Devaluasi Rupiah dan Prospek Dinar-Dirham

Keterpurukan rupiah terhadap dolar AS mendorong sebagian masyarakat kita melirik mata uang dinar dan dirham. Hal yang dapat dipahami. Sebab melemahnya rupiah bukan hanya mendestabilkan masalah ekonomi makro dan mikro, tapi membuat masyarakat dari berbagai lapisan harus menelan pil pahit akibat devaluasi rupiah. Harga berbagai jenis barang dan jasa naik antara 2,5 hingga 30 persen.

Lalu, apakah penggunaan mata uang dinar yang berbahan utama emas 22 karat dan dirham yang berbahan utama perak dapat menyelamatkan destruksi rupiah? Secara empirik, dinar dan dirham belum pernah menyulitkan negara dan bangsa yang menggunakannya. Dan secara teoritik --hal ini yang jauh lebih menarik-- dinar dan dirham terbebas dari tindakan spekulatif dan inflasi, bahkan tindakan pemalsuan.

Dinar dan dirham tak bisa dimainkan sebagai komoditas yang bisa diperdagangkan. Celah memperdagangkannya memang masih ada. Tapi ketiadaan margin dari transaksinya membuat ketidakmauan para spekulan di manapun. Inilah makna utama mendasar keseimbangan nilai intrinsik dengan nilai nominal pada dinar dan dirham.

Layak dilirik
Mencermati keunggulannya, dinar dan dirham layak kita lirik lebih jauh untuk digunakan sebagai alat transaksi dan sebagai penambah mata uang yang berlaku seperti halnya Saudi Arabia yang tetap memberlakukan real, di samping dinar dan dirham. Sebuah renungan yang perlu dijawab, bagaimana prospek persebaran dinar dan dirham? Ada dua variabel yang perlu kita sorot. Variabel pertama, cukup memberi harapan konstruktif. Dalam perspektif kepentingan nasional Indonesia, dinar dan dirham punya prospek yang cukup cerah. Dilandasi jumlah populasi masyarakat Muslim dan pengalaman pahit devaluasi rupiah terhadap dolar yang merusak sendi ekonomi makro dan mikro, maka kecil kemungkinan terjadi penolakan.

Dalam perspektif regional, baik wilayah Asia Tenggara atau Timur Tengah, kita saksikan jumlah populasi yang lebih fantastik. Bagaimanapun, jumlah 755.366.031 jiwa untuk seluruh penduduk Timur Tengah adalah angka yang sangat gemuk, menjanjikan, dan prospektif jika digarap serius. Tingkat permintaan dinar dan/atau dirham akan jauh lebih ''hiperbolik'' jika dikaitkan dengan kegiatan perdagangan luar negerinya (ekspor-impor). Menurut data Islamic Development Bank (IDB), sekadar data pendukung sampai menjelang tahun 2000-an saja, volume ekspor seluruh negara-negara Islam anggota IDB mencapai 377,9 miliar dolar AS, sedangkan impornya mencapai 382,2 miliar dolar AS.

Mata uang tunggal
Satu hal yang cukup menarik dicatat, pendayagunaan dinar dan dirham secara fantastik praktis akan mengurangi ketergantungan tunggal terhadap dolar AS. Makna reflektifnya adalah akan semakin kecilnya kemungkinan negara-negara pengguna dinar dan dirham setiap saat digoyang produsen dolar AS, juga para fund manager --yang sejauh ini terus malakukan spekulasi secara destruktif untuk kepentingannya sendiri.

Kian mengecilnya ketergantungan terhadap dolar AS --dengan demikian-- akan berkorelasi konstruktif terhadap upaya stabilisasi ekonomi makro dan mikro. Inilah spirit perlindungan kebangsaaan terhadap kepentingan nasional yang seharusnya menjadi warna baru nasionalisme saat ini.

Jika kita tengok ke belahan lain (negara-negara Eropa), tampaknya spirit menjaga stabilitas ekonomi makro itulah yang akhirnya menyepakati mata uang euro. Euro adalah jawaban konstruktif atas ketergantungan tunggal terhadap dolar AS. Kita perlu mencatat, meski dolar masih berlaku sebagai salah satu alat transaksi di belahan Eropa, tapi munculnya euro mampu mengurangi secara signifikan kedigdayaan dolar.

Eropa mampu memberlakukan euro. Mampukah negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim memberlakukan dinar atau dirham? Sikap politik ini sebagai variabel kedua tidak mudah. AS sebagai produsen dolar akan merasa terlecehkan citra nasionalnya jika negara-negara Islam bergerak merapatkan barisan demi kesatuan mata uang.

Jika sang adidaya AS tersinggung, ia tak akan diam. Ia akan mengabaikan hak demokrasi masing-masing negara --termasuk dalam hal penggunaan mata uangnya-- dengan menggencarkan sejumlah rekayasa destruktif. Salah satunya --atas nama kelestarian lingkungan dan sejumlah dalih taktis lainnya-- AS akan memberlakukan sejumlah prosedur yang akan mempersulit kepentingan para eksportir asal negara-negara bermata uang dinar-dirham baru.

Mencermati reaksi AS ini, sebuah pertanyaan yang harus dijawab adalah mampukah negara-negara yang siap memberlakukan dinar-dirham ini mengurangi ketergantungan tunggal ekspornya ke AS? Secara objektif, tantangan itu tidak mudah dijawab karena sudah menikmati sekian lama manisnya ekspor ke belahan AS. Dan bagi negara-negara Islam itu sendiri pun --sangat boleh jadi-- tak rela memutuskan hubungan ekspor ke AS.

Sekadar data, komunikasi bisnis mereka ke negara-negara industri termasuk ke AS mencapai 210,7 miliar dolar AS. Angka yang fantastik ini --secara bisnis ataupun psikologis-- akan membuat dirinya terus terjerat dan sulit keluar dari ketergantungannya. Namun demikian --sebagai refleksi kuatnya nasionalisme dalam arti luas-- para kepala pemerintahan dari negara-negara Islam ataupun para pebisninya perlu mencari pasar baru, misalnya di belahan Eropa sebagai alternatif negara tujuan ekspor.

Jika perlu, antarnegara Islam itu sendiri menciptakan ikatan hubungan ekspor-impor. Barangkali, sudah saatnya, negara-negara Islam membangun ''Pasar Bersama Dunia Islam'' di mana masing-masing dipersilakan mengeksplorasi keberadaan pasar bersama itu secara konstruktif. Hingga menjelang tahun 2000-an, hubungan bisnis antarnegara Islam --boleh jadi karena belum ada Pasar Bersama Dunia Islam-- hanya tercatat 35,9 miliar dolar AS (ekspor) dan hanya 39,4 miliar dolar AS (impor). Sebuah catatan yang cukup memprihatinkan dalam konteks kerja sama ekonomi dan bisnis antarnegara Islam.

Kita berasumsi, pengalihan tujuan ekspor berhasil diwujudkan. Atau -setidaknya-- Pasar Bersama Dunia Islam terealisasi. Akankah AS diam? Tetap. Ia akan bereaksi negatif. Instrumen pengereman melalui amputasi peluang ekspor akan ditindaklanjuti dengan manuver lain yang --bisa jadi-- lebih jauh dan sadis: politicking dalam bentuk mengacaukan situasi politik domestik.

Langkah yang dimainkan bukan penciptaan konflik bilateral dan bersifat langsung dengan AS, tapi rekayasa konflik internal, meski instrumen yang dimainkannya sektor moneter. Dari pintu moneter, akan memanas suhu politik sebagai akibat ketidakpercayaan publik terhadap negara yang tidak mampu mengatasi gejolak ekonomi dan moneter. Bisa juga, melalui aksi politik, yakni dukungan (keberpihakan) terhadap kekuatan separatis atau yang berpotensi besar untuk melakukan pemisahan diri dari Pusat.

Jika kita meneropong sejumlah manuver AS dengan berbagai trik-trik jahatnya, maka prospek pemberlakuan dinar-dirham tetap dipertanyakan, terutama jika diharapkan menjadi mata uang regional yang berlaku di negara-negara Islam, misalnya. Karenanya, agenda pemberlakuannya harus lebih realistis: memenuhi permintaan domestik, terutama dalam kerangka menjawab instabilitas ekonomi makro yang dampaknya memprihatinkan bagi kepentingan ekonomi mikro.

Dengan argumen nasionalisme baru ini, kiranya sang produsen dolar akan memberikan kelonggaran tertentu. Di sinilah --jika Pemerintah mengeluarkan regulasi (perizinan) penggunaan mata uang dinar-dirham yang sah sebagai alat transaksi-- maka persebarannya di Tanah Air akan terlihat. Pada akhirnya, persebaran luasnya akan ikut mengurangi inflasi yang selama ini terus membuntuti, juga tidak terombang-ambing oleh ulah para spekulan. Dan itulah kontribusi nyata sistem moneter syariah yang ikut memperkuat sistem perekonomian nasional, sekaligus memperingan beban ekonomi masyarakat.

Agus Wahid
Direktur Eksekutif The International Institute of Islamic Thought Indonesia (IIIT-I)
READ MORE [...]

kepastian hukum tabrak keadilan

pada masa lalu, manipulasi dengan menggunakan bukti-bukti formal atas alasan kepastian hukum sangat banyak digunakan dalam berbagai kasus sehingga formalitas-formalitas sering dijadikan alat pemutihan tindak pidana, terutama kasus korupsi. Alasan yang digunakan untuk itu adalah konsep negara rechtstaat, sebagaimana tertuang dalam penjelasan UUD 1945. Oleh karena itu, kata rechtstaat yang ditempatkan dalm kurung (kunci pokok pertama sistem pemerintahan negara) Penjelasan UUD 145 dpersoalkan. Sebab, dengan adanya istilah rechtstaat, sering dilakukan manipulasi dengan mengatakan bahwa UUD 1945 (hanya) menghendaki kepastian hukum (rechtstaat) dan tidak menghendaki keadilan yang sulit diukur secara formal (te rule of law)

Kemudian, diperjuangkan agar negara Indonesia dikonsepkan secara tegas sebagai negara hukum yang prismatis, menggabungkan segi-segi positif antara rechtstaat dan kepastian hukumnya dan the rule of law dengan rasa keadilannya secara integratif, bukan hanya rechtstaat dan bukan hanya the rule of law.

melalui amandemen UUD 1945, yang meniadakan penjelasan konsepsi negara hukum Indonesia, kemudian dicantumkan pada pasal 1 ayat (3), yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara hukum, tanpa embel-embel (rechtstaat dan the rule of law). Perumusan tanpa embel-embel itu, sebenarnya dilakukan dengan sengaja (bukan sekedar penyederhanaan semantik) dengan maksud untuk memberi tempat yang lebih luas pada pemenuhan rasa keadilan (the rule of law) tanpa didominasi kepastian hukum dan formalitas (rechtstaat).

Dalam konteks "negara hukum" ini, sebenarnya kriminalisasi terhadap perbuatan melawan hukum secara materiil tidak dapat disalahkan. Artinya, demi tegaknya keadilan, seharusnya perbuatan yang tidak wajar, tercela, melanggar kepatutan, dan sebagainya dapat dipidanakan meski secara formal tidak ada undang-undang yang melarangnya.
READ MORE [...]

objektivikasi Islam

objektivikasi nilai-nilai Islam adalah proses transposisi konsep atau ideologi dari wilayah personal-subjektif ke ranah publikobjektif; dari ranah internal merambah ke wilayah eksternal, agar bisa diterima secara luas oleh publik. Secara subjektif, setiap Muslim berkeinginan agar syariat Islam diterapkan oleh negara. Namun, keinginan subjektif tersebut agar dapat dimenangkan di wilayah publik mesti memenuhi kriteria-kriteria tertentu seperti: kesesuaian dengan konteks dari segi ruang dan waktu; mempunyai hubungan rasional-organik; memenuhi rule of the game; memenuhi prinsip pluralitas dan kehidupan bersama (non-diskriminatif) dan; resolusi konflik agar konsep dan ide tadi memenuhi prinsip keadilan publik.
READ MORE [...]

Tiga Prinsip Pembangunan Berkelanjutan

Ada tiga prinsip pembangunan berkelanjutan. ketiga prinsip tersebut menjamin agar ketiga aspek pembangunan di ats dipenuhi, dan dalam arti itu ketiga aspek pembangunan hanya mungkin dicapai kalau ketiga prinsip dasar ini dioperasionalkan sebagai sebuah politik pembangunan.

Pertama, prinsip demokrasi. prinsip ini menjamin agar pembagunan dilaksanakan sebagai perwujudan kehendak bersama seluruh rakyat demi kepentingan bersama seluruh rakyat. Dengan kata lain, pembangunan bukan dilaksanakan berdasarkan kehendak pemerintah atau partai politik demi kepentingan rezim atau partai yang sedang berkuasa. Ini sebuah prinsip moral paling mendasar, khususnya untuk menjamin bahwa apa yang diidealkan sebagai paradigma pembagunan berkelanjuatan bis amenjadi eluang untuk direalisasikan. Tanpa prinsip politik ini, sulit untuk berharap banyak bahwa pembangunan berkelnjutan dapat direalisasikan.

Kedua, prinsip keadilan. Prinsip ini pada dasarnya mau menjamin bahwa setiap orang dan kelompok masyarakat memperoleh peluang yang sama untuk ikut dalam proses bebangunan dan kegiatan-kegiatan produktif serta ikut dalam menikmati hasil-hasil pembangnan. Maka, pertama, prinsip keadilan menuntut agar ada perlakukan yang sama bagi semua orang dan kelompok masyarakat, dalam proses pembagunan, khususnya dalam partisipasi melaksanakan dan menikmati hasil pembagunan dan mempunyai akses terhadap peluang dan sumber-sumber ekonomi, termasuk sumber daya alam.

kedua, prinsip keadilan juga menuntut agar ada distribusi manfaat dan beban secara proporsional antar semua orang da kelompok masyarakat. Manfaat dan beban itu harus proporsional dengan peran dan kontribusinya dalam proses pembangunan.

ketiga, prinsip keadilan menuntut agar ada peluang yang sama bagi generasi yang akan datang untuk memperoleh manfaat secara sama atau proporsional dari sumber ekonomi yang ada.

keempat, prinsip keadilan juga menuntut agar kerugian yang akibat proses pembangunan yang dialami oleh kelompok masyarakat tertentu harus bisa ditebus atau dikompensasi secara seimbang atau proporsional baik oleh negara atau kelompok yang menimbulkan kerugian tersebut.
READ MORE [...]

MERDEKA DARI KORUPSI

 Telah tercatat dalam sejarah panjang bangsa, bahwa golongan atau kaum muda adalah massa penggerak sedangkan kaum tua adalah penyokong dan penasehat bagi pergerakan kaum muda, dan telah dibuktikan di masa-masa awal sebelum proklamasi dikumandangkan. Terbayangkan saat-saat itu merupakan masa paling indah dalam dunia pergerakan dan perjuangan, meski pahit tetapi dapat dirasakan betapa menggetarkan dan heroik. Perjuangan yang dilakukan secara bahu-membahu oleh semua golongan agar terbebas dari cengkeraman penjajahan fisik dan psikis kolonial Belanda dan pendudukan Jepang akhirnya membuahkan kemenangan terlepasnya belenggu tirani asing atas bumi nusantara.

Kenyataannya kini bangsa besar ini kini menghadapi penjajahan lainnya. Waktu 63 tahun pasca proklamasi akan bersaksi bahwa Indonesia hanya sekedar dongeng tidur karena negeri ini telah terjual oleh bangsanya sendiri. Telah remuk harga diri bangsa. Ikatan kuat sesama anak bangsa mulai lepas. Apa sebabnya kalau tidak karena korupsi.

Korupsi yang telah menjadi momok bagi Indonesia, penyebab kebobrokan segala bidang saat ini adalah seperti awan hitam yang menggelayut di atas langit, bisa dilihat tetapi tidak bisa disentuh. Kinerja KPK sebagai badan independen untuk mengatasi masalah korupsi harus lebih berani, sebab meskipun menunjukkan hasil namun kesan tebang pilih masih berjalan dan hukuman yang diberikan belum menimbulkan efek jera. Hanya sekian tahun, dengan denda yang tidak sebanding dengan apa yang telah mereka ambil, karena kurangnya bukti yang memberatkan para koruptor tersebut.

Kerusakan akibat korupsi di Indonesia bagai mata rantai yang tak putus, merusak sendi-sendi moral, martabat, dan harga diri bangsa, menghancur lumatkannya tanpa ampun. Entah apa yang akan dikatakan oleh para pendiri bangsa ini seandainya mereka bisa hidup lagi?

Seharusnya pemerintah mengumumkan perang terbuka melawan korupsi bila perlu mengumumkan keadaan darurat negara karena perang melawan korupsi. Koruptor adalah the real terrorists, melakukan genosida jangka panjang. Praktek judicial corruption adalah bukti nyata telah berkhianatnya aparat penegak hukum. Eksekutif yang cenderung melindungi pejabat korup, padahal representasi pro atau kontra kebijakan korupsi disandang langsung oleh sang presiden. Politisi di parlemen tersandung berbagai kasus korupsi. Politisi bahkan melakukan hipokrisi politik ketika melawan korupsi di tubuhnya sendiri.

Meski korupsi merupakan penyakit atau virus yang mematikan, para elit kekuasaan tetap belum melakukan langkah-langkah penyelamatan yang brilyan. Tayangan kasus korupsi yang belum terselesaikan dan terus berputar di lingkaran formalitas hukum dan komoditas politik semata. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa akar permasalahan bangsa dan negara ini adalah mental korup. Indonesia yang berumur 63 tahun tidak sedang mengalami krisis multidimensi namun monodimensi, yakni korupsi.(*)
READ MORE [...]

Kesalehan Sosial di Bulan Ramadhan

Ramadhan secara filosofis merupakan perjalanan biologis keimanan manusia, mengajak manusia bertamasya dalam alam transenden. Tawaran yang dijanjikan Allah berlipat kali dibandingkan pada bulan-bulan biasa. Tawaran transaksi ini ternyata disambut pada pekan-pekan pertama Ramadhan saja; selanjutnya terabaikan, karena ada disorientasi. Ini merupakan fenomena umat Islam, begitu bersemangat menjalankan ibadah Ramadhan di awal-awalnya, namun berkebalikan di pertengahan dan pengujung Ramadhan. Ramadhan sepi dari aktivitas ibadah, termasuk ibadah sosial.

Ramadhan disebut sebagai proses biologis, sebab rentang waktu di dalamnya memuat hikmah proses perjalanan mencetak manusia suci (the holy man), sebagaimana yang dikehendaki dari teks-teks yang menyuratkan bulan ini adalah berkah dan rahmat sebagai momentum metamorfosis manusia. Manusia dengan demikian dilatih untuk mengubah dirinya. Mengubah watak-watak lamanya menjadi watak yang bersesuaian dengan kehendak-Nya. Termasuk mengubah watak egoistik atau tiranik-otoriter, menjadi watak manusia sosial; manusia yang mau membela sesamanya.

Sayangnya, kesadaran transenden ini terabaikan begitu saja. Ibadah puasa Ramadhan dikerjakan hanya sebagai ritual wajib. Begitu pun bagi mereka yang memiliki kesadaran bahwa ibadah di Ramadhan memperoleh kompensasi (baca: pahala) berlipat ganda, ternyata orientasinya terjebak pada kuantitas. Maka, orientasi mengejar pahala dijadikan sebagai tujuan. Ini tidak salah. Hanya saja, bagaimana menjadikan “kesadaran berpahala” menjadi kesadaran beribadah yang terprogram. Pada sisi lain, bila titik tekannya pada orientasi pahala, lahirlah manusia-manusia militan semu, sebuah bentuk apresiasi keberagamaan yang dipengaruhi dinamika budaya, bukan manusia fundamental. Manusia yang memiliki visi perubahan, perjuangan dan bentuk-bentuk ketertundukan pada Allah sekaligus peranannya di ranah sosial (kesalehan sosial)

Terlepas apakah militansi itu dilatarbelakangi kehendak mengejar pahala ataukah budaya (misalnya, pakewuh bila tidak berpuasa), proses demikian akan melahirkan orientasi individu yang menonjol. Tujuan-tujuan demi kesalehan pribadi menjadi dominan. Padahal, agenda-agenda umat yang bersifat sosial atau kolektif jauh lebih besar. Di sini terjadi ketimpangan antara kesalehan pribadi yang mengejar pahala dan kebutuhan-sosial umat (yang masih tertinggal). Bila individu yang dikategorikan mengejar pahala dikritik sebagai manusia asosial, terlebih lagi individu yang beribadah hanya dilandasi budaya (alasan prestise).

Makna-makna kompensasi dari Allah belum ditransformasikan untuk tujuan lebih jauh. Kita banyak menemui banyaknya ibadah-ibadah maghdah yang dilakukan umat. Shalat misalnya. Pada Ramadhan, shalat wajib dan tarawih berjamaah mampu menyatukan semua lapisan sosial dalam satu gerak. Betapa indahnya bila konfigurasi umat ini dijalani pada bulan-bulan di luar Ramadhan.

Begitu pula aktivitas membaca Al Quran, dilakukan di segala tempat dan waktu. Tua-muda, pria-wanita, besar-kecil, membacanya. Tujuannya satu: mengejar janji pahala dilipatkan. Di sini relevan kritikan bahwa pembacaan Quran belum tuntas. Transformasi ayat-ayat-Nya sangat jarang dilakukan. Bahkan kesadaran untuk itu pun belum tentu dimiliki umat islam secara meluas. Pembacaan teks belum dilanjutkan (ada diskontinuitas) pada pembacaan sejarah.

Karena orientasi —lagi-lagi pada pahala— maka pencukupan pada kesalehan individu menjadi dominan tampil sebagai kesadaran keberagamaan umat. Padahal, sesungguhnya realitas umat membutuhkan uluran transformasi teks-teks itu. Masyarakat membutuhkan kesalehan sosial hasil dari tafsir sosial ayat pertama yang diterima Rasullullah saw, iqra’, bacalah. Tuntutan kepada umat ini untuk membaca. Bukan sekedar membaca teks tetapi konteks realitas dan perubahan sosial.

Baik shalat maupun membaca Quran adalah ibadah utama. Namun, lebih utama lagi sebagai menifestasi ketaatan pada Allah, bila umat Islam memperhatikan agenda-agenda keterbelakangan umat. Dengan shalat dan Quran-lah landasan perubahan ke arah perbaikan umat. Dan perhatian terhadap umat tentunya bukan berarti mengabaikan umat di luar Islam. Penitikberatan pada umat Islam dimaksudkan hanya sebagai kritik internal umat Islam.

Dalam Ramadhan, agenda sosial itu berwujud emansipasi pada kelompok marjinal. Dari sedekah hingga zakat dimaksudkan sebagai bentuk kepedulian para pemilik harta berkecukupan untuk membantu saudaranya. Bahkan, institusi zakat statusnya dinaikkan tidak sekedar dorongan, tetapi kewajiban. Persoalan institusionalisasi ini meliputi dua hal: pertama, bagaimana caranya melakukan penyadaran sosial secara merata kepada semua pihak; kedua, bagaimana pendistribusian yang merata kepada pihak yang berhak menerimanya. Termasuk dalam hal ini berbicara bagaimana mengelola harta zakat agar produktif bagi si penerimanya.

Ramadhan melatih umat Islam untuk menghadapi tantangan kecil (dipuasakan, ditahan) untuk tidak menikmati godaan duniawi. Latihan ini menjadi bekal atau persiapan pada masa yang akan datang. Yaitu tatkala menghadapi tantangan yang jauh lebih besar.

Godaan itu dikatakan berasal dari pribadi manusia, pada diri manusia itu sendiri yang disebut hawa nafsu. Godaan sebagai salah satu wujud tantangan itu dikatakan berhasil, bila ia menguasai jiwa manusia. Sebaliknya, manusia akan menjadi pahlawan bila ia mampu mengatasi persoalan pribadinya (hawa nafsu). Dari sini ia kemudian mengatasi tantangan di luar.

Karena bersifat konkret, godaan itu sulit dihindari. Terlebih lagi bila imunitas untuk menghadapi godaan itu tidak ada. Fenomena sepinya masjid di akhir-akhir Ramadhan menjadi gambaran paradoks untuk melukiskan antara semangat beragama (di satu sisi) dan tahapan pencapaian visi peradaban. Bagaimana mungkin peradaban akan terwujud bila pilar penegaknya mendegradasikan status manusia suci (yang dijanjikan Allah) menjadi manusia populis yang gandrung pada budaya massa, menjadikan ibadah sebagai seremonial?

Budaya massa ini hanyalah satu dari kronisme sikap manusia atas tawaran Allah untuk menjadikan manusia sebagai the holy man. Yang tidak berubah sikap rajin: rajin beribadah hanya di awal Ramadhan dan rajin bersibuk mempersiapkan untuk lebaran. Terlebih teladan dari pejabat dan pemimpin-peminpin negeri ini belum ada. Hanya muncul di awal Ramadhan dengan iklan ucapan selamat berpuasa dan di akhir Ramadhan dengan ucapan selamat hari raya Idul Fitri.

Selagi Ramadhan gagal memunculkan pahlawan peradaban, jangan optimis hadirnya perubahan. Maka, tahun ini akankah kita masuk ke dalam target Ramadhan, yakni manusia fitrah, the holy man? Komitmen dan aksi nyata di tengah masyarakatlah yang membuktikannya.

*Maringan Wahyudianto

Ketua KAMMI DIY Bidang Kebijakan Publik

*Tulisan ini pernah dimuat di koran Radar Jogja, puasa 2008


READ MORE [...]

Kenangan Akan Rokok

Ada seorang teman - tidak perlu disebutkan namanya - yang meminta saya menulis tentang rokok. Bukan tentang kandungannya, hukum halal dan haramnya, aspek kesehatannya ataupun aspek-aspek serius lainnya. Dia ingin saya menulis sesuatu yang menarik tentang rokok, sesuatu yang berbeda, tulisan yang melihat rokok dari aspek yang tidak biasa. Dan inilah hasilnya, serangkaian tulisan ringan tentang kemasan/bungkus rokok.

***

Alkisah (walah kayak cerita dongeng aja) saat masih SD saya mengoleksi kemasan rokok. Tapi bukan untuk dirokok, atau sebagai hobi, akan tetapi untuk main-main. Ceritanya jaman SD dulu sebagai anak kampung, kami punya permainan yang menjadikan bungkus rokok sebagai obyek permainannya.

Jadilah saya pengkoleksi berbagai kemasan rokok dari berbagai merek, mulai dari merek yang terkenal hingga saat ini seperti G*dang G*aram, D*arum, B*entoel. Merek-merek lokal medan seperti Commod*rre, G*alan. Hingga merek-merek yang langka dan entah masih ada atau tidak sekarang, seperti: Mansi*n, Uni*on dsb. Saat itu saya lebih tertantang untuk menemukan bungkus rokok bermerek anah dan nyentrik, coz nilai harga dalam permainannya jauh lebih tinggi dibandingkan merek terkenal.

Usaha saya gak main-main saat itu, mengais-ngais tempat sampah bukan hal yang tabu - he..he..he.. namanya juga anak-anak. Saya sering iri pada kawan-kawan yang ayahnya nge-rokok, coz mereka selalu punya stok baru dan banyak, bahkan saya sempat berfikir untuk meminta ayah merokok biar koleksi saya bertambah banyak dan berjanji pada diri sendiri nanti klo dah jadi ayah-ayah, saya akan merokok, biar anak saya punya koleksi bungkus rokok yang banyak.

Saat itu saya ambisius sekali untuk mengejar ketertinggalan koleksi dari temen-temen. Salah satu bentuk kerja keras saya adalah mengajak ayah untuk sering main ke rumah pa'de (abang iparnya mamak), coz pa'de saya itu perokok berat dan terkadang beliau membeli rokok merek yang unik dan berbeda dari biasanya. Kebiasaan pa'de itu yang membuat saya unggul dari teman-teman, yang paling saya ingat saat saya berhasil mendapatkan kemasan "Mansi*n" , yang membuat teman-teman sangat iri. Dan saya pun merasa MENANG.

Anak-anak, entah apa yang ada di pikiran saya saat itu. Mungkin hanya keceriaan dan kesenangan saja yang saya pikirkan. Kalau ditelaah saat ini, timbul keheranan, siapa coba yang menemukan permainan itu pertama kali ? apakah merupakan hasil dari buah kerja tim marketing perusahaan rokok ? coz efeknya sangat besar ke anak-anak saat itu. Saya dan teman-teman seolah dibuat terbiasa dan akrab dengan berbagai merek rokok, istilahnya brand awarrness kami terhadap merek rokok cukup tinggi. Dan tidak heran sekarang dapat saya pastikan semua yang pernah bermain bersama saya saat itu sekarang merokok.

Ah... memang hebat juga pemasar-pemasar rokok itu

*Arief Mai Rakhman (Ulat Boeloe)
READ MORE [...]

tentang Gie dari Djin

Ada dua hal yang membuat saya sulit untuk menulis tentang almarhum adik saya, Soe Hok Gie. Pertama, karena terlalu banyak yang mau saya katakan, sehingga saya pasti akan merasa kecewa kalau saya menulis tentang dia pada pengantar buku ini. Kedua, karena bagaimanapun juga, saya tidak akan dapat menceritakan tentang diri adik saya secara obyektif. 

Saya terlalu terlibat di dalam hidupnya. Karena itu, untuk pengantar buku ini, saya hanya ingin menceritakan suatu peristiwa yang berhubungan dengan diri almarhum, yang mempengaruhi pula hidup saya dan saya harap, hidup orang-orang lain juga yang membaca buku ini. Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya.

Dia berkata, "Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian". Saya tahu, mengapa dia berkata begitu. Dia menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai "Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja". Ibu saya sering gelisah dan berkata: " Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang". Terhadap ibu dia Cuma tersenyum dan berkata "Ah, mama tidak mengerti". 

Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju - mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: "Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si., saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya". 

Karena itu, ketika seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya: "Gie seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, deritaan" Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap. 

Dalam suasana yang seperti inilah dia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini dengan beberapa teman-teman mahasiswa yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966. Ketika dia tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, dia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib. Herman lantang. 

Suasana ini juga yang ada, ketika saya berdiri menghadapi jenazahnya di tengah malam yang dingin, di rumah lurah sebuah desa di kaki Gunung Semeru. Jenazah tersebut dibungkus oleh plastik dan kedua ujungnya diikat dengan tali, digantungkan pada sebatang kayu yang panjang, Kulitnya tampak kuning pucat, matanya terpejam dan dia tampak tenang. Saya berpikir: "Tentunya sepi dan dingin terbungkus dalam plastik itu". Ketika jenazah dimandikan di rumah sakit Malang, pertanyaan yang muncul di dalam diri saya alah apakah hidupnya sia-sia saja? Jawabannya saya dapatkan sebelum saya tiba kembali di Jakarta. 

Saya sedang duduk ketika seorang teman yang memesan peti mati pulang. Dia tanya, apakah saya punya keluarga di Malang? Saya jawab "Tidak. Mengapa?" Dia cerita, tukang peti mati, ketika dia ke sana bertanya, untuk siapa peti mati ini? Teman saya menyebut nama Soe Hok Gie dan si tukang peti mati tampak agak terkejut. "Soe Hok Gie yang suka menulis di koran? Dia bertanya. Teman saya mengiyakan. Tiba-tiba, si tukang peti mati menangis. Sekarang giliran teman saya yang terkejut. Dia berusaha bertanya, mengapa si tukang peti mati menangis, tapi yang ditanya terus menangis dan hanya menjawab " Dia orang berani. 

Sayang dia meninggal". Jenazah dibawa pleh pesawat terbang AURI, dari Malang mampir Yogya dan kemudian ke Jakarta. Ketika di Yogya, kami turun dari pesawat dan duduk-duduk di lapangan rumput. Pilot yang mengemudikan pesawat tersebut duduk bersama kami. Kami bercakap-cakap. Kemudian bertanya, apakah benar jenazah yang dibawa adalah jenazah Soe Hok Gie. Saya membenarkan. Dia kemudian berkata: "Saya kenal namanya. Saya senang membaca karangan-karangannya. Sayang sekali dia meninggal. 

Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak, kalau dia hidup terus". Saya memandang ke arah cakrawala yang membatasi lapangan terbang ini dan hayalan saya mencoba menembus ruang hampa yang ada di balik awan sana. Apakah suara yang perlahan dari penerbang AURI ini bergema juga di ruang hampa tersebut? Saya tahu, di mana Soe Hok Gie menulis karangan-karangannya. Di rumah di Jalan Kebon jeruk, di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram, karena voltase yang selalu turun akalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, seringkali masih terdengar suara mesin tik dari kamar belakang Soe Hok Gie, di kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangannya. 

Pernahkan dia membayangkan bahwa karangan tersebut akan dibaca oleh seorang penerbang AURI atau oleh seorang tukang peti mati di Malang? Tiba-tiba, saya melihat sebuah gambaran yang menimbulkan pelbagai macam perasaan di dalam diri saya. 

Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata "Ya" atau "Tidak", meskipun Cuma di dalam hatinya. Saya terbangun dari lamunan saya ketika saya dipanggil naik pesawat terbang. Kami segera akan berangkat lagi. Saya berdiri kembali di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik "Gie, kamu tidak sendirian". Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yang saya katakan itu. Suara pesawat terbang mengaum terlalu keras. Arief Budiman (Soe Hok Djin)  

-seperti dimuat dalam buku Catatan Seorang Demonstran edisi 1993
READ MORE [...]

inspirasi

“Whether we succeed in life is partly out of our hands, but by persisting we offer lightning more chances to strike.”
(“The Drunkard’s Walk: How Randomness Rules Our Lives” karangan Leonard Mlodinow)
--------------------------------------------------------------------------------------------

Winners vs losers

One day a student asked to his teacher
“Teacher, what should I do so I can become a winner
in this life not a loser?”
And the teacher said,
“You have to learn the distinguish between them.”

If the loser is always a part of the problem
Then the winner is always a part of the answer.
If the loser always has an excuse
Then the winner is always a program..
If the loser says: “That’s not my job!”
Then the winner says: “Let me do it for you!”
If the loser sees a problem in every answer.
Then the winner sees the answer for every problem.
If the loser sees two or three sand traps near every green
Then the winner sees a green near every sand trap.
If the loser says: “It may be possible, but it’s too difficult!”
Then the winner says: “It may be difficult, but it’s possible!”

If you are willing to do all the winner list,
You will be become winner.
(Majalah Percikan Iman)
--------------------------------------------------------------------------------------------

“Luck is what happen when preparations meet opportunity”
(unknown)
--------------------------------------------------------------------------------------------

“Why do we fall, sir? So that we might learn to pick ourselves up.“
(Alfred Pennyworth, dalam film Batman Begins)
--------------------------------------------------------------------------------------------

“never lean back on good fortune, honest and creative to achieve the highest possible dream”
(atrix, unknown)
--------------------------------------------------------------------------------------------

“kalau kamu gagal atau belum mencapai tujuan kamu, berarti cara yang kamu gunakan belum cukup, jadi teruslah cari cara-cara lain, dan jangan pernah berpikir harus bagaimana lagi?”.. well, in many ways failure can make people being more and more creative…
(saski, unknown)
--------------------------------------------------------------------------------------------
READ MORE [...]

Ekstra Parlementer, Gerakan Politik KAMMI


Pengkhianat KAMMI sejati adalah orang-orang yang telah memilih pengkhianat sebagai pemimpinnya. (ikhwankiri)

Menginjak tahun kesebelas sesungguhnya KAMMI sedang menghadapi ujian yang cukup berat berkaitan dengan perannya sebagai gerakan politik ekstra parlementer yang memilih sikap oposan dan kritis terhadap berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Sikap penolakan KAMMI terhadap kebijakan pemerintah yang tidak populis dan merugikan rakyat harus diakui belum dibarengi dengan kajian dan strategi yang matang sehingga berakibat pada setiap aksi yang dilakukan oleh KAMMI belum memiliki posisi tawar (bergaining power) yang diperhitungkan dihadapan aparat birokrat. Lihat saja aksi-aksi KAMMI dan aliansi gerakan dalam tiga kali kenaikan harga BBM pemerintahan SBY-JK dianggap angin lalu dan distigmakan sebagai gerakan anarkis.

Belakangan KAMMI dan Elemen Gerakan Mahasiswa (EGM) politik ekstra parlementer lainnya tengah menghadapai persoalan kronis yang berhadapkan dengan kekuatan pragmatis oportunis. Kekuatan pragmatis oportunis ini boleh jadi menurunkan dan memecah soliditas kekuatan EGM ekstra parlementer sebagai elemen yang menjunjung nilai-nilai idealisme. Betapa persamaan idealita tetap saja tak mampu menyatukan gerakan mahasiswa. Semua terkungkung dalam "kesetiaan buta" pada bendera masing-masing (flag-based loyality).

Hiruk pikuk perhelatan akbar Pemilu 2009 dapat dijadikan barometer gerakan. Sikap kritis gerakan mahasiswa dihadapkan pada pilihan dukung-mendukung partai, calon legislatif dan presiden. KAMMI lebih sering sebagai organ yang diorganisir. Dalam jangka panjang dan dalam konteks pergerakan, hal ini merupakan permasalahan besar yang menempatkan KAMMI hanya sebagai aktor lapangan. Memanfaatkan dan dimanfaatkan atau antara menunggangi dan ditunggangi menjadi dikotomi yang cukup serius, hal ini mencerminkan independensi gerakan dan kejelian intelektual KAMMI.

Pemilu merupakan momentum besar namun disayangkan bila perilaku gerakan tak ubahnya dengan partai politik, mencari kekuasaan dan kekuasaan. Dengan kondisi seperti ini, idealnya gerakan bergerak dengan ide pencerdasan dan pendidikan politik bukan terjebak dukung si A atau partai B. Jatuhnya rezim Soeharto bukan hanya kerja-kerja KAMMI bahkan gerakan mahasiswa lain tapi kekuatan semua elemen ekstra parlementer selain pers, pilihan sikap militer dan lainnya. Minimal dengan KAMMI yang belum dapat menjadi barometer perekat kekuatan elemen ekstra parlementer. Padahal diakui banyak tokoh dan pers, bahwa KAMMI kini sebagai gerakan yang besar dan solid.

Pilihan Gerakan Politik
Gerakan ekstra parlementer dapat didefinisikan sebagai tindakan politik yang dilakukan secara sistematis, melalui cara-cara diluar proses politik pada lembaga politik formal misalnya parlemen. Tindakan yang terwujud dalam gerakan seperti aksi massa, pemogokan, pelbagai kajian, diskusi, seminar, baik di dalam maupun luar kampus yang bertujuan untuk melakukan perubahan kekuasaan atau menuntut perubahan kebijakan publik.

Jika dilihat dari karakternya, gerakan ekstra parlementer muncul pada saat situasi politik mengalami stagnasi, lembaga-lembaga politik formal tidak bisa menjalankan peran dan fungsi politiknya secara optimal. Hal yang sama kini terjadi hingga hari ini di Indonesia. Muncul sikap skeptis, apatis dan sinisme terhadap kekuasaan maupun infrastruktur politik seperti partai dan sebagainya. Namun kondisi ini belum mampu untuk dapat menjadikan gerakan ekstra parlementer sebagai pilihan terbaik. Karena prasarat lainnya masih banyak yang belum terpenuhi, misalnya ketiadaan kekuatan yang dapat disepakati sebagai musuh bersama walaupun ada semisal kegagalan pemerintahan SBY-JK, flag-based loyality antar gerakan masih ada sehingga yang terjadi lebih banyak bersifat sektoral serta militer yang masih solid.

Meskipun demikian, keberadaan gerakan ekstra parlementer tetap diperlukan dalam konteks kehidupan politik saat ini. Gerakan itu memiliki peran strategis sebagai kelompok penekan (pressure group). Target gerakan adalah mempengaruhi atau mengubah suatu kebijakan publik.

KAMMI dapat mengintegralkan empat basis gerakannya pada starategi ekstra parlementer. Pertama, basis sosial (ijtima’iyah), perlu dukungan dari masyarakat umum, mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, pers, tokoh sebagai bentuk simpati perjuangan KAMMI. Kedua, basis operasional (harakiyah), kader-kader KAMMI siap merealisasikan dan mengeksekusi wacana dan strategi gerakan. Ketiga, basis konsep (fikriyah), penekanan pada penokohan kader, kompetensi dan penerapan ideologi islam sebagai solusi permasalahan. Keempat, basis kebijakan (siyasiyah), menjadikan KAMMI sebagai leading sector atas pengkritisan kebijakan dan menjadi problem solver atas kebuntuan politik dan kebijakan sesuai situasi dan kondisi kontemporer.

Kiprah aktifis KAMMI secara organisatoris mengalami kebingungan dalam patronase gerakan dan kebingungan lain terkait pengelolaan organisasi dan pembinaan kader. Dengan kondisi seperti ini maka formulasi yang tepat adalah menempatkan diri sebagai kekuatan oposisi ekstra-parlementer yang bersinergi dengan oposisi intra-parlementer. Namun tetap mengendalikan kekuatan ini agar sesuai dengan ideologi gerakan.

Selain itu KAMMI perlu menguatkan basis pergerakan di masyarakat, terutama simpul-simpul pergerakannya. Sehingga KAMMI sebagai kelas menengah dalam masyarakat tidak beralih fungsi menjadi kelas elit namun justru mengakarkan basis pergerakannya pada masyarakat.Mahasiswa sebagai salah satu elemen sosial yang secara politis mempunyai kebebasan, karena relatif belum terbebani oleh jabatan politis. Secara sosiologis, mahasiswa mempunyai kesempatan yang besar untuk mengakses informasi dibandingkan kelompok masyarakat lainnya. Yang perlu dipikirkan KAMMI adalah mengartikulasikan idealisme mahasiswa dalam masyarakat. KAMMI kedepan harus mengedepankan argumentasi dalam membuat perubahan.

KAMMI menggariskan pada pilihan paradigma gerakan ekstra parlementer bukan tanpa sebab. Tentunya dengan paradigma elitis dan idealis, karena status kaum muda dan ideologi yang disandangnya bukan karena anggapan kegagahan gerakan, dan akan selalu menjadi oposisi permanen tetapi pilihan ini adalah sikap KAMMI hari ini, melakukan langkah-langkah politik, sebagai implementasi ‘gerakan politik nilai’. Langkah-langkah politik bersifat holistik dan strategik, bukan taktis dan subordinat.

KAMMI melakukan komunikasi politik dengan semua pihak, menjaga jarak yang sama dengan tokoh dan partai politik manapun dalam rangka membangun sinergi dan kesepahaman, melakukan negosiasi politik jangka panjang dengan calon pemimpin yang ada. Ini strategi ekstra parlementer KAMMI.

Konsistensi Gerakan
Aksi protes sebagai pilihan gerak KAMMI dalam gerakan politik ekstra parlementernya sebenarnya tidak mengikuti hukum perubahan sosial. Sebab pilihan gerak ini bukan gerakan revolusioner untuk mengubah tatan sosial dalam sekejap. Namun, hanya gerakan yang menyuarakan nurani rakyat dan bersifat normatif. Kalau kita lihat isu-isu yang dilontarkan mahasiswa sejak dulu selalu bersifat normatif; korupsi, keadilan, hukum, pemerataan, kesewenag-wenangan dan sebagainya. Sehingga aksi-aksi gerakan mahasiswa tidak bisa diredam dengan undang-undang, tindakan persuasif maupun refresif. Selama masih ada ketidakadilan, korupsi, penindasan hak asasi, otoriterian, aksi protes dari mahasiswa maupun rakyat akan selalu bermuncul kendati dalam bentuk yang berbeda-beda.

Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi KAMMI untuk menjaga konsistensi gerakannya. Pertama, keyakinan atau ideologi yang dijadikan sebagai pijakan dasar gerakan kuat. Jika hal ini mengendur, maka gerakan itu akan mudah tergoda untuk melakukan tindakan yang justru kontraproduktif atau melemahkan gerakan itu sendiri. Situasi politik saat ini yang penuh dengan intrik-intrik seperti jual beli, suap menyuap dan sebagainya merupakan godaan potensial yang dapat menghancurkan KAMMI. Kedua, Gerakan disusun berdasarkan perhitungan dan analisa rasional. Menguasai peta politik secara utuh, memperimbangkan kekuatan logistik gerakan dsb. Jika tidak, sebagaimana dikemukakan oleh Tan Malaka, gerakan ekstra parlementer akan berubah menjadi anarki yang akan menghancurkan dirinya sendiri. Ketiga, Gerakan harus mampu merajut beragam isu dari lintas sektoral, pimpinan tidak bersifat elitis namun memiliki jaringan ke dalam elite politik dan militer.

Secara konkret gerakan ekstra parlementer bisa melakukan peranannya seperti membentuk komite aksi politik untuk berbagai isu lokal maupun spesifik (isu anak, lingkungan, perempuan, dsb), memfasilitasi para politisi dan masyarakat untuk membahas dan menyelesaikan isu-isu diatas, memantau program pemerintah yang sedang berjalan, pelobi bagi kepentingan publik. Selain itu memarakkan pertanggungjawaban (accountability) proses-proses politik ketika bersentuhan dengan wilayah publik. Kehadiran oposisi intra dan ekstra-parlementer, tentu saja, akan memaksa pemerintah untuk mempertanggungjawabkan kebijakan (policy) yang ia ambil, apa manfaat, urgensin, dan targetnya.

Oleh karena itu, gerakan ekstra parlementer seyogyanya tidak memiliki sikap partisan terhadap kepentingan kelompok atau golongan mana pun. Sikap partisan yang diperkenankan dari oposisi hanyalah keberpihakannya pada kebenaran. Di sinilah, letak keunggulan gerakan ekstra parlementer yang digalang mahasiswa di luar parlemen. Mahasiswa dalam melancarkan gerakan oposisinya relatif lebih bersih dari kepentingan terselubung (hidden agendas) dan vested interest ketimbang kelompok lain. Sebagai wacana-praksis bagi gerakan mahasiswa, ekstra parlementer tidak sekadar berhenti menjadi perbincangan di forum-forum diskusi, seminar dan lain sejenisnya, tapi mempunyai rancangan aksi yang kongkret dan terukur.

Penting ditegaskan bahwa kebijakan negara tidak sepenuhnya memenuhi seluruh aspirasi dari rakyat. Karenanya, perlu ada kekuatan oposisi intra dan ekstra parlementer yang mampu berperan sebagai mekanisme kontrol agar proses politik dan demokrasi berjalan bersih dan adil. Rasulullah saw pun bersabda, Jihad yang paling utama adalah mengucapkan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.

Maringan Wayudianto
Ketua KAMMI DIY Bid. Kebijakan Publik 2008-2010
READ MORE [...]