. Ia hangat, suka humor, tenang. Bibirnya tebal, hidungnya pesek, tubunya melebar, tapi ia menyenangkan. #Skt
14. Satu hal yg istimewa dari Sokrates: ia guru yg tak memungut bayaran. Di masanya ada guru2 yg meminta honor mahal sekali. #Skt
15. Di masa itu guru2 filsafat (disebut “sophistai”, guru kearifan) memang dpt pasar yg baik dari orang kaya yg ingin mendidik anaknya. #Skt
16. Masa itu ada kebutuhan untuk cakap berdebat di Majelis, di peradilan, dan berpikir logis dan jernih. #Skt
17. Waktu itu, lazim ada orang2 berilmu dan cendekia yg berjalan dari kota ke kota, mengajar retorika, ilmu, kenegarawanan. #Skt
18. Tampaknya Sokrates melanjutkan tradisi mengajar itu. Ia sendiri belajar dari filsuf pengembara spt Parmenides, Zeno, Archeleus. #Skt
19. Baginya, filsafat adalah percakapan ttg kebajikan. Dgn itu hidup di-”telaah”. “Hidup yg tak ditelaah tak berharga bagi manusia”.
20. Itu sebabnya, ia menelusur ke dlm keyakinan manusia, dan memergoki orang dgn pertanyaan2 utk dijawab dgn tak sembarangan. #Skt
21. Maka ia ditakuti mereka yg tak mampu berpikir jernih. Tapi ia menyebut diri sbg “lalat pengganggu” – bagi lembu yg nyenyak. #Skt
22. Ia biasa berangkat pagi2 ke pasar, ke gimnasium dan tempat2 orang berkumpul dan melibatkan orang ke dlm diskusi. #Skt
23. “Bukankah jalan ke Athena dibuat untuk bercakap-cakap?”, katanya. Ia seakan-akan tak serius, dan menyebut diri “filosof amatir”. #Skt
24. Tapi pertanyaan2-nya serius: apa yg kau sebut saleh? Dan tak saleh? Adil atau tak adil? Bisakah kau definisikan istilahmu? #Skt
25. Metodenya sederhana: setelah meminta definisi ttg satu istilah yg dipakai orang, ia telaah apa yg kurang dan yg ngaco di situ. #Skt
27. Metode Sokrates, “elenchus” yg memecah soal ke dlm pertanyaan2 – satu pendekatan analitis – kelak berguna bagi metode ilmiah. #Skt
28. Dgn bertanya, satu hipotesa ditelaah. Kalau guyah, hrs ditinggalkan, dan diganti dgn hipotesa yg lebih baik. #Skt
29. Dgn pertanyaan2 itu, keyakinan kita diuji, sejauh mana sahih – dan pertanyaan hrs berani radikal. Itulah dasar filsafat. #Skt
30. Pertanyaan yg radikal menunjam ke akar (“radix”) persoalan. Mis: mengapa kita ada? Benarkah alam semesta diciptakan Tuhan? #Skt
31. Kata Sokrates: “Puncak keunggulan manusia adalah menanyai diri sendiri dan orang lain.” Malas bertanya, sesat di jalan hidup. #Skt
31. Krn bertanya melulu, Sokrates menjengkelkan. Tapi spt sdh disebut di atas, menempatkan diri sbg “lalat pengganggu”. #Skt
32. Krn “lalat pengganggu” itu, kita tak bisa lelap dlm dogmatisme. Dogma menolong kita utk tak gelisah, tapi itu ketenangan semu. #Skt
33. Tapi apa jawabannya, setelah Sokrates bertanya? Sokrates selalu bisa mengelak. Ia hanya “filosof amatir”, katanya.#Skt
34. Musuh2-nya menyerang Sokrates: orang ini cuma membongkar dan tak pernah membangun. #Skt
35. Sokrates mengakui itu. Tapi “dewa2 memaksaku untuk jadi seorang bidan, dan melarangku melahirkan.”#Skt
36. Memang dari pertanyaan2-nya, para muridnya kemudian mencari jawab. Dlm proses itu lahir pemikiran penting dan pemikir besar. #Skt
37. Dan sesuai dgn sikapnya yg menggugat setiap doktrin, murid2-nya tak mengembangkan satu ajaran tunggal. #Skt
38. Plato kemudian dikenal sbg bapak Idealisme. Muridnya yg lain, Aristippus, meletakkan dasar epikuranisme. Dst. #Skt
39. Tak berarti tak ada jejak pemikiran Sokrates. Dialektika-nya diteruskan Plato, lalu Aristoteles jadi logika yg kukuh selama 19 abad.#Skt
40. Dlm ethika, Sokrates boleh dikatakan yg memulai kesadaran bhw “hati nurani” lebih utama ketimbang hukum. #Skt
41. Ttg yg terakhir, itu tak cuma diucapkannya dgn pidato. Ia tunjukkan keyakinannya ketika ia dihukum mati. #Skt
42. Kenapa Sokrates dihukum mati oleh penguasa Athena? Ada yg bilang: krn ia “lalat pengganggu” iman yg melemahkan agama.#Skt
43. Di Athena yg konservatif, Sokrates memang dituduh tak beragama. Tapi ia ikut upacara agama. Mungkin baginya agama itu pemersatu. #Skt
44. Ia tak mengklaim ia tahu ttg hidup setelah mati. Ia tak mau bicara ttg dewa2. “Tentang dewa2 kita tak tahu apa2″, katanya.#Skt
45. Tanpa melibatkan dewa2, ia tak mendasarkan moralitas kpd sesuatu yg kekal di luar alam ini. #Skt
46. Dlm “Euthyphro” Sokrates dikutip: apa yg baik bukan baik krn disetujui dewa2. Tapi dewa2 menyetujuinya krn itu memang baik.#Skt
47. Konsepsinya ttg kebaikan tak didasarkan kpd alasan theologis, dikaitkan dgn Tuhan. Kebaikan itu berkaitan dgn guna bg hidup #Skt
48. Kebajikan (arete) bagi Sokrates bukanlah ditandai keadaan tanpa dosa, melainkan ulung dlm hal kearifan dan pengetahuan. #Skt
49. Sokrates demokratis dlm percaturan pendapat: tak ada pihak, juga sang guru, yg dianggap lebih tahu. Tapi ia antidemokrasi. #Skt
50. Baginya demokrasi itu tak masuk akal. Pemungutan suara utk memilih politisi? Kita tak toh memilih jurumudi dgn pemungutan suara.#Skt
51. Syahdan, salah satu muridnya, Critias, memimpin gerakan dgn kekerasan utk menumbangkan demokrasi, Sokrates ikut tertuduh.#Skt
51. Ia ditangkap dan dihukum mati: ia hrs minum racun. Dgn tenang ia menerima itu. Ia menolak utk lari. Ia setia kpd negerinya #Skt
52. Ribuan tahun ia dikenang sbg “lalat” yg membuat lembu bangun dan kuda bergerak. Kita perlu Sang Penanya agar kita tak buta tuli.#Skt
53. Terutama di masa ketika orang dgn membutatuli ikut ajaran, dan dgn itu berkelahi habis2-an. Misalnya atas nama agama. #Skt
54. Dan kita tak berani bertanya, spt pertanyaan; apakah manusia utk agama, atau agama utk manusia? #Skt
55. Juga tak bertanya: Adakah agama itu kendaraan utk ke surga, atau pembawa damai ke kehidupan dunia? #Skt
56. Islam is the Answer. Jesus is the Answer. The Book is the Answer. Kita takut akan Pertanyaan – dan tak mau mengakui kita takut #Skt
Gunawan Muhammad/ @gm_gm
0 comments 22 November, 2010
Menggali Pancasila Kembali
Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri’ — Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945.
READ MORE [...]
KITA hidup dalam sebuah zaman yang makin menyadari ketidak-sempurnaan nasib. Gagasan ‘sosialisme ilmiah’ yang ditawarkan oleh Marx dan Engels pernah meramalkan tercapainya ‘surga di bumi’, sebuah masyarakat di mana kapitalisme hilang dan kontradiksi tak ditemukan lagi. Tapi cita-cita itu terbentur dengan kenyataan yang keras di akhir dasawarsa ke-8 abad ke-20: Uni Soviet dan RRC mengubah haluan, dengan menerima ‘jalan kapitalis’ yang semula dikecam. Sosialisme pun terpuruk: ternyata ‘ilmiah’ bukan berarti ‘tanpa salah’, ternyata Marxisme sebuah gagasan yang akhirnya harus mengakui bahwa dunia tak akan pernah bebas dari kontradiksi.
Dewasa ini cita-cita menegakkan ‘Negara Islam’ mungkin satu-satunya yang masih percaya bahwa kesempurnaan bisa diwujudkan. Jika hukum Tuhan adalah hukum yang hendak diterapkan, mau tak mau hasil yang diharapkan adalah sebuah kehidupan sosial yang tanpa cacat.
Dengan kata lain, para penganjur ‘Negara Islam’ adalah penggagas yang tak membaca sejarah yang terbentang dalam jangka waktu lebih dari 21 abad – sebuah sejarah harapan dan kekecewaan yang silih berganti, sebuah sejarah ide dan rencana cemerlang yang kemudian terbentur, sebuah riwayat pemimpin dan khalifah yang tak selamanya tahu bagaimana menjauh dari sabu-sabu kekuasaan.
Para penganjur ide ‘Negara Islam’ lupa bahwa agama selamanya menjanjikan kehidupan alternatif: di samping yang ‘duniawi’ yang kita jalani kini, ada kelak yang ‘ukhrowi’ yang lebih baik. Maka sebuah ‘Negara Islam’ yang tak mengakui ketidak-sempurnaannya sendiri akan salah secara akidah. Tapi sebuah ‘Negara Islam’ yang mengakui ketidak-sempurnaannya sendiri akan menimbulkan persoalan: bukankah ajektif ‘Islam’ mengandaikan sesuatu yang sempurna?
Dilema itu berasal dari pengalaman kita: bumi adalah bumi; ia bukan surga. Ketidak-sempurnaan, bahkan cacat, berlangsung terus, berselang-seling dengan saat-saat yang mengagumkan. Agaknya akan demikian seterusnya.
Di tahun 19….Fukuyama mengatakan kini kita berada di ‘akhir sejarah’. Tapi ia tak mengatakan bahwa hidup tak akan lagi dirundung cela. Memang ia merayakan kemenangan ekonomi kapitalis dan demokrasi liberal yang kini tampak di banyak sudut. Ia ingin menunjukkan bahwa pandangan alternatif yang yakin untuk menggantikan kapitalisme dan demokrasi liberal telah kehilangan daya pikat; ideologi telah berakhir, seperti telah dikatakan Raymond Aron di tahun 1955 dan Daniel Bell di tahun 1960. Orang terdorong untuk jadi pragmatis. Tapi ada yang harus dibayar.
‘Akhir sejarah akan merupakan sebuah peristiwa yang amat sedih’, tulis Fukuyama. ‘Perjuangan untuk diakui, kehendak untuk mengambil risiko mati bagi sebuah cita-cita yang sepenuhnya abstrak, pergulatan ideologis sedunia yang menggugah tualang, keberanian, imajinasi, dan idealisme, akan digantikan oleh perhitungan ekonomis, keprihatinan soal lingkungan dan pemuasan permintaan konsumen yang kian canggih’.
Fukuyama tak sepenuhnya betul. Kini masih ada orang-orang yang terbakar oleh ‘kehendak untuk mengambil risiko mati bagi sebuah cita-cita’; kita mengetahauinya tiap kali ada seseorang yang meledakkan tubuhnya sebagai alat pembunuh musuh.
Bahkan dalam sebuah proses politik yang ‘normal’, tak semua hal digantikan oleh ‘perhitungan ekonomis’ dan ‘pemuasan permintaan konsumen’. Tapi apa yang betul dan tak betul dalam kesimpulan Fukuyama tetap menunjukkan kesadaran zaman ini: nasib manusia adalah ketidak-sempurnaan.
****
SAYA teringat akan Pancasila. Ketika Bung Karno menjelaskan, seraya membujuk, perlunya Indonesia mempunyai sebuah Weltanchauung, sebuah pandangan tentang dunia dan kehidupan, ia sebenarnya sedang meniti buih untuk selamat sampai ke seberang.
Sebab itu, jika ditelaah benar, pidato Lahirnya Pancasila yang terkenal pada tanggal 1 Juni 1945 itu mengandung beberapa kontradiksi — yang bagi saya menunjukkan bahwa Bung Karno sedang mencoba mengatasi pelbagai hal yang saling bertentangan yang dihadapi Indonesia.
Kontradiksi yang paling menonjol justru pada masalah Weltanschauung itu. Sebuah pandngan tentang dunia dan kehidupan, atau sebuah ‘dasar filsafat’ (Bung Karno menyebutnya philosophische grondslag) yang melandasi persatuan bangsa adalah sebuah fondasi, perekat dan sekaligus payung. Di sini tersirat kecenderungan untuk memandangnya sebagai sesuatu yang harus kukuh dan sempurna – sebuah kecenderungan yang makin mengeras di masa ‘Orde Baru’, yang menganggap Pancasila itu ‘sakti’.
Jika demikian halnya, ia tak bisa diubah. Tapi timbul persoalan: bagaimana pandangan ini memungkinkan sebuah kehidupan politik yang, seperti dikatakan Bung Karno sendiri, niscaya mengandung ‘perjuangan faham’? Kata Bung Karno, tak ada sebuah negara yang hidup yang tak mengandung ‘kawah Candradimuka’ yang ‘mendidih’ di mana pelbagai ‘faham’ beradu di dalam badan perwakilannya. Tak ada sebuah negara yang dinamis ‘kalau tidak ada perjuangan faham di dalamnya’.
****
PANCASILA justru berarti, karena ia tidak ‘sakti’.
Ada tiga kesalahan besar ‘Orde Baru’ dalam memandang kelima ‘prinsip’ itu. Yang pertama adalah membuat Pancasila hampir-hampir keramat. Yang kedua, membuat Pancasila bagian dari bahasa, bahkan simbol eksklusif, si berkuasa. Yang ketiga, mendukung Pancasila dengan ancaman kekerasan.
‘Orde Baru’ telah memperlakukan Pancasila ibarat Rahwana mengambil-alih Sita selama bertahun-tahun. Analogi dari epos Ramayana ini tak sepenuhnya tepat, tapi seperti Sita setelah kembali dibebaskan oleh Rama, Pancasila di mata orang banyak, terutama bagi mereka yang tertekan, setelah ‘Orde Baru’ runtuh, seakan-akan bernoda: ia tetap dikenang sebagai bagian dari lambang kekuasaan sang Rahwana.
Tapi kita tahu, kesan itu tak benar dan tak adil – sama tak benar dan tak adilnya ketika Rama meletakkan Sita dalam api pembakaran untuk membuktikan kesuciannya.
Kini kita membutuhkan Pancasila kembali, tapi tak seperti Rama menerima Sita pulang: kita tak perlu mempersoalkan ‘kesucian’, apalagi ‘kesaktian’-nya. Kini kita membutuhkan Pancasila kembali karena ia merupakan rumusan yang ringkas dari ikhtiar bangsa kita yang sedang meniti buih untuk dengan selamat mencapai persatuan dalam perbedaan. Pidato Bung Karno dengan ekpresif mencerminkan ikhtiar itu; nadanya mengharukan: penuh semangat tapi juga tak bebas dari rasa cemas.
Dengan kata lain, kita membutuhkan Pancasila kembali untuk mengukuhkan, bahwa kita mau tak mau perlu hidup dengan sebuah pandangan dan sikap yang manusiawi – yang mengakui peliknya hidup bermasyarakat. Para pembela ide ‘Negara Islam’ gemar mengatakan, mereka lebih baik memilih dasar Islam karena Islam datang dari Allah, sedang Pancasila itu bikinan manusia. Tapi justru karena Pancasila adalah bagian dari ikhtiar manusia, ia tak mengklaim dirinya suci dan sakti. Dengan demikian ia adalah ‘inspirasi’ untuk sebuah kehidupan bersama yang mengakui dirinya mengandung ‘kurang’, karena senantiasa bergulat antara ‘eka’ dan ‘bhineka’.
Sebab itu tepat sekali ketika Bung Karno menggunakan kiasan ‘menggali’ dalam merumuskan Pancasila. ‘Menggali’ melibatkan bumi dan tubuh; Pancasila lahir dari jerih payah sejarah, dan – seperti halnya hasil bumi — menawarkan sesuatu yang tetap bisa diolah lebih lanjut. Ia tak ‘ready-for-use’. Ia tak menampik tafsir yang kreatif. Ia membuka kemungkinan untuk tak jadi doktrin, sebab tiap doktrin akan digugat perkembangan sejarah – dan sebab itu Bung Karno mengakui: tak ada teori revolusi yang ‘ready-for-use’.
Yang juga tampak dalam keterbukaan untuk kreatifitas itu adalah sifatnya yang tak bisa mutlak. Tiap ‘sila’ mau tak mau harus diimbangi oleh ‘sila’ yang lain: bangsa ini tak akan bisa hanya menjalankan ‘sila’ keberagamaan (‘Ketuhanan Yang Maha Esa’) tanpa juga diimbangi ‘sila’ kesatuan bangsa (‘kebangsaan Indonesia’), dan sebaliknya. Kita juga tak akan patut dan tak akan bisa biloa kita ingin menerapkan ‘sila’ nasionalisme tanpa diimbangi perikemanusiaan, dan begitulah seterusnya.
Memutlakkan satu ‘sila’ saja akan melahirkan kesewenang-wenangan. Juga tak akan berhasil. Hidup begitu pelik. Masyarakat selalu merupakan bangunan dalam proses, hingga politik, dengan segala cacatnya, merupakan hal yang tak bisa dielakkan – bahkan tak bisa dihabisi oleh 100 tahun kekerasan.
Kita membutuhkan Pancasila kembali karena kita seakan-akan telah kehilangan bahasa untuk menangkis 100 gtahun kekerasan yang tersirat dalam sikap sewenang-wenang yang juga pongah: sikap mereka yang merasa mewakili suara Tuhan dan suara Islam, meskipun tak jelas dari mana dan bagaimana ‘mandat’ itu datang ke tangan mereka; sikap mereka yang terbakar oleh ‘egoisme-agama’ dan menafikan cita-cita Indonesia yang penting, agar tiap manusia Indonesia ‘bertuhan Tuhannya sendiri’ – hingga agama tak dipaksakan, dan para penganut tak bersembunyi dalam kemunafikan.
Kita membutuhkan Pancasila kembali karena kita perlu bicara yakin kepada mereka yang mendadak merasa lebih tinggi ketimbang sebuah Republik yang didirikan dengan darah dan keringat berbagai penghuninya – Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, ataupun atheis — perjuangan yang lebih lama ketimbang 60 tahun.
Kita membutuhkan Pancasila kembali karena ia merupakan proses negosiasi terus menerus dari sebuah bangsa yang tak pernah tunggal, tak sepenuhnya bisa ‘eka, dan tak ada yang bisa sepenuhnya meyakinkan bahwa dirinya, kaumnya, mewakili sesuatu yang Maha Benar. Kita mmebutuhkan Pancasila kembali: seperti saya katakan di atas, kita hidup di sebuah zaman yang makin menyadari ketidak-sempurnaan nasib manusia.
Ketika Bung Karno menyebut kalimat ini, ketika ia mengakui bahwa sebuah negara mau tak mau mengandung ‘perjuangan sehebat-hebatnya’ di dalam persoalan ‘faham’, ia menatap ke sebuah arah: ia ingin membuat tenteram kalangan politik Islam. Ia menganjurkan agar ‘pihak Islam’ menerima berdirinya sebuah negara yang ‘satu buat semua, semua buat satu’. Ia menolak ‘egoisme-agama’.
Tapi ia juga membuka diri kepada kemungkinan ini: bisa saja suatu saat nanti hukum yang ditegakkan di Indonesia adalah hukum Islam – jika ‘utusan-utusan Islam’ menduduki ‘sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan rakyat’.
Di sini tampak, perjuangan ke arah hegemoni diakui sebagai sesuatu yang wajar dan sah. Tapi dengan demikian, Weltanachauung yang dirumuskan sebenarnya bukan fondasi yang kedap, pejal, sudah final dan kekal, hingga meniadakan kemungkinan satu ‘faham’ menerobosnya dan mengambil-alih posisi ‘filsafat dasar’ itu. Dengan kata lain, Pancasila bukan sesuatu yang ‘sakti’.
*** Naskah pidato pada peluncuran situs www.politikana.com di Gedung Teater Komunitas Salihara, Jakarta, Senin 27 April 2009
1 comments 15 August, 2010
Belajar dari Kota Petra
Posted by
Maringan Wahyudianto, SH
Labels:
umum
Al Hijr 15 : 82
"Dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman" (82)
Asy Syu’ara 26 : 149
Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin" (149)
Al A’raaf 7 : 74
"Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan" (74)
Kota Petra adalah kota yang dibangun dengan menatah, memahat batu cadas gunung, dengan keindahan yang luar biasa, dengan system drainase dan saluran air bersih yang bagus, dan berbagai bangunan yang menunjukkan ketinggian peradaban mereka. Tetapi pada akhirnya ditinggalkan penduduknya. Dan sempat hilang selama ratusan tahun.
Ini adalah bukti bahwa kecerdasan, kehebatan manusia tidak akan membawanya kepada keabadian. Logika yang super hebat, keahlian skill yang super mumpuni, Peradaban yang maju, pada akhirnya tunduk kepada ketetapan, kekuasaan Allah.
Profil kota Petra
Petra merupakan salah satu harta peninggalan sejarah yang terletak di Negara Yordania. Tersembunyi di balik tebing-tebing batu yang tinggi, Petra menampilkan pemandangan yang luar biasa indahnya. Bebatuan dan tebing cadas yang berwarna merah mawar menutupi kota, seakan di rancang untuk di kagumi oleh orang yang memasukinya. Kota ini didirikan dengan menggali dan mengukir cadas setinggi 40 meter.
Petra merupakan ibukota kerajaan Nabatean. Didirikan 9 tahun Sebelum Masehi sampai tahun ke-40 M oleh Raja Arteas IV sebagai kota yang sulit untuk ditembus musuh dan aman dari bencana alam seperti badai pasir.
Keunikan dan kehebatan dari suku Nabataeans juga terletak pada kecanggihan dan kejeniusannya dalam membangun dan merancang saluran air. Lebih dari 2000 tahun yang lalu merakak telah membangun DAM dan lubang parit sebagi saluran air, sehingga memungkinkan orang bisa hidup dan tinggal di daerah tandus atau gurun pasir seperti itu.
Petra Dari Masa Ke Masa
Abad ke-1 Sebelum Masehi, Kerajaan Nabatean menjangkau wilayah Damaskus di utara dan Laut Mati di selatan. Saat itu, Petra telah didiami sekitar 30 ribu penduduk. Di masa itu dibangun Kuil Agung.
Tahun 106 Masehi, Romawi telah menguasai wilayah ini. Di bawah pimpinan kaisar Trajan, Petra mengalami pertumbuhan yang pesat. Arsitektur diPetra-pun terpengaruh oleh arsitektur Romawi.
Tahun 363, terjadi gempa bumi dahsyat yang menghancurkan banyak bangunan dan sistem saluran air yang sangat vital bagi masyarakat kota Petra, kemudian Petra-pun perlahan ditinggalkan.
Di abad ke-12 setelah Perang Salib, Petra sempat menjadi ‘kota yang hilang’ lebih dari 500 tahun lamanya. Hanya penduduk lokal, suku badui yang mengetahuinya.
Pada tahun 1812, Petra ditemukan kembali oleh penjelajah dari Swiss bernama Johann Ludwig Burckhardt, yang menyamar sebagai orang muslim.
Tidak ada gunanya menuhankan otak. Tundukkanlah otak, logika, hawa nafsu hanya kepada Kemauan Allah, syariat yang dibawa Rasulullah SAW.
0 comments 22 July, 2010
Membaca Kepribadian dari Tulisan
Setiap tulisan yang di buat oleh seseorang mencerminkan kepribadian orang tersebut.. Teknik ini dinamakan Grafologi.
Dan tentunya butuh pembelajaran untuk mengerti.
Bagaimanakah cara membacanya? Mungkin sebagian dari teman teman ingin tahu kepribadian orang dari gaya menulisnya..
Grafologi adalah ilmu yang mempelajari karakter seseorang dengan cara menganalisa tulisan tangannya, buku pertama tentang grafologi ditulis oleh Camillo Baldi, seorang dokter asal Itali pada tahun 1622. Tahun 1872, Jean Michon menerbitkan bukunya yang menjadi buku pokok grafologi pada saat itu. Tak lama kemudian, universitas universitas di Eropa mulai memberi gelar Ph.D. atau Master di bidang ini.
Ada dua metode untuk menilai karakter dan kepribadian lewat ilmu ini, yaitu teknik Jerman dan teknik Perancis. Metode Jerman dengan cara melihat secara keseluruhan tulisan seseorang. Sedangkan pada teknik Perancis cenderung menganalisa per huruf lalu digabungkan. Seorang pemula biasanya mempelajari teknik Perancis terlebih dahulu.
Menurut riset, keakuratan analisa grafologi mencapai 80-90%.
Beberapa sifat yang bisa dilihat lewat tulisan seseorang:
1. Arah kemiringan huruf
Ke kanan = ekspresif, emosional
Tegak = menahan diri, emosi sedang
Ke kiri = menutup diri
Ke segala arah dalam 1 kalimat = tidak konsisten
Ke segala arah dalam 1 kata = ada masalah dengan kepribadiannya
2. Bentuk umum huruf-huruf
Bulat atau melingkar = alami, easygoing
Bersudut tajam = agresif, to the point, energi kuat
Bujursangkar = realistis, praktek berdasar pengalaman
Coretan tak beraturan = artistik, tidak punya standar
3. Huruf-huruf bersambung atau tidak
Bersambung seluruhnya = sosial, suka bicara dan bertemu dengan orang banyak
Sebagian bersambung sebagian lepas = pemalu, idealis yang agak sulit membina hubungan (terlebih hubungan spesial).
Lepas seluruhnya = berpikir sebelum bertindak, cerdas, seksama
4. Spasi antar kata
Berjarak tegas = suka berbicara (mungkin orang yang selalu sibuk?)
Rapat/Seolah tidak berjarak = tidak sabaran, percaya diri dan cepat bertindak
5. Jarak vertikal antar baris tulisan
Sangat jauh = terisolasi, menutup diri, bahkan mungkin anti sosial
Cukup berjarak sehingga huruf di baris atas tidak bersentuhan dengan baris di bawahnya = boros, suka bicara
Berjarak rapat sehingga ujung bawah huruf ‘y’, ‘g’, menyentuh ujung atas huruf ‘h’, ‘t’ = organisator yang baik
6. Interpretasi huruf ‘t’
Letak palang (-) pada kail ‘t’
- Cenderung ke kiri = pribadi waspada, tidak mudah percaya
- Tepat di tengah = pribadi yang kurang orisinil tapi sangat bertanggung jawab
- Cenderung ke kanan = pribadi handal, teliti, mampu memimpin
Dan tentunya butuh pembelajaran untuk mengerti.
Bagaimanakah cara membacanya? Mungkin sebagian dari teman teman ingin tahu kepribadian orang dari gaya menulisnya..
Grafologi adalah ilmu yang mempelajari karakter seseorang dengan cara menganalisa tulisan tangannya, buku pertama tentang grafologi ditulis oleh Camillo Baldi, seorang dokter asal Itali pada tahun 1622. Tahun 1872, Jean Michon menerbitkan bukunya yang menjadi buku pokok grafologi pada saat itu. Tak lama kemudian, universitas universitas di Eropa mulai memberi gelar Ph.D. atau Master di bidang ini.
Ada dua metode untuk menilai karakter dan kepribadian lewat ilmu ini, yaitu teknik Jerman dan teknik Perancis. Metode Jerman dengan cara melihat secara keseluruhan tulisan seseorang. Sedangkan pada teknik Perancis cenderung menganalisa per huruf lalu digabungkan. Seorang pemula biasanya mempelajari teknik Perancis terlebih dahulu.
Menurut riset, keakuratan analisa grafologi mencapai 80-90%.
Beberapa sifat yang bisa dilihat lewat tulisan seseorang:
1. Arah kemiringan huruf
Ke kanan = ekspresif, emosional
Tegak = menahan diri, emosi sedang
Ke kiri = menutup diri
Ke segala arah dalam 1 kalimat = tidak konsisten
Ke segala arah dalam 1 kata = ada masalah dengan kepribadiannya
2. Bentuk umum huruf-huruf
Bulat atau melingkar = alami, easygoing
Bersudut tajam = agresif, to the point, energi kuat
Bujursangkar = realistis, praktek berdasar pengalaman
Coretan tak beraturan = artistik, tidak punya standar
3. Huruf-huruf bersambung atau tidak
Bersambung seluruhnya = sosial, suka bicara dan bertemu dengan orang banyak
Sebagian bersambung sebagian lepas = pemalu, idealis yang agak sulit membina hubungan (terlebih hubungan spesial).
Lepas seluruhnya = berpikir sebelum bertindak, cerdas, seksama
4. Spasi antar kata
Berjarak tegas = suka berbicara (mungkin orang yang selalu sibuk?)
Rapat/Seolah tidak berjarak = tidak sabaran, percaya diri dan cepat bertindak
5. Jarak vertikal antar baris tulisan
Sangat jauh = terisolasi, menutup diri, bahkan mungkin anti sosial
Cukup berjarak sehingga huruf di baris atas tidak bersentuhan dengan baris di bawahnya = boros, suka bicara
Berjarak rapat sehingga ujung bawah huruf ‘y’, ‘g’, menyentuh ujung atas huruf ‘h’, ‘t’ = organisator yang baik
6. Interpretasi huruf ‘t’
Letak palang (-) pada kail ‘t’
- Cenderung ke kiri = pribadi waspada, tidak mudah percaya
- Tepat di tengah = pribadi yang kurang orisinil tapi sangat bertanggung jawab
- Cenderung ke kanan = pribadi handal, teliti, mampu memimpin
Panjang kail ‘t’ menunjukkan kemampuan potensial untuk mencapai target.
Tinggi-rendah palang (-) pada kail ‘t’
- Rendah = setting target lebih rendah dari kemampuan sebenarnya (kurang percaya diri atau pemalas)
- Tinggi = setting target tinggi tapi juga diimbangi oleh kemampuan
- Di atas kail = setting target lebih tinggi dibanding kemampuan
7. Arah tulisan pada kertas
Naik/menanjak = energik, optimis, tegas
Tetap/lurus = perfeksionis, sulit bergaul
Turun = seorang yang tertekan atau lelah, kemungkinan menutup diri
8. Tekanan saat menulis
Makin kuat tekanan, makin besar intensitas emosional penulisnya.
9. Ukuran huruf
Makin kecil huruf yang ditulis, maka makin besar tingkat konsenterasi si penulis, begitu pula sebaliknya.
10. Sedikit tentang huruf “O”
- Adanya rahasia ditunjukkan oleh lingkaran kecil pada huruf “O”
- Kebohongan ditunjukkan oleh lingkaran huruf “O” yang mengarah ke kanan
- Rendah = setting target lebih rendah dari kemampuan sebenarnya (kurang percaya diri atau pemalas)
- Tinggi = setting target tinggi tapi juga diimbangi oleh kemampuan
- Di atas kail = setting target lebih tinggi dibanding kemampuan
7. Arah tulisan pada kertas
Naik/menanjak = energik, optimis, tegas
Tetap/lurus = perfeksionis, sulit bergaul
Turun = seorang yang tertekan atau lelah, kemungkinan menutup diri
8. Tekanan saat menulis
Makin kuat tekanan, makin besar intensitas emosional penulisnya.
9. Ukuran huruf
Makin kecil huruf yang ditulis, maka makin besar tingkat konsenterasi si penulis, begitu pula sebaliknya.
10. Sedikit tentang huruf “O”
- Adanya rahasia ditunjukkan oleh lingkaran kecil pada huruf “O”
- Kebohongan ditunjukkan oleh lingkaran huruf “O” yang mengarah ke kanan
0 comments 15 July, 2010
Kestabilan Pangan
Posted by
Maringan Wahyudianto, SH
Labels:
lingkungan,
pertanian,
umum
Pangan sejak dahulu kala menjadi suatu faktor yang sangat strategis dalam kehidupan manusia. Pangan secara hakiki merupakan salah satu kebutuhan mendasar dalam pemenuhan aspirasi humanistik. Selain menjadi barang kebutuhan pokok, pangan juga menentukan kebijakan ekonomi suatu negara. Bahkan tak jarang menjadi komoditas politik yang sangat menentukan dan mempengaruhi masyarakat secara luas. Seiring perkembangan peradaban kebutuhan jumlah dan deferensiasi pangan terus saja meningkat.
Brown dan Eckholm (1997) berpendapat bahwa, kalau pun satu-satunya tujuan kita dalam pembangunan pertanian adalah penyediaan pangan yang cukup untuk penduduk dunia yang kian bertambah, kita tidak cukup hanya melipatgandakan produksi padi-padian, tetapi kita harus dapat meningkatkannya tiga kali lipat pada abad terakhir di milenium tersebut dan akan senantiasa mengalami peningkatan yang signifikan dalam waktu ke waktu.
Negara-negara yang meletakkan pilar ekonominya pada sektor pertanian umumnya juga sangat dipengaruhi faktor alam. Misal saja, negera-negara di khatulistiwa sangat memperhatikan faktor produksi pertanian karena didukung oleh faktor alam yang sangat cocok. Kecocokan tersebut datang dari, biodeversity termasuk varietas tanaman pangan yang mampu tumbuh dengan baik. Kemudian suhu, ketinggian tempat, intensitas penyinaran, dan curah hujan yang sesuai. Meskipun pasca revolusi industri banyak negara-negara yang meletakkan pondasi perekonomiannya pada sektor teknologi industri tetapi, tetap saja sektor pangan sulit untuk tergantikan. Setidaknya, dilakukannya sinkronisasi dan integrasi antara industri dan pertanian (pangan).
Sekilas Sejarah Pertanian dan Pangan
Sejarah menginformasikan kepada manusia bahwa, sejak zaman Adam hingga abad ke-21 ini sektor pertanian dan pangan memegang peranan yang sangat vital dalam menjaga keberlangsungan kehidupan. Jika dicermati, peradaban-peradaban besar yang pernah ada di dunia ini selalu didukung dengan faktor ketahanan pangan. Dapat disebutkan, Peradaban Sumeria (Iraq) sangat bertumpu pada mata pencaharian sektor pertanian dan produksi pangan. Peradaban ini berkembang di sekitar aliran sungai Eufrat dan Tigris, dimana daerah-daerah di sekitar aliran sungai tersebut menjadi subur dan sangat cocok untuk lahan budidaya pertanian.
Peradaban Mesir besar juga karena sektor pertanian. Peradaban ini didukung oleh aliran sungai Nil. Peradaban di India juga dibesarkan oleh adanya aliran sungai Ghangga yang menyuburkan daerah sekitarnya. Peradaban Tiongkok dengan sungai Yang tse. Ataupun negara Vietnam yang pertaniannya maju karena adanya dukungan dari sungai Mekhong yang membawa lumpur subur. Di nusantara sendiri, baik kerajaan Mataram lama maupun Mataram Islam meletakkan strategi ekonominya pada sektor agraris.
Sebelum masyarakat dunia mengenal bercocok tanam, pada awalnya usaha untuk mendapatkan pangan diawali dengan mencarinya di hutan. Usaha ini dilakukan manusia ketika masih hidup nomaden (berpindah-pindah). Namun, setelah menjalani kehidupan yang sedenter (menetap) dimulailah aktivitas bercocok tanam (Mangoendidjojo, 2003). Yaitu, dengan meletakkan atau menanam biji-bijian yang didapatkan dihutan. Setelah sekian lama maka, metode budidaya, jenis peralatan, dan produksi yang mampu dihasilkan pun semakin meningkat sampai di zaman modern ini. Pada masa klasik, untuk meningkatkan dan mengelola produksi pangan, manusia menggunakan semua faktor yang berasal dari alam dan hanya didasarkan pada pengalaman yang diwariskan oleh pendahulunya. Perkembangan pengelolaan pertanian yang semakin maju tersebut juga sangat dipengaruhi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mulai dikenal di dunia.
Kebutuhan untuk meningkatkan produksi pangan tersebut juga dikarenakan adanya pertambahan jumlah penduduk dunia. Sehingga, manusia akan cenderung terus berpikir tentang bagaimana jumlah pangan yang didapatkan dari aktivitas budidaya pertanian terus meningkat. Hal ini dilatarbelakangi oleh sensitifnya ketersediaan pangan. Artinya, jika sektor pangan tidak mendapatkan perhatian lebih maka, akan mampu menyebabkan ketidakstabilan kehidupan. Akan mudah terjadi konflik bahkan hingga mengarah pada perpecahan. Namun, ketika kepentingan penduduk dunia untuk mendapatkan pangan mampu tercukupi dengan baik maka, kehidupan sosial akan mampu berjalan dengan baik pula. Jadi, dapat dikatakan bahwa, antara kestabilan ketersediaan pangan dengan kestabilan kehidupan adalah berbanding lurus.
Brown dan Eckholm (1997) berpendapat bahwa, kalau pun satu-satunya tujuan kita dalam pembangunan pertanian adalah penyediaan pangan yang cukup untuk penduduk dunia yang kian bertambah, kita tidak cukup hanya melipatgandakan produksi padi-padian, tetapi kita harus dapat meningkatkannya tiga kali lipat pada abad terakhir di milenium tersebut dan akan senantiasa mengalami peningkatan yang signifikan dalam waktu ke waktu.
Negara-negara yang meletakkan pilar ekonominya pada sektor pertanian umumnya juga sangat dipengaruhi faktor alam. Misal saja, negera-negara di khatulistiwa sangat memperhatikan faktor produksi pertanian karena didukung oleh faktor alam yang sangat cocok. Kecocokan tersebut datang dari, biodeversity termasuk varietas tanaman pangan yang mampu tumbuh dengan baik. Kemudian suhu, ketinggian tempat, intensitas penyinaran, dan curah hujan yang sesuai. Meskipun pasca revolusi industri banyak negara-negara yang meletakkan pondasi perekonomiannya pada sektor teknologi industri tetapi, tetap saja sektor pangan sulit untuk tergantikan. Setidaknya, dilakukannya sinkronisasi dan integrasi antara industri dan pertanian (pangan).
Sekilas Sejarah Pertanian dan Pangan
Sejarah menginformasikan kepada manusia bahwa, sejak zaman Adam hingga abad ke-21 ini sektor pertanian dan pangan memegang peranan yang sangat vital dalam menjaga keberlangsungan kehidupan. Jika dicermati, peradaban-peradaban besar yang pernah ada di dunia ini selalu didukung dengan faktor ketahanan pangan. Dapat disebutkan, Peradaban Sumeria (Iraq) sangat bertumpu pada mata pencaharian sektor pertanian dan produksi pangan. Peradaban ini berkembang di sekitar aliran sungai Eufrat dan Tigris, dimana daerah-daerah di sekitar aliran sungai tersebut menjadi subur dan sangat cocok untuk lahan budidaya pertanian.
Peradaban Mesir besar juga karena sektor pertanian. Peradaban ini didukung oleh aliran sungai Nil. Peradaban di India juga dibesarkan oleh adanya aliran sungai Ghangga yang menyuburkan daerah sekitarnya. Peradaban Tiongkok dengan sungai Yang tse. Ataupun negara Vietnam yang pertaniannya maju karena adanya dukungan dari sungai Mekhong yang membawa lumpur subur. Di nusantara sendiri, baik kerajaan Mataram lama maupun Mataram Islam meletakkan strategi ekonominya pada sektor agraris.
Sebelum masyarakat dunia mengenal bercocok tanam, pada awalnya usaha untuk mendapatkan pangan diawali dengan mencarinya di hutan. Usaha ini dilakukan manusia ketika masih hidup nomaden (berpindah-pindah). Namun, setelah menjalani kehidupan yang sedenter (menetap) dimulailah aktivitas bercocok tanam (Mangoendidjojo, 2003). Yaitu, dengan meletakkan atau menanam biji-bijian yang didapatkan dihutan. Setelah sekian lama maka, metode budidaya, jenis peralatan, dan produksi yang mampu dihasilkan pun semakin meningkat sampai di zaman modern ini. Pada masa klasik, untuk meningkatkan dan mengelola produksi pangan, manusia menggunakan semua faktor yang berasal dari alam dan hanya didasarkan pada pengalaman yang diwariskan oleh pendahulunya. Perkembangan pengelolaan pertanian yang semakin maju tersebut juga sangat dipengaruhi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mulai dikenal di dunia.
Kebutuhan untuk meningkatkan produksi pangan tersebut juga dikarenakan adanya pertambahan jumlah penduduk dunia. Sehingga, manusia akan cenderung terus berpikir tentang bagaimana jumlah pangan yang didapatkan dari aktivitas budidaya pertanian terus meningkat. Hal ini dilatarbelakangi oleh sensitifnya ketersediaan pangan. Artinya, jika sektor pangan tidak mendapatkan perhatian lebih maka, akan mampu menyebabkan ketidakstabilan kehidupan. Akan mudah terjadi konflik bahkan hingga mengarah pada perpecahan. Namun, ketika kepentingan penduduk dunia untuk mendapatkan pangan mampu tercukupi dengan baik maka, kehidupan sosial akan mampu berjalan dengan baik pula. Jadi, dapat dikatakan bahwa, antara kestabilan ketersediaan pangan dengan kestabilan kehidupan adalah berbanding lurus.
1 comments 13 July, 2010
Ajaran Bung Karno Untuk Marhein dan Proletar
Posted by
Maringan Wahyudianto, SH
Labels:
umum
Sejak tanggal 8 Juli 2010 di berbagai suratkabar dan televisi di Indonesia diberitakan adanya aksi-aksi unjuk rasa yang diadakan berbagai kalangan masyarakat mengenai nasib rakyat miskin di Indonesia kita ini..
Semua orang yang betul-betul prihatin terhadap situasi bangsa dan negara kita dewasa ini pastilah akan menghargai aksi-aksi yang digelar di banyak kota di Indonesia, yang menuntut kepada semua fihak untuk memperhatikan keadaan puluhan juta rakyat miskin - dan setengah miskin –yang berjumlah puluhan juta, bahkan mendekati 100 juta jiwa.
Kiranya, kita patut memberi salut setinggi-tingginya kepada semua kalangan dari berbagai golongan masyarakat, tidak peduli dari organisasi kemasyarakatan apapun, dan dari aliran politik yang manapun, atau agama apa pun, yang dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, dan tulus serta jujur, sudah melakukan macam-macam kegiatan sosial atau perjuangan politik untuk membela kepentingan rakyat miskin pada umumnya, termasuk golongan marhaen dan proletar.
Terutama kepada kalangan pemuda, mahasiswa, penganggur, perempuan miskin, serta golongan rakyat miskin lainnya yang dengan susah-payah¸ dan dalam kehidupan sehari-hari yang sudah serba sulit karena berbagai penderitaan, masih secara sukarela menyediakan tenaga, waktu, dan fikiran untuk bersama-sama berjuang demi kepentingan rakyat miskin umumnya, yang jumlahnya puluhan juta orang.
Mempersoalkan nasib rakyat miskin adalah perlu sekali
Kalau kita ingat bahwa kalangan luas elit bangsa sudah begitu rusak moralnya atau begitu bejat akhlaknya, dan secara beramai-ramai bergelimang dengan harta haram dari hasil korupsi dan berbagai macam kejahatan dalam merampok atau menjarah harta negara dan rakyat lainnya maka aksi-aksi untuk membela rakyat miskin ini adalah kegiatan yang sungguh penting bagi bangsa secara keseluruhan.
Ketika kalangan atas (pemerintahan, DPR dan partai-partai politik) melakukan kongkalikong soal skandal besar bank Centuty yang menyangkut dana Rp 6, 7 triliun, atau ketika heboh soal pajak perusahaan Aburizal Bakri (Rp2, 4 triliun) tak tentu arahnya, atau ketika kasus korupsi besar-besaran para petinggi POLRI masih terus diusut, atau ketika kasus-kasus hakim dan jaksa yang menyangkut ratusan milyar rupiah juga masih banyak yang belum terbongkar, maka mempersoalakan penderitaan orang miskin jang puluhan juta jumlahnya itu adalah satu hal yang perlu dan baik sekali.
Sebab, berdasarkan angka-angka resmi pemerintah (BPS, menurut Kominfo-Newsroom) ) jumlah rakyat miskin dalam bulan Maret 2010 adalah sebesar 31,02 juta jiwa (13,33%). Walaupun ada banyak kalangan yang tidak mempercayai sepenuhya angka-angka BPS ini (sebab ada yang mengatakan bahwa angka seluruh rakyat miskin yang sebenarnya adalah mendekati 40 juta jiwa) namun jumlah 31 juta jiwa orang miskin nyatanya sudahlah besar sekali !
Menurut angka-angka resmi itu persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan pada Maret 2009 sekitar 63,38 persen penduduk miskin berada di daerah perdesaan,
Berdasarkan pengalaman selama berpuluh-puluh tahun sejak pemerintahan Orde Baru sampai sekarang jumlah rakyat miskin masih tetap terus tinggi dari tahun ke tahun. Dan sekarang pun tidak bisa diharapkan bahwa jumlah orang miskin di Indonesia akan bisa berkurang dalammasa dekat. Bahkan sebaliknya !!! Dengan adanya berbagai krisis ekonomi atau keuangan di dunia, yang mengakibatkan memburuknya situasi ekonomi Indonesia juga, maka jumlah orang miskin di negeri kita masih akan tetap tinggi, kalau tidak makin meningkat!
Penduduk Indonesia sekarang sudah 238 juta jiwa
Untuk bisa membayangkan betapa besar persoalan yang dihadapi negara dan bangsa kita baiklah kita ketahui bahwa Sensus Penduduk 2010 menunjukkan jumlah penduduk Indonesia sekitar 238 juta jiwa. Ini berarti bahwa jumlah penduduk negara kita adalah nomor ke-4 di dunia, sesudah China, India dan Amerika Serikat. Dalam kurun sepuluh tahun terakhir jumlah anak bangsa bertambah sekitar 35 juta orang. Atau, saban tahun, pertambahan penduduk Indonesia setara dengan jumlah penduduk Singapura. Dalam tahun 2100 bukan tidak mungkin bahwa jumlah orang yang mendiami negeri ini mencapai 1 miliar.
Perlu kita catat bahwa 60% penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa yang luasnya hanya 10% dari total luas Indonesia. Komposisi tersebut tidak akan berubah jika dibandingkan dengan kondisi 40 tahun lalu, bahkan mungkin juga dalam beberapa puluh tahun lagi di masa datang.
Perlu kita catat bahwa 60% penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa yang luasnya hanya 10% dari total luas Indonesia. Komposisi tersebut tidak akan berubah jika dibandingkan dengan kondisi 40 tahun lalu, bahkan mungkin juga dalam beberapa puluh tahun lagi di masa datang.
Dari sudut pandang ini pulalah kita perlu melihat pentingnya segala aksi, segala kegiatan atau segala macam perjuangan yang berkaitan dengan tujuan untuk membebaskan rakyat miskin kita yang sekarang berjumlah puluhan juta dari segala macam penderitaan berkepanjangan. Dan lebih penting lagi, kalau kita ingat bahwa masalah rakyat miskin ini akan masih tetap menjadi persoalan besar bagi bangsa selama beberapa puluh tahun lagi di masa datang.
Rakyat miskin kita yang puluhan juta ini, terdiri dari macam-macam kalangan dan golongan dari berbagai suku, agama, faham politik atau aliran fikiran, yang tersebar di seluruh Indonesia dan terutama sekali di pulau Jawa. Umumnya, mereka itu merupakan “kelas bawah” yang menjadi korban segala macam penindasan, pemerasan, perampokan, penjarahan, dari kalangan atas bangsa sendiri, atau juga merupakan korban rejim militer Orde Baru, dan sekarang ini korban dari politik pro neo-liberalisme yang dijalankan oleh berbagai pemerintahan.
Kelas bawah tidak boleh ilusi terhadap kelas atasan
Kelas bawah yang terdiri dari rakyat miskin yang jumlahnya besar itu tidak bisa (dan juga tidak boleh !!!) mengharapkan adanya pembebasan dari segala macam penderitaan, hanya dari “kemauan baik”, atau “murah hati”, atau janji-janji yang muluk-muluk para pemimpîn atau tokoh-tokoh di pemerintahan, DPR, partai-partai politik, yang sudah puluhan tahun digembar-gemborkan terus-menerus dengan berbagai jalan dan cara. Sekarang sudah makin jelas dan banyak terbukti, bahwa mereka itu sambil berkaok-kaok setinggi langit atas nama “kepentingan rakyat”, atau demi “kesejahteraan rakyat”, sedang mencuri harta rakyat dan negara secara besar-besaran.
Kerusakan moral, atau kebejatan akhlak di kalangan atas, baik di kalangan pemerintahan ataupun di kalangan masyarakat (temasuk di kalangan pemuka-pemuka agama) sudah sedemikian besarnya dan parahnya, sehingga banyak sekali orang dari berbagai kalangan dan golongan yang tidak punya harapan lagi bahwa masalah rakyat miskin dapat merek a pecahkan dengan baik. Tidak sekarang ini, dan juga tidak di masa datang, mungkin sampai puluhan tahun lagi !!! Harapan bahwa akan bisa ada perobahan besar-besaran dari atas atau perbaikan fundamenal oleh kalangan atas adalah hanyalah omong-kosong atau hanya ilusi yang harus dicampakkan jauh-jauh.
Perlulah kiranya ditegaskan lagi berulang-ulang bahwa perubahan yang benar-benar menguntungkan kepentingan rakyat tidak bisa diciptakan oleh kalangan atas (baik sipil maupun militer, termasuk swasta) yang memerintah atau menguasai kehidupan negara dan bangsa. Dan keadaan yang demikian itu jugalah yang kita saksikan dewasa ini, dengan apa yang terjadi di masa pemerintahan SBY.
Oleh karena itu, sekarang makin jelas bahwa perubahan mendasar dan besar-besaran hanya bisa diharapkan dari kalangan bawah, atau bersama-sama kalangan bawah, atau oleh kalangan bawah, yang bersatu dengan dengan kekuatan-kekuatan lainnya yang sungguh-sungguh pro rakyat. Sebab, justru kalangan bawahlah yang paling berkepentingan dengan adanya perubahan-perubahan besar dan fundamental. Bukan kalangan atas, yang sebaliknya, malahan menghambat atau mencegah adanya perubahan-perubahan besar dan fundamenaL
Kelas bawah adalah sumber dan pendorong perubahan
Karena kalangan bawahlah yang paling memerlukan adanya perubahan besar-besaran dan fundamental demi perbaikan hidup dan pembebasan dari penderitaan, maka mereka bisa merupakan pendorong utama dalam segala aksi atau kegiatan untuk perubahan ini. Dengan kalimat lain bisalah kiranya dikatakan bahwa kalangan bawah (yang sebagian terbesar terdiri dari rakyat miskin) bisa menjadi kekuatan pokok dari perjuangan. Berbagai penderitaan rakyat miskin adalah sumber kekuatan dan sumber inspirasi revolusioner untuk perubahan, baik untuk dewasa ini maupun di masa yang akan datang.
Oleh karena kondisi sosial ekonomis rakyat miskin pada umumnya sangatlah minim, dan banyak yang terpaksa hidup serba kekurangan dalam banyak hal (pendidikan, kesehatan, pangan dll) maka sungguh-sungguh merupakan hal yang patut kita hargai dan juga kita hormati, bahwa mereka masih mau melakukan kegiatan-kegiatan atau berjuang. Sebab, kalau dilihat dari pandangan yang jauh, aksi-aksi atau kegiatan mereka itu tidaklah hanya untuk kepentingan mereka sendiri, melainkan untuk negara dan bangsa juga.
Aksi-aksi atau berbagai kegiatan untuk menyuarakan aspirasi rakyat miskin yang diadakan di berbagai kota di Indonesia baru-baru ini, merupakan cambuk kepada kita semua, untuk mengingatkan bahwa di tengah-tengah heboh karena banyaknya pejabat-pejabat yang menjadi penjahat, serta bergelimangnya kalangan atas dengan bermacam-macam harta haram, maka masih ada lebih dari 30 juta rakyat kita yang miskin dan hidup sengsara. Aksi-aksi atau berbagai kegiatan yang berkaitan dengan perjuangan rakyat miskin ini sebenarnya merupakan sumbangan besar bagi pendidikan politik yang penting dan berharga untuk kita semua. Ini menunjukkan, dan dengan jelas pula, bahwa politik berbagai pemerintahan kita selama ini lebih banyak menguntungkan kalangan atas -- yang umumnya sudah kaya -- dan berbagai gologan reaksioner yang tidak mempedulikan nasib rakyat.
Perjuangan rakyat miskin perlu kita bantu sebesar-besarnya
Karena itu, adanya berbagai kalangan dari golongan pemuda, mahasiswa, perempuan, pekerja, penganggur, yang ikut menyatukan diri dalam perjuangan rakyat miskin adalah suatu hal yang amat penting bagi tumbuhnya kekuatan rakyat miskin sebagai bagian yang utama dari pendorong perubahan besar dan fundamental di negeri kita. Ikut sertanya berbagai golongan dalam perjuangan rakyat miskin kita patutlah disambut dengan gembira dan dibantu sebanyak-banyaknya dan sebesar-besarnya oleh seluruh lapisan masyarakat, yang menginginkan juga adanya perubahan-perubahan besar dan fundamental.
Kita semua perlu memberikan bantuan – dengan segala cara dan bentuk - kepada mereka (terutama yang dari kalangan muda, mahasiswa, atau perempuan) yang telah terjun berjuang bersama-sama dengan rakyat miskin. Sebab, kita bisa mengetahui bahwa kebanyakan dari mereka itu sudah hidup dalam kekurangan juga. Karena itu, pengorbanan mereka sungguh besar sekali ! Dari sinilah kelihatan benar besarnya perbedaan dengan sikap kebanyakan kelas atas atau orang-orang reaksioner dan kaya, yang masih getol menumpuk kekayaan haram dari pemerasan terhadap rakyat banyak.
Mengingat itu semua, maka makin jelaslah bagi kita sekarang ini, bahwa nasib rakyat miskin yang jumlahnya lebih dari 30 juta (dan sekitar 100 juta kalau dengan yang setengah miskin) tidak bisa diubah oleh pemerintahan- pemerintahan yang menjalankan berbagai politik type Orde Baru dan penerus-penerusnya sampai sekarang. Sebab, berbagai pemerintahan dengan sistem politik yang seperti sekarang ini, akan tetap terus menimbulkan persoalan-persoalan yang membikin sengsaranya rakyat dan hanya menguntungkan kelas penghisap yang reaksioner, yang kebanyakan bejat moralnya dan yang busuk akhlaknya, seperti yang bisa kita saksikan bersama dewasa ini.
Dengan tokoh-tokoh seperti yang sekarang menguasai kehidupan negara dan pemerintahan, -- termasuk DPR dan berbagai lembaga atau partai politik (yang tergabung dalam komplotan Setgab Koalisi) -- maka mustahillah akan adanya perubahan-perubahan besar dan fundamental yang menguntungkan rakyat banyak. Karena, mereka akan menentang -- dengan segala jalan dan cara -- adanya perubahan besar-besaran dan fundamental yang hanya akan merugikan kepentingan mereka sendiri. Yang banyak mereka lakukan hanyalah rhetorika yang bagus-bagus dan muluk-muluk untuk menutupi segala macam kejahatan mereka terhadap kepentingan bangsa dan rakyat.
Partai-partai politik reaksioner “membeli” suara rakyat miskin
Sekarang makin jelas bagi kita semua, bahwa rakyat miskin dan setengah miskin di negeri kita, yang jumlahnya mendekati 100 juta jiwa itu merupakan salah satu di antara berbagai faktor penting dalam perjuangan perebutan pengaruh dalam kehidupan politik di negeri kita. Oleh karena itu, berbagai partai politik telah, sedang dan akan terus mengadakan segala macam usaha untuk “membeli” suara rakyat (termasuk rakyat miskin) dalam berbagai pemilu, dengan uang, sembako, pembagian hadiah yang macam-macam, serta janji-janji muluk-muluk yang sering disertai dengan berbagai sumpah dll.
Menurut pengalaman yang sudah-sudah, tidak sedikit dari rakyat miskin yang dapat “dibeli” oleh kekuatan-kekuatan reaksioner ini karena besarnya dana yang bisa mereka gunakan untuk “merebut hati” rakyat, terutama mereka yang dalam keadaan serba kekurangan. Kita sudah sering mendengar bahwa kebanyakan partai-partai politik yang ikut pemilu harus mengeluarkan beaya yang besar sekali bahkan sampai triliunan rupiah. Kiranya, sudah jelas bahwa dana yang besar-besar itu tidak mungkin mereka peroleh hanya dari iuran anggota atau hanya merupakan sumbangan sukarela dari para simpatisan., melainkan terutama sekali dari segala macam sumber gelap dan haram.
Tujuan perjuangan rakyat miskin, yang umumnya digerakkan dari bawah oleh dan bersama-sama berbagai aktivis dalam keadaan yang serba sulit, adalah sama sekali berlainan, bahkan, sangat bertentangan dengan tujuan kebanyakan partai yang ikut pemilu 2009. Kalau partai-partai yang ikut pemilu 2009 itu berusaha dengan segala cara dan jalan (termasuk komplotan yang berbentuk koalisi atau konfederasi) untuk mengkonsolidasi kekuasaan mereka, maka perjuangan rakyat miskin justru bertujuan untuk mengadakan perubahan-perubahan besar dan fundamental dalam kekuasaan ini sehingga bisa menjadi kekuasaan politik yang benar-benar pro-rakyat.
Ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno pedoman penting untuk perjuangan
Untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam kekuasaan politik yang sudah berlangsung puluhan tahun sejak rejim militer Orde Baru tidak ada jalan lain, dan juga tidak ada cara-cara lain, kecuali mentrapkan inti ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno. Ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno pada pokoknya menganjurkan atau mengajak seluruh bangsa untuk terus-menerus menggerakkan dan mengkobarkan revolusi, dan melawan segala macam pemerasan dan penindasan terhadap rakyat oleh segala kekuatan reaksioner dalam negeri maupun luar negeri.
Sepanjang sejarah bangsa Indonesia sampai sekarang, ajaran-ajaran Bung Karno adalah satu-satunya fikiran besar untuk dipakai sebagai pedoman perjuangan rakyat, yang sari patinya masih sangat relevan untuk digunakan menanggulangi masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa dan negara dewasa ini. Ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno adalah pedoman moral di bidang politik dan petunjuk atau pembimbing dalam perjuangan revolusioner
Ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno adalah gudang yang sangat kaya dengan berbagai pedoman besar bagi semua kekuatan yang berjuang untuk kepentingan rakyat miskin, bagi wong cilik, bagi kaum marhaen, bagi kaum proletar dan bagi rakyat banyak lainnnya. Ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno adalah petunjuk bagi kita semua untuk menyelesaikan revolusi bangsa Indonesia yang belum selesai.
Paris, 11 Juli 2010
A. Umar Said
0 comments 12 July, 2010
Tidak Bisa Dibeli
Posted by
Maringan Wahyudianto, SH
Labels:
umum
Sering kali kita berpikir, apapun bisa dibeli dengan uang..entah itu barang yang sangat mahal, barang yang sangat langka dll. Tapi gak semua yang ada di dunia ini bisa dibeli dengan uang. Tetapi ada yang tidak bisa dibeli dengan uang.
1. KETULUSAN
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.
2.KERENDAHAN HATI
Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahan hati justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.
Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahan hati justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.
3. KESETIAAN
Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.
4. BERSIKAP POSITIF
Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya.
5. KECERIAAN
Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.
6. BERTANGGUNG JAWAB
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.
7. PERCAYA DIRI
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.
8. BERJIWA BESAR
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.
9. EASY GOING
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.
10. EMPATI
Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain
sumber
0 comments 11 July, 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)




