Kenangan Akan Rokok

Ada seorang teman - tidak perlu disebutkan namanya - yang meminta saya menulis tentang rokok. Bukan tentang kandungannya, hukum halal dan haramnya, aspek kesehatannya ataupun aspek-aspek serius lainnya. Dia ingin saya menulis sesuatu yang menarik tentang rokok, sesuatu yang berbeda, tulisan yang melihat rokok dari aspek yang tidak biasa. Dan inilah hasilnya, serangkaian tulisan ringan tentang kemasan/bungkus rokok.

***

Alkisah (walah kayak cerita dongeng aja) saat masih SD saya mengoleksi kemasan rokok. Tapi bukan untuk dirokok, atau sebagai hobi, akan tetapi untuk main-main. Ceritanya jaman SD dulu sebagai anak kampung, kami punya permainan yang menjadikan bungkus rokok sebagai obyek permainannya.

Jadilah saya pengkoleksi berbagai kemasan rokok dari berbagai merek, mulai dari merek yang terkenal hingga saat ini seperti G*dang G*aram, D*arum, B*entoel. Merek-merek lokal medan seperti Commod*rre, G*alan. Hingga merek-merek yang langka dan entah masih ada atau tidak sekarang, seperti: Mansi*n, Uni*on dsb. Saat itu saya lebih tertantang untuk menemukan bungkus rokok bermerek anah dan nyentrik, coz nilai harga dalam permainannya jauh lebih tinggi dibandingkan merek terkenal.

Usaha saya gak main-main saat itu, mengais-ngais tempat sampah bukan hal yang tabu - he..he..he.. namanya juga anak-anak. Saya sering iri pada kawan-kawan yang ayahnya nge-rokok, coz mereka selalu punya stok baru dan banyak, bahkan saya sempat berfikir untuk meminta ayah merokok biar koleksi saya bertambah banyak dan berjanji pada diri sendiri nanti klo dah jadi ayah-ayah, saya akan merokok, biar anak saya punya koleksi bungkus rokok yang banyak.

Saat itu saya ambisius sekali untuk mengejar ketertinggalan koleksi dari temen-temen. Salah satu bentuk kerja keras saya adalah mengajak ayah untuk sering main ke rumah pa'de (abang iparnya mamak), coz pa'de saya itu perokok berat dan terkadang beliau membeli rokok merek yang unik dan berbeda dari biasanya. Kebiasaan pa'de itu yang membuat saya unggul dari teman-teman, yang paling saya ingat saat saya berhasil mendapatkan kemasan "Mansi*n" , yang membuat teman-teman sangat iri. Dan saya pun merasa MENANG.

Anak-anak, entah apa yang ada di pikiran saya saat itu. Mungkin hanya keceriaan dan kesenangan saja yang saya pikirkan. Kalau ditelaah saat ini, timbul keheranan, siapa coba yang menemukan permainan itu pertama kali ? apakah merupakan hasil dari buah kerja tim marketing perusahaan rokok ? coz efeknya sangat besar ke anak-anak saat itu. Saya dan teman-teman seolah dibuat terbiasa dan akrab dengan berbagai merek rokok, istilahnya brand awarrness kami terhadap merek rokok cukup tinggi. Dan tidak heran sekarang dapat saya pastikan semua yang pernah bermain bersama saya saat itu sekarang merokok.

Ah... memang hebat juga pemasar-pemasar rokok itu

*Arief Mai Rakhman (Ulat Boeloe)
READ MORE [...]

tentang Gie dari Djin

Ada dua hal yang membuat saya sulit untuk menulis tentang almarhum adik saya, Soe Hok Gie. Pertama, karena terlalu banyak yang mau saya katakan, sehingga saya pasti akan merasa kecewa kalau saya menulis tentang dia pada pengantar buku ini. Kedua, karena bagaimanapun juga, saya tidak akan dapat menceritakan tentang diri adik saya secara obyektif. 

Saya terlalu terlibat di dalam hidupnya. Karena itu, untuk pengantar buku ini, saya hanya ingin menceritakan suatu peristiwa yang berhubungan dengan diri almarhum, yang mempengaruhi pula hidup saya dan saya harap, hidup orang-orang lain juga yang membaca buku ini. Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya.

Dia berkata, "Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian". Saya tahu, mengapa dia berkata begitu. Dia menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai "Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja". Ibu saya sering gelisah dan berkata: " Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang". Terhadap ibu dia Cuma tersenyum dan berkata "Ah, mama tidak mengerti". 

Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju - mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: "Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si., saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya". 

Karena itu, ketika seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya: "Gie seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, deritaan" Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap. 

Dalam suasana yang seperti inilah dia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini dengan beberapa teman-teman mahasiswa yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966. Ketika dia tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, dia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib. Herman lantang. 

Suasana ini juga yang ada, ketika saya berdiri menghadapi jenazahnya di tengah malam yang dingin, di rumah lurah sebuah desa di kaki Gunung Semeru. Jenazah tersebut dibungkus oleh plastik dan kedua ujungnya diikat dengan tali, digantungkan pada sebatang kayu yang panjang, Kulitnya tampak kuning pucat, matanya terpejam dan dia tampak tenang. Saya berpikir: "Tentunya sepi dan dingin terbungkus dalam plastik itu". Ketika jenazah dimandikan di rumah sakit Malang, pertanyaan yang muncul di dalam diri saya alah apakah hidupnya sia-sia saja? Jawabannya saya dapatkan sebelum saya tiba kembali di Jakarta. 

Saya sedang duduk ketika seorang teman yang memesan peti mati pulang. Dia tanya, apakah saya punya keluarga di Malang? Saya jawab "Tidak. Mengapa?" Dia cerita, tukang peti mati, ketika dia ke sana bertanya, untuk siapa peti mati ini? Teman saya menyebut nama Soe Hok Gie dan si tukang peti mati tampak agak terkejut. "Soe Hok Gie yang suka menulis di koran? Dia bertanya. Teman saya mengiyakan. Tiba-tiba, si tukang peti mati menangis. Sekarang giliran teman saya yang terkejut. Dia berusaha bertanya, mengapa si tukang peti mati menangis, tapi yang ditanya terus menangis dan hanya menjawab " Dia orang berani. 

Sayang dia meninggal". Jenazah dibawa pleh pesawat terbang AURI, dari Malang mampir Yogya dan kemudian ke Jakarta. Ketika di Yogya, kami turun dari pesawat dan duduk-duduk di lapangan rumput. Pilot yang mengemudikan pesawat tersebut duduk bersama kami. Kami bercakap-cakap. Kemudian bertanya, apakah benar jenazah yang dibawa adalah jenazah Soe Hok Gie. Saya membenarkan. Dia kemudian berkata: "Saya kenal namanya. Saya senang membaca karangan-karangannya. Sayang sekali dia meninggal. 

Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak, kalau dia hidup terus". Saya memandang ke arah cakrawala yang membatasi lapangan terbang ini dan hayalan saya mencoba menembus ruang hampa yang ada di balik awan sana. Apakah suara yang perlahan dari penerbang AURI ini bergema juga di ruang hampa tersebut? Saya tahu, di mana Soe Hok Gie menulis karangan-karangannya. Di rumah di Jalan Kebon jeruk, di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram, karena voltase yang selalu turun akalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, seringkali masih terdengar suara mesin tik dari kamar belakang Soe Hok Gie, di kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangannya. 

Pernahkan dia membayangkan bahwa karangan tersebut akan dibaca oleh seorang penerbang AURI atau oleh seorang tukang peti mati di Malang? Tiba-tiba, saya melihat sebuah gambaran yang menimbulkan pelbagai macam perasaan di dalam diri saya. 

Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata "Ya" atau "Tidak", meskipun Cuma di dalam hatinya. Saya terbangun dari lamunan saya ketika saya dipanggil naik pesawat terbang. Kami segera akan berangkat lagi. Saya berdiri kembali di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik "Gie, kamu tidak sendirian". Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yang saya katakan itu. Suara pesawat terbang mengaum terlalu keras. Arief Budiman (Soe Hok Djin)  

-seperti dimuat dalam buku Catatan Seorang Demonstran edisi 1993
READ MORE [...]

inspirasi

“Whether we succeed in life is partly out of our hands, but by persisting we offer lightning more chances to strike.”
(“The Drunkard’s Walk: How Randomness Rules Our Lives” karangan Leonard Mlodinow)
--------------------------------------------------------------------------------------------

Winners vs losers

One day a student asked to his teacher
“Teacher, what should I do so I can become a winner
in this life not a loser?”
And the teacher said,
“You have to learn the distinguish between them.”

If the loser is always a part of the problem
Then the winner is always a part of the answer.
If the loser always has an excuse
Then the winner is always a program..
If the loser says: “That’s not my job!”
Then the winner says: “Let me do it for you!”
If the loser sees a problem in every answer.
Then the winner sees the answer for every problem.
If the loser sees two or three sand traps near every green
Then the winner sees a green near every sand trap.
If the loser says: “It may be possible, but it’s too difficult!”
Then the winner says: “It may be difficult, but it’s possible!”

If you are willing to do all the winner list,
You will be become winner.
(Majalah Percikan Iman)
--------------------------------------------------------------------------------------------

“Luck is what happen when preparations meet opportunity”
(unknown)
--------------------------------------------------------------------------------------------

“Why do we fall, sir? So that we might learn to pick ourselves up.“
(Alfred Pennyworth, dalam film Batman Begins)
--------------------------------------------------------------------------------------------

“never lean back on good fortune, honest and creative to achieve the highest possible dream”
(atrix, unknown)
--------------------------------------------------------------------------------------------

“kalau kamu gagal atau belum mencapai tujuan kamu, berarti cara yang kamu gunakan belum cukup, jadi teruslah cari cara-cara lain, dan jangan pernah berpikir harus bagaimana lagi?”.. well, in many ways failure can make people being more and more creative…
(saski, unknown)
--------------------------------------------------------------------------------------------
READ MORE [...]

Ekstra Parlementer, Gerakan Politik KAMMI


Pengkhianat KAMMI sejati adalah orang-orang yang telah memilih pengkhianat sebagai pemimpinnya. (ikhwankiri)

Menginjak tahun kesebelas sesungguhnya KAMMI sedang menghadapi ujian yang cukup berat berkaitan dengan perannya sebagai gerakan politik ekstra parlementer yang memilih sikap oposan dan kritis terhadap berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Sikap penolakan KAMMI terhadap kebijakan pemerintah yang tidak populis dan merugikan rakyat harus diakui belum dibarengi dengan kajian dan strategi yang matang sehingga berakibat pada setiap aksi yang dilakukan oleh KAMMI belum memiliki posisi tawar (bergaining power) yang diperhitungkan dihadapan aparat birokrat. Lihat saja aksi-aksi KAMMI dan aliansi gerakan dalam tiga kali kenaikan harga BBM pemerintahan SBY-JK dianggap angin lalu dan distigmakan sebagai gerakan anarkis.

Belakangan KAMMI dan Elemen Gerakan Mahasiswa (EGM) politik ekstra parlementer lainnya tengah menghadapai persoalan kronis yang berhadapkan dengan kekuatan pragmatis oportunis. Kekuatan pragmatis oportunis ini boleh jadi menurunkan dan memecah soliditas kekuatan EGM ekstra parlementer sebagai elemen yang menjunjung nilai-nilai idealisme. Betapa persamaan idealita tetap saja tak mampu menyatukan gerakan mahasiswa. Semua terkungkung dalam "kesetiaan buta" pada bendera masing-masing (flag-based loyality).

Hiruk pikuk perhelatan akbar Pemilu 2009 dapat dijadikan barometer gerakan. Sikap kritis gerakan mahasiswa dihadapkan pada pilihan dukung-mendukung partai, calon legislatif dan presiden. KAMMI lebih sering sebagai organ yang diorganisir. Dalam jangka panjang dan dalam konteks pergerakan, hal ini merupakan permasalahan besar yang menempatkan KAMMI hanya sebagai aktor lapangan. Memanfaatkan dan dimanfaatkan atau antara menunggangi dan ditunggangi menjadi dikotomi yang cukup serius, hal ini mencerminkan independensi gerakan dan kejelian intelektual KAMMI.

Pemilu merupakan momentum besar namun disayangkan bila perilaku gerakan tak ubahnya dengan partai politik, mencari kekuasaan dan kekuasaan. Dengan kondisi seperti ini, idealnya gerakan bergerak dengan ide pencerdasan dan pendidikan politik bukan terjebak dukung si A atau partai B. Jatuhnya rezim Soeharto bukan hanya kerja-kerja KAMMI bahkan gerakan mahasiswa lain tapi kekuatan semua elemen ekstra parlementer selain pers, pilihan sikap militer dan lainnya. Minimal dengan KAMMI yang belum dapat menjadi barometer perekat kekuatan elemen ekstra parlementer. Padahal diakui banyak tokoh dan pers, bahwa KAMMI kini sebagai gerakan yang besar dan solid.

Pilihan Gerakan Politik
Gerakan ekstra parlementer dapat didefinisikan sebagai tindakan politik yang dilakukan secara sistematis, melalui cara-cara diluar proses politik pada lembaga politik formal misalnya parlemen. Tindakan yang terwujud dalam gerakan seperti aksi massa, pemogokan, pelbagai kajian, diskusi, seminar, baik di dalam maupun luar kampus yang bertujuan untuk melakukan perubahan kekuasaan atau menuntut perubahan kebijakan publik.

Jika dilihat dari karakternya, gerakan ekstra parlementer muncul pada saat situasi politik mengalami stagnasi, lembaga-lembaga politik formal tidak bisa menjalankan peran dan fungsi politiknya secara optimal. Hal yang sama kini terjadi hingga hari ini di Indonesia. Muncul sikap skeptis, apatis dan sinisme terhadap kekuasaan maupun infrastruktur politik seperti partai dan sebagainya. Namun kondisi ini belum mampu untuk dapat menjadikan gerakan ekstra parlementer sebagai pilihan terbaik. Karena prasarat lainnya masih banyak yang belum terpenuhi, misalnya ketiadaan kekuatan yang dapat disepakati sebagai musuh bersama walaupun ada semisal kegagalan pemerintahan SBY-JK, flag-based loyality antar gerakan masih ada sehingga yang terjadi lebih banyak bersifat sektoral serta militer yang masih solid.

Meskipun demikian, keberadaan gerakan ekstra parlementer tetap diperlukan dalam konteks kehidupan politik saat ini. Gerakan itu memiliki peran strategis sebagai kelompok penekan (pressure group). Target gerakan adalah mempengaruhi atau mengubah suatu kebijakan publik.

KAMMI dapat mengintegralkan empat basis gerakannya pada starategi ekstra parlementer. Pertama, basis sosial (ijtima’iyah), perlu dukungan dari masyarakat umum, mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, pers, tokoh sebagai bentuk simpati perjuangan KAMMI. Kedua, basis operasional (harakiyah), kader-kader KAMMI siap merealisasikan dan mengeksekusi wacana dan strategi gerakan. Ketiga, basis konsep (fikriyah), penekanan pada penokohan kader, kompetensi dan penerapan ideologi islam sebagai solusi permasalahan. Keempat, basis kebijakan (siyasiyah), menjadikan KAMMI sebagai leading sector atas pengkritisan kebijakan dan menjadi problem solver atas kebuntuan politik dan kebijakan sesuai situasi dan kondisi kontemporer.

Kiprah aktifis KAMMI secara organisatoris mengalami kebingungan dalam patronase gerakan dan kebingungan lain terkait pengelolaan organisasi dan pembinaan kader. Dengan kondisi seperti ini maka formulasi yang tepat adalah menempatkan diri sebagai kekuatan oposisi ekstra-parlementer yang bersinergi dengan oposisi intra-parlementer. Namun tetap mengendalikan kekuatan ini agar sesuai dengan ideologi gerakan.

Selain itu KAMMI perlu menguatkan basis pergerakan di masyarakat, terutama simpul-simpul pergerakannya. Sehingga KAMMI sebagai kelas menengah dalam masyarakat tidak beralih fungsi menjadi kelas elit namun justru mengakarkan basis pergerakannya pada masyarakat.Mahasiswa sebagai salah satu elemen sosial yang secara politis mempunyai kebebasan, karena relatif belum terbebani oleh jabatan politis. Secara sosiologis, mahasiswa mempunyai kesempatan yang besar untuk mengakses informasi dibandingkan kelompok masyarakat lainnya. Yang perlu dipikirkan KAMMI adalah mengartikulasikan idealisme mahasiswa dalam masyarakat. KAMMI kedepan harus mengedepankan argumentasi dalam membuat perubahan.

KAMMI menggariskan pada pilihan paradigma gerakan ekstra parlementer bukan tanpa sebab. Tentunya dengan paradigma elitis dan idealis, karena status kaum muda dan ideologi yang disandangnya bukan karena anggapan kegagahan gerakan, dan akan selalu menjadi oposisi permanen tetapi pilihan ini adalah sikap KAMMI hari ini, melakukan langkah-langkah politik, sebagai implementasi ‘gerakan politik nilai’. Langkah-langkah politik bersifat holistik dan strategik, bukan taktis dan subordinat.

KAMMI melakukan komunikasi politik dengan semua pihak, menjaga jarak yang sama dengan tokoh dan partai politik manapun dalam rangka membangun sinergi dan kesepahaman, melakukan negosiasi politik jangka panjang dengan calon pemimpin yang ada. Ini strategi ekstra parlementer KAMMI.

Konsistensi Gerakan
Aksi protes sebagai pilihan gerak KAMMI dalam gerakan politik ekstra parlementernya sebenarnya tidak mengikuti hukum perubahan sosial. Sebab pilihan gerak ini bukan gerakan revolusioner untuk mengubah tatan sosial dalam sekejap. Namun, hanya gerakan yang menyuarakan nurani rakyat dan bersifat normatif. Kalau kita lihat isu-isu yang dilontarkan mahasiswa sejak dulu selalu bersifat normatif; korupsi, keadilan, hukum, pemerataan, kesewenag-wenangan dan sebagainya. Sehingga aksi-aksi gerakan mahasiswa tidak bisa diredam dengan undang-undang, tindakan persuasif maupun refresif. Selama masih ada ketidakadilan, korupsi, penindasan hak asasi, otoriterian, aksi protes dari mahasiswa maupun rakyat akan selalu bermuncul kendati dalam bentuk yang berbeda-beda.

Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi KAMMI untuk menjaga konsistensi gerakannya. Pertama, keyakinan atau ideologi yang dijadikan sebagai pijakan dasar gerakan kuat. Jika hal ini mengendur, maka gerakan itu akan mudah tergoda untuk melakukan tindakan yang justru kontraproduktif atau melemahkan gerakan itu sendiri. Situasi politik saat ini yang penuh dengan intrik-intrik seperti jual beli, suap menyuap dan sebagainya merupakan godaan potensial yang dapat menghancurkan KAMMI. Kedua, Gerakan disusun berdasarkan perhitungan dan analisa rasional. Menguasai peta politik secara utuh, memperimbangkan kekuatan logistik gerakan dsb. Jika tidak, sebagaimana dikemukakan oleh Tan Malaka, gerakan ekstra parlementer akan berubah menjadi anarki yang akan menghancurkan dirinya sendiri. Ketiga, Gerakan harus mampu merajut beragam isu dari lintas sektoral, pimpinan tidak bersifat elitis namun memiliki jaringan ke dalam elite politik dan militer.

Secara konkret gerakan ekstra parlementer bisa melakukan peranannya seperti membentuk komite aksi politik untuk berbagai isu lokal maupun spesifik (isu anak, lingkungan, perempuan, dsb), memfasilitasi para politisi dan masyarakat untuk membahas dan menyelesaikan isu-isu diatas, memantau program pemerintah yang sedang berjalan, pelobi bagi kepentingan publik. Selain itu memarakkan pertanggungjawaban (accountability) proses-proses politik ketika bersentuhan dengan wilayah publik. Kehadiran oposisi intra dan ekstra-parlementer, tentu saja, akan memaksa pemerintah untuk mempertanggungjawabkan kebijakan (policy) yang ia ambil, apa manfaat, urgensin, dan targetnya.

Oleh karena itu, gerakan ekstra parlementer seyogyanya tidak memiliki sikap partisan terhadap kepentingan kelompok atau golongan mana pun. Sikap partisan yang diperkenankan dari oposisi hanyalah keberpihakannya pada kebenaran. Di sinilah, letak keunggulan gerakan ekstra parlementer yang digalang mahasiswa di luar parlemen. Mahasiswa dalam melancarkan gerakan oposisinya relatif lebih bersih dari kepentingan terselubung (hidden agendas) dan vested interest ketimbang kelompok lain. Sebagai wacana-praksis bagi gerakan mahasiswa, ekstra parlementer tidak sekadar berhenti menjadi perbincangan di forum-forum diskusi, seminar dan lain sejenisnya, tapi mempunyai rancangan aksi yang kongkret dan terukur.

Penting ditegaskan bahwa kebijakan negara tidak sepenuhnya memenuhi seluruh aspirasi dari rakyat. Karenanya, perlu ada kekuatan oposisi intra dan ekstra parlementer yang mampu berperan sebagai mekanisme kontrol agar proses politik dan demokrasi berjalan bersih dan adil. Rasulullah saw pun bersabda, Jihad yang paling utama adalah mengucapkan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.

Maringan Wayudianto
Ketua KAMMI DIY Bid. Kebijakan Publik 2008-2010
READ MORE [...]

Asal muasal julukan anak-anak FORBA-

(ki-ka: ulat bulu, kambink, kuda, burunk, ingot)

kan kujelaskan asal muasal nama-nama aneh di anggota FORBA-

Nama FORBA- sendiri muncul saat kita pada kumpul, biasalah laki-laki, semua obrolannya ga jelas. lagi ketawa haha hihi... aku nyeletuk seharusnya kita buat nama kelompok kita.

Jelaslah, Zainul dengan muka tampak ga bersalah keluar nama FORBA-. ya cuma singkatan aja sih... FORUM BA....(ti...t, berhubungan dgn AB-lah. coba lu tulis AB pake tangan, jadinya apa?)

Tentang nama anggota.
  • Arief MR (Ulat Bulu, Babi Air). karena dia manusia bulu, badan isinya bulu semua. tentang Babi Air, tanya Firza deh... mungkin karena selera makan dan badannya yg gemuk. satu lagi, smu kan kau dipanggil 'jongos' coz kau emang pantas disuruh-suruh.
  • Eko RHK 'kecokot ulo ora popo ketimpa kelopo baru keroso'(Kambink, Kakek). dulu dia anak PALH SMUNSA, trus dikasi panggilan kambing biar keren kita jadiin 'kambink'. klo Kakek, tu mah kerjaan Firza juga, soalnya semua tau postur tubuhnya ya kayak kakek-kakek, batuk, kadang suka capek ga jelas.
  • Firza Muldani(Kuda). anak dari pak Mulyadi dapet julukan saat kita maen ke Brastagi, pengennya naek kuda aja, sepanjang jalan nanya kuda. ya udah Zainul panggil dia Kuda saat itu. Kuda... kacamatamu dikemanain. hehehe... cuma icha doang yg panggil dirimu dgn kakak fiza.wkwkwkwk....
  • M. Wahyudianto (Ingot). klo 'M' didepan bukan Muhammad lho tapi Maringan. Ingot tu apa ya? ehm... jadi setiap kita naek, camping pasti lewatin warung-arung penjual babi panggang, lomok-lomok, apalagi ya... sup kidu-kidu. trus Zainul ga jelas manggil aku ingot-ingot... so kita kenal deh 'ingot babi panggang', 'ingot babi panggang racingsport (pas lg suka balap-balapan). ???!!? tapi daripada dipanggil 'anto'=anak tolol mending ingot aja deh...
  • Zainul Fachry (Kain Lap, Inoel). ga aga julukan yg tepat untukmu, tp karena awal top inul daranista akhirnya ada jg julukanmu, inoel or kadang jd minoel. cocok jg sich coz otak kau jg 'jorok' semua isinya. klo kain lap tu tanya Firza ya...
untuk additional players
  • M. Iqbal S. (tetelo). sori ya, abis kau tukang sakit ga jelas, apalagi masuk anginmu itu muka kayak pemakai lg, 'matamu merah gigimu kuning kau mabuk taik' (song by Suspect). jadi ayam lg penyakitan kau. ya jadinya ayam tetelo... hahaha...
  • Dian YW (ipan). kau kok baek sendiri ya. yang buat kau sendiri lg. ya udah giman kalo kita panggil burunk atau telor.... gimana sodara-sodara FORBA-, sepakat?
cukup deh... kalian tau, you are the best i ever had.

catt: Yanita (cewek kakek) kita panggil 'Tabi'?, Rita (penggemar inoel) dgn 'burit-a', ina (tembakanku) dgn 'tumor'. yang laen ntar kususulin dh...

READ MORE [...]

Apa dan Siapa FORBA-

Arief Mai Rakhman, Eko Radityo Haryo Kumboro, Firza Muldani, Maringan Wahyudianto, Zainul Fachry, di kelas 2-11 SMUN 1 Medan mendeklarasikan berdirinya Forba. Gila, Aneh dan tentu saja menyenangkan di masa-masa smu itu. Banyak kegilaan yang dilakukan bersama namun selalu menyenangkan dari yang maksiat sampai yang religus, namun tidak ada penyesalan.

  • Nonton Ada Apa Dengan Cinta sebelumnya ngantri berjam-jam
  • Beli Durian 1 Goni dan berpesta
  • Turing keliling medan naik mobil perang (Taft GT) atau motor Supra X, Soghun n Satria
  • Kebut-kebutan di pasar 2 padang bulan
  • Mengagumi keindahan ciptaan Allah bernama Wanita dan memberikan penilaian atas tampilan fisiknya
  • Curhat sampai tengah malem saat ditolak, berantem ama pacar dsb, di lantai atas kost ku di muara takus, di lantai atas kontrakan firza di kamar eko.
  • Rebutan baca Cepot (cewek knalpot) di Motor Plus (langganan eko)
  • Baca koran lampu merah "Pos Metro" , muter2 di pasar dadakan sebelum jum'atan di Masjid Agung Medan (pernah ketaun guru lagi)
  • Nonton film "miskin" spesial pas 17-annya zainul
  • Kemping berkali-kali di sibolangit, sambil naik di atas kap bus sinabung jaya
  • Mendaki Gunung Sinabung (gunung tertinggi di Sumatera Utara)
  • Makan Nasi Goreng di BPM (Babi Panggang Muslim) aslinya MTM
  • Manggil Firza dengan Kuda, Eko dengan Kambing, Maringan dengan Ingot dan kau sendiri rif dengan kain lap, ulat bulu
  • Gannguin waria di jalan iskandar muda
  • Belajar bareng
  • Bimbingan kerjaannya cuma maen, ganggu tentor seksi
  • Saling contek-contekan
  • Ngintipin ingot mandi di rumah kuda
  • Minum sampanye taon baru
  • Ada yang nembak cewek setelah kecelakaan ngelewatin trotoar naek di atas mobil perang Taft
  • Nyanyi, Gitar-gitaran lagu Dewa espesialy kangen dan pupus
  • Buat kesepakatan X-day (yang ini masih kita-kita aja yang tau kan sampe sekarang, semoga aktifitas ini bisa dihentikan, ada saat dan masanya merasakan yang sebenarnya. hehehe... walaupun kau, dasar ulet bulu... pancet gondrongmu dah kemana aja ya?)
  • apa lagi ya...

Gila............... namun menyenangkan, tapi itu masa lalu, dan sekarang adalah masa kini, walaupun sering ketemu ber-4, karena sama-sama kuliah di UGM. Namun forba adalah 5 minus 1 rasanya koq kurang nikmat, dan memang sekarang masing2 sudah memiliki kesibukan sendiri dan memiliki pandangan hidup yang sudah berbeda dari dulu. Maringan Wahyudianto sekarang seorang aktivis KAMMI daerah DIY dan Zainul Fachry sekarang perwira muda polisi di kepulauan Riau, Arif Mai pebisnis di jogja, Firza dan Eko RHK ... hehehe... freelancer. Yang satu pengen pertamina, PLN, total, pertambangan, yang satu pengen di Bank atau buruh sawit.

Petualangan menjelajahi Pulau Nias, Gunung Semeru dll akan menanti kehadiran forba.

catatan ini kuambil dan kuedit dari blog, Arif Mai Rakhman.
READ MORE [...]

Cintaku di Kampus Biru, 'Dibelokkan'

Inisiasi Ilmu Budaya

“Cintaku di Kampus Biru” , Dibelokkan

Inisiasi kampus merupakan sebuah perhelatan akbar yang diadakan setiap tahun untuk memperkenalkan kondisi kampus kepada mahasiswa baru. Keberadaan inisiasi kampus yang hanya dilaksanakan setahun sekali ini tentunya tidak disia-siakan begitu saja. Pun di fakultas Ilmu Budaya tidak mau melewatkan kegiatan yang merupakan pintu gerbang mahasiswa baru untuk paham keadaan kampus yang baru dimasukinya.
Inisiasi kampus yang seharusnya sarat dengan kultur pendidikan ternyata “dibelokkan” arahnya ke dalam kultur hedonisme yang cenderung “hura-hura”. Teknis acara semacam inipun sebenarnya jauh keluar dari konsep awal dimana tema realitas kehidupan mahasiswa menjadi dasar konsep SmBJ ( Sastra mBangunn Jiwa –red ) yaitu “Buku, Pesta, Cinta dan Jalan”. Seperti awal pemilihan tema, buku diibaratkan sebagai mahasiswa yang dituntut untuk berwawasan global, pesta adalah kalangan mahasiswa yang hanya mementingkan duniawi saja, cinta digambarkan sebagai hal yang lumrah terjadi dikalangan mahasiswa, sementara jalan diibaratkan sebagai aktifis yang sering menyoroti kebijakan-kebijakan pemerintah.
Sayangnya sebuah konsep inisiasi kampus yang telah disusun secara apik malah dikacaukan pada tataran teknis, sehingga yang ada dilapangan hanya diangakat tema cinta dengan garnd tema “Cintaku di kampus Biru”. Dilihat dari sisi pendidikan, jelas SmBJ di fakultas Ilmu Budaya bias dikatakan sangat tidak mendidik. Mulai dari nama kelompok, bentuk penugasan, bahkan yel-yel dan lagu-lagu yang dinyanyikan cenderung membawa mahasiswa kearah hedonisme.
Selain kebobrokan pada konsep acara, terdapat banyak pelanggaran yang dilakukan oleh piranti panitia SmBJ 2005. Sesuai dengan SK Rektor UGM telah diputuskan bahwa inisiasi di UGM dimulai pukul 07.00 dan berakhir pukul 16.00, tetapi oleh kepanitiaan SmBJ maba (mahasiswa baru ) diwajibkan datang maksimal pukul 06.00, bahkan sebelum pukul 06.00 mahasiswa sudah dibentak-bentak oleh kamtib ( keamana dan ketertiban-red ). Sementara waktu kepulangan molor sampai pukul 17.00 dimana tidak ada waktu untuk sholat Ashar.
Pelanggaran lain seperti pressure masih terjadi, bahkan hal ini merupakan sebuah settingan dari panitia tanpa ada tujuan yang jelas. Presure dilakukan pada hari kedua dan hari terakhir di dalam auditorium Fakultas Ilmu Budaya dalam keadaan gelap karena jendela tertutup rapat dan lampu dimatikan. Bentakan yang terjadi beturut-turut dan merupakan sebuah rangkaian selama 15 menit ditambah minimnya sirkulasi udara yang masuk membuat banyak peserta yang ”ambruk” bahkan korban mencapai 10 orang. Sementara pada hari terakhir ada peserta yang kejang dan kambuh asmanya walaupun tidak sampai dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan mahkamah yang dibentuk sebagai antisipasi adanya pelanggaran semacam ini seolah tidak berfungsi dan tidak mempunyai kekuatan hukum. Pihak dekanat pun tidak tahu menahu apa yang terjadi karena informasi yang ada telah ditutup rapat oleh panitia.
Pelanggaran-pelanggaran semacam ini pasti akan terus terjadi ketika tidak kontrol dari semua pihak, baik pihak rektorat, dekanat, dan mahasiswa itu sendiri. Hal semacam ini seharusnya juga menjadi sebuah koreksi besar bahwa masih banyak penyimpangan-penyimpangan di dalam sebuah inisiasi kampus.

catatan pada inisiasi fak. ilmu budaya 2005
READ MORE [...]

Ancagar Team

Bos Ancagar: Maringan Wahyudianto

Div. Humas & Pubdok

  • Dwifatma Sari
  • Resty Merryta

Div. Litbang & Ketrampilan:

  • Reza Azhari
  • Juwari

Div. Operasional &perlengkapan:

  • Dian Yudha Winata
  • Supriyanti

Div. SDP:

  • Eka Santika
  • Elly Evayani

Additional Team: Apri, Eka cowok, Umi

READ MORE [...]

FORBA :..


Pertemanan yang satu ini telah berjalan hampir 10 tahun. luar biasa kawan.

Formasi:
  • Arief Mai Rakhman (ulat bulu, babi air)
  • Eko Radityo Hario Kumboro (kambink, kakek)
  • Firza Muldani (kuda)
  • Maringan Wahyudianto (ingot)
  • Zainul Fachry (kain lap)
Additional players
  • Dian Yudha Winata (ipan)
  • Muhammad Iqbal (tetelo)
Pendakian, camping, touring, all adventure telah kita lalui.
kawan, ingat quote kita yang paling keren. "tiga hal di dunia ini yang terbesar buat kita: gunung, wanita, rokok"
READ MORE [...]

Penangguhan Sertifikasi Guru

UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) yang menggariskan kebijakan profesionalisasi guru seolah-olah menjawab berbagai pertanyaan stagnansi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, bahkan mengalami ketertinggalan pengetahuan di Asia Tenggara.

Proses peningkatan kemampuan guru dalam mencapai kriteria standar profesi ini ternyata tidak serta merta berjalan optimal. Lambatnya implementasi UUGD menjadi keraguan akan membaiknya sistem pendidikan di Indonesia. UUGD pun tetap dianggap mempunyai celah, salah satunya adalah kebijakan sertifikasi guru yang tertuang dalam Pasal 8, Pasal 11, dan Pasal 13 UUGD.

Pasal 8 UUGD menyatakan, guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Di sisi lain, Pasal 11 menyebutkan, sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan, yaitu guru harus sudah mempunyai kualifikasi akademik pendidikan S-1 serta menjalani pendidikan profesi. Masalah lainnya timbul pada pasal 13, karena biaya untuk sertifikasi guru harus menjadi beban pemerintah pusat dan daerah, sedangkan anggaran pendidikan 20% belum terealisasikan. Sedangkan dalam data Depdiknas tahun 2004, menunjukkan bahwa guru yang belum memenuhi kualifikasi akademis cukup besar. Jumlah total guru saat ini di Indonesia mencapai 2,7 juta orang, sedangkan guru yang sudah berstatus S-1 baru mencapai 900.000 orang. Dapat dibayangkan anggaran yang harus dipersiapkan baik pemerintah daerah maupun pusat. Sangat disayangkan kalau nantinya kekurangan anggaran menjadi alasan adanya pungutan maupun percaloan terhadap para guru menjelang uji sertifikasi guru.
Uji Kompetensi

Pelaksanaan uji kompetensi guru dilaksanakan tahun ini setelah Peraturan Mendiknas No. 18/ 2007 tentang pelaksanaan sertifikasi guru diterbitkan, padahal target Departemen Pendidikan Nasional tahun 2006 salah satunya adalah sertifikasi 150.000 guru negeri dan 100.000 guru swasta. Telatnya peraturan ini juga mempengaruhi sosialisasi dan pelaksanaan uji kompetensi. Persebaran kualifikasi, kompetensi penguasaan materi, kompetensi sosial-personal, kompetensi pembelajaran, menjadi tuntutan penting selama uji kompetensi perlu persiapan agar pelaksanaan efektif dan efisien, apalagi metode portofolio mensyaratkan kesiapan pemenuhan data dan bukti profesionalitas guru, walaupun demikian, pendidikan dan latihan (diklat) menjadi alternatif pelaksanaan, walaupun hasilnya bukan tanpa cacat nantinya.

Melihat banyaknya celah pelanggaran yang dapat dilakukan mulai dari penyuapan, pungutan liar, dan permainan kotor lainnya, tentu diharapkan kesiapan para guru, tim penilai, pemerintah, serta lembaga-lembaga balai pelatihan kependidikan. Kalau dirasa jangka waktu antara sosialisasi dan kesiapan fasilitas, serta pelaksanaan uji kompetensi tidak tepat, ada baiknya masing-masing pihak dapat bijak untuk menangguhkan atau paling tidak mengakselerasi bagian dari tahapan-tahapan pelaksanaan yang berjalan lambat.

catt: artikelku yang lama hilang ketemu jg, pernah masuk sindo.
READ MORE [...]