Menanti Cahaya Baru

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua pasti akan berakhir dan kembali pada Sang Maha Pemilik Waktu yakni Allah SWT. Begitupun kejayaan dari sebuah peradaban. Ia akan berakhir dimakan zaman dan meninggalkan goresan sejarah dalam lintasan panjang perjalanan umat manusia. Itulah yang terjadi pada peradaban Yunani kuno, India, Cina dan Islam.

Hal yang sama yang juga akan terjadi pada peradaban Barat saat ini. Di mana pada abad 12 dan 13 negara-negara Eropa Barat mengejar kebudayaan inti lainnya dari berbagai penjuru dunia dan pada abad 16 memulai sebuah transformasi penting yang akan memungkinkan Barat mendominasi dunia. Hal yang sama yang pernah dilakukan pada awal Muslim Arab sebagai sebuah kekuasaan dunia terpenting pada abad-abad 7 dan 8.

Masyarakat baru Eropa dan koloni Amerika-nya memiliki dasar ekonomi yang berbeda dengan Peradaban Islam sebelumnya. Hal ini dikarenakan Eropa didirikan di atas sebuah teknologi, tatanan politik yang mantap dan investasi modal yang memungkinkan Barat mereproduksi sumber–sumber secara tidak terbatas. Eropa tidak lagi mengandalkan pada surplus produk pertanian, sehingga masyarakat Barat tidak lagi tunduk pada keterbatasan yang sama sebagai kebudayaan agraris. Barat telah menutup Revolusi pertama (baca: Revolusi sains) mereka dengan membangun era poros kedua, yang menuntut sebuah revolusi prinsip-prinsip moral yang mantap yakni Politik, Sosial dan Intelektual.

Proyek pencerahan dan modernitas ini merupakan hasil dari sebuah proses kompleks yang menuntun pada penciptaan struktur demokratis dan sekuler. Bukannya melihat dunia diatur oleh hukum yang tidak bisa berubah, masyarakat Eropa justru menemukan bahwa mereka bisa mengubah proses yang alami. Ketika masyarakat konservatif yang diciptakan oleh kebudayaan agraris belum mampu melakukan perubahan semacam itu, maka masyarakat Eropa semakin percaya diri. Hal inilah yang tidak dilakukan dunia Islam, dimana setelah mencapai kemajuan yang pesat atas penguasan sains tidak segera dilanjutkan dengan perbaikan pada tataran politik dan sosial. Sehingga kemajuan teknologi hanya untuk mendukung sebuah kekuasaan sebuah rezim semata. Islam gagap dalam menyiapkan Revolusi keduanya, yakni perubahan atas sistem patrimonialnisme dan tradisi politik post–tribalisme Arab.

Modernisasi masyarakat melibatkan perubahan sosial dan intelektual. Kata kuncinya adalah Efisiensi : suatu penemuan atau sebuah masyarakat/pemerintahan harus terlihat bekerja secara efektif. Diketahui bahwa untuk menjadi efisien dan produktif, sebuah bangsa modern harus diorganisasi dengan dasar sekulerisme dan demokratis. Berbagai perbedaan relijius dan cita-cita spiritual tidak diizinkan menghambat kemajuan dari masyarakat, dan ilmuwan, penguasa dan pejabat pemerintah bersikeras bahwa mereka harus terbebas dari kontrol gereja. Itulah yang dilakukan oleh Eropa pada masa- masa awal era pencerahan. Sifat progresif masyarakat modern dan perekonomian industri berarti keharusan melakukan inovasi secara terus menerus. Inilah konsekuensi yang harus dihadapi dunia Islam pada saat ini.

Dunia Islam telah diganggu oleh proses modernisasi. Bukannya menjadi salah satu pemimpin peradaban dunia, kekuasaan Islam dengan cepat dan permanen turun menjadi blok kekuatan-kekuatan Eropa dan bergantung pada mereka. Muslim seringkali melihat sendiri keangkuhan Barat, yang amat terindoktrinasi dengan berbagai etos modern, sehingga mereka seringkali dikejutkan oleh apa yang hanya bisa melihat ketertinggalan, inefisiensi, fatalisme dan korupsi dalam masyarakat Muslim, yang berujung pada kebodohan dan kemiskinan generasi Muslim.

Peradaban Barat sudah mendekati titik jenuhnya. Layaknya sebuah Juggernaut, maka peradaban Barat saat ini mulai bergerak tanpa arah. Globalisasi sebagai runutan sejarah tak bisa terbantahkan. “The Wolrd is Flat”, sebagaimana dikatakan oleh Friedman.

Segala ekses negatif atas globalisasi juga mulai dituai oleh semua pihak di seluruh dunia, tak terkecuali oleh Barat sendiri. Seperti: kemiskinan, kebodohan, kelaparan dan perang. Dunia saat ini tengah menanti sebuah peradaban umat manusia yang baru, dimana lebih humanis dan menjaga kesimbangan ekosistem dunia.

Lebih dari sekedar menawarkan solusi atas kecenderungan sebuah skenario konflik antar peradaban (Clash of Civilization) yang dikemukakan oleh Huntington, maka dunia Islam sendiri harus menanggapi kondisi dunia yang telah berubah dan menjadi lebih rasional dan modern. Islam harus mampu bangkit kembali dan menjadi alternatif atas peradaban Barat, yang berdiri diatas kemajuan teknologi, stabilitas politik dan industrialisasi.

Oleh karenanya kaum Muslim haruslah melawan penutupan gerbang ijtihad dan menggunakan logika mereka sendiri yang merdeka dan rasional, sebagaimana disampaikan oleh Nabi Muhammad dan Al Quran. Islam dapat mempelajari dan menyerap apa-apa yang terbaik dari peradaban Barat, sebagaimana Barat juga melakukan hal yang sama terhadap Islam ketika sedang membangun peradabannya.

Hal inilah yang dinamakan sebagai dialog antar peradaban, di mana Islam juga menyerap peradaban Yunani, India dan Cina pada saat kelahirannya. Akhir kata, peradaban Islam haruslah kembali bangkit dari tidurnya dan tawarannya adalah Islam yang terbuka terhadap modernitas (bukan westernisasi) dan sekularisme, tanpa harus kehilangan wujud dan ciri aslinya. Perubahan ini tentunya harus memegang prinsip Al-Muhaafazatu’ala al-qadim al-shaalih wal-akhdzu bil jadiid al-ashlah (mempertahankan tradisi yang baik dan menggantinya dengan yang baru apabila nilai tersebut lebih baik)”. Taqlid buta tanpa bersandar pada rasionalitas terhadap sebuah tradisi dan pemikiran hanya akan mendorong Islam menuju lorong gelap peradaban, serta tereduksi dalam proyek historis Modernisme
READ MORE [...]

Paradigma Ilmu Islam

Islamisasi Sains bukan dalam pelabelan ayat-ayat Al-Quran dan hadis.  Adaptasi dan asimilasi ke dalam nilai-nilai budaya reigius Islam. Sistem epistemologi saja tak cukup.  Teori pengetahuan yang membicarakan tentang sumber dan cara mendapatkan pengetahuan yang dibangun para filosof  dan ilmuwan Barat itu betapapun berpengaruh dalam pengembangan peradaban manusia, dianggap mengabaikan nurani dan intusisi manusia.

Dalam sejarahnya, sistem epistemologi Barat ini bergulir pada pasca Abad Pertengahan dan zaman Renaisans, terutama sejak masa Rene Decrates, yang dipandang sebagai "Bapak Filsafat Barat Modern".  Paradigma epistemologi Barat bercorak rasionalistik-positivistik indrawi menempatkan manusia cuma sebagai mahluk fisik-kimia yang tidak peduli nilai-nilai spiritual.  Pandangan ini menyingkirikan Tuhan sebagai Pencipta.  Seluruh proses alam dipandang hanya kebetulan, tak ada campur tangan Tuhan.

Dalam bangunan filsafatnya, Decrates menekankan akal itu sebagai sumber ilmu pengetahuan dan menjadikannya sebagai tujuan akhir.  Segala hal yang bersifat abstrak dan tidak dapat dipikirkan secara logika bukanlah ilmu pengetahuan.

Epistemologi barat sebagai sebuah sistem yang sangat mendominasi pada abad ini telah menjadi ancaman bagi kemanusiaan, betatapapun penting posisi akal sebagai sumber ilmu, dia membutuhkan alat bantu yang disebut hati atau intusisi yang dalam bentuk teritingginya disebut wahyu. Intuisi memiliki keunggulan memahami banyak hal yang tak dapat dilakukan akal.  Akal tidak mamapu memahami pengalaman-pengalaman eksistensial; akal tidak bisa mengerti mengapa ada tempat atau waktu tertentu yang dianggap sakral oleh orang-orang tertentu.  Akal juga tidak bisa menangkap sinyal dari langit.  Semua ini hanya dapat dilakukan oleh hati (qalb).  Otoritas hati sebagai sumber pengetahuan ini mendapatkan pijakan kukuh dalam Islam.
 
Pengalaman mimpi ini amat membantu kita dalam memamahi pengalaman mistik yang sering  diklaim para sufi ataupun filosof.  Mereka yang telah menembus batas-batas dunia fisik bisa mengalami hal yang tak dapat dipahami oleh akal sebagaimana dalam epistemologi Barat.  Pengalaman mistik adalah riil dan sejati bukan ilusi.  Pandangan ini amat membantu dalam memahami pengalaman kenabian.

Akibat lebih luas dari paradigma epistemologi Barat yag rasionalistik-positivistik ini, terjadilah sekularisme ilmu pengetahuan yang memandang ilmu netral. Setidaknya kita dapat menolak pandangan demikian dan menyatakan ilmu tidak bisa berkembang secara mandiri tanpa dipengaruhi nilai-nilai budaya da agama, bahkan oleh situasi politik dan ekonomi.

Sedikit banyak, orientasi, penekanan, corak, bahkan perkembangan ilmu dipengaruhi keyakinan pribadi ilmuwan-ilmuwannya.  Karena perkembangan ilmu kini didominasi orang-orang Barat yang memiliki corak sekular, maka pengembangannya pun terkait erat dengan latar belakang budaya mereka yang sekular tersebut. Ini tantangan epistemologi Islam.  Karena itu perkembangan epistemologi Barat tersebut perlu diarahkan dengan melakukan Islamisasi sains.  Namun Islamisasi  bukan hanya dalam bentuk pelabelan sains dengan ayat-ayat Al-Quran atau hadis, melainkan adaptasi dan asimilasi kembali masuk ke dalam nilai-nilai budaya religius Islam.
READ MORE [...]

Dari Gerakan Ke Peradaban

Gelombang budaya Barat yang kerap disebut modernisme mulanya mencerminkan gaya hidup elitis dan tak mampu mengubah konsep sejarah secara agresif. Ia hanya mampu mengubah sikap orang terhadap agama justru semakin menjadi skeptis.

Suatu hal lumrah jika kebudayaan yang mundur akan belajar dari kebudayaan yang maju. Dan adalah alami jika suatu kebudayaan yang terbelakang mengadopsi konsep-konsep kebudayaan yang lebih maju. Tidak ada kebudayaan di dunia ini yang berkembang tanpa proses interaksi dengan kebudayaan asing. Ketika peradaban Islam unggul dibanding peradaban Eropa, misalnya, mereka telah meminjam konsep-konsep penting dalam Islam.

Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua kebudayaan dapat mengambil semua konsep dari kebudayaan lain. Setiap kebudayaan memiliki identitas, nilai, konsep dan ideologinya sendiri-sendiri yang disebut dengan worldview (pandangan hidup).

Suatu kebudayaan dapat meminjam konsep-konsep kebudayaan lain karena memiliki pandangan hidup. Namun suatu kebudayaan tidak dapat meminjam sepenuhnya (mengadopsi) konsep-konsep kebudayaan lain, sebab dengan begitu ia akan kehilangan identitasnya.

Peminjaman konsep dari suatu kebudayaan mengharuskan adanya proses integrasi dan internalisasi konseptual. Namun dalam proses itu, unsur-unsur pokoknya berperan sebagai filter yang menentukan diterima tidaknya suatu konsep. Hal ini berlaku dalam sejarah pemikiran dan peradaban Islam, yaitu ketika Islam meminjam khazanah pemikiran Yunani, India, Persia, dan lain-lain. 

Pelajaran yang penting dicatat dalam hal ini bahwa ketika para ulama meminjam konsep-konsep asing, mereka berusaha mengintegrasikan konsep-konsep asing ke dalam pandangan hidup Islam dengan asas pandangan hidup Islam. Memang, proses ini tidak bisa berlangsung sekali jadi. Perlu proses koreksi-mengoreksi dan itu berlangsung dari generasi ke generasi.

Di era modern dan post-modern sekarang ini, pemikiran dan kebudayaan Barat mengungguli kebudayaan-kebudayaan lain, termasuk peradaban Islam. Namun tradisi pinjam-meminjam yang terjadi telah bergeser menjadi proses “adopsi”, yakni mengambil penuh konsep-konsep asing, khususnya Barat, tanpa proses adaptasi atau integrasi. Apa yang dimaksud dengan konsep di sini bukan dalam kaitannya dengan sains dan teknologi yang bersifat eksak, tetapi lebih berkaitan dengan konsep keilmuan, kebudayaan, sosial, dan bahkan keagamaan.

Disinilah letak urgensi dari sebuah peradaban, bagaimana kita sebagai gerakan mahasiswa mencita-citakan sebuah peradaban Islam, tentunya hal ini berangkat dari sebuah konsep dan startegi pencapaian. Setidaknya disini kita akan berbicara dari aspek epistemologi gerakan, ontologi dan aksiologi gerakan kita dalam mewujudkan sebuah konsep peradaban Islam.
READ MORE [...]

Youth Care Community (sebuah latar belakang)

Apa yang terlintas dalam benak kita tentang kemiskinan? Apapun itu, kemiskinan sepertinya telah menjadi pemandangan biasa dalam kehidupan kita. Hampir di setiap perempatan jalan kita melihat pengemis dan gelandangan yang menjadi wajah buram kemiskinan di sekitar kita.  Mungkin karena sering melihatnya, kita menjadi kurang empati dan peduli terhadap nasib yang menimpa saudara-saudara kita tsb. Padahal orang miskin (kaum dhuafa) jumlahnya mencapai 17,75 % dari 220 juta penduduk kita, kira-kira 39 juta orang!!!. Jumlah yang fantastis.

Ada baiknya sekali-kali kita merenung dan menyelami apa yang dirasakan saudara kita yang 39 juta orang itu, makan hanya sekali sehari bahkan sering tidak makan berhari-hari, tidur dipinggir jalan atau ditempat seadanya, tidak sekolah atau kuliah seperti kita, tidak pernah rekreasi ataupun jalan-jalan, dan hari-hari mereka dipenuhi tanda tanya apa yang bisa dimakan untuk sekedar mengganjal perut. 

Nasib mereka seperti lingkaran setan yang tak berujung. Karena orang tua mereka miskin/dhuafa, anak mereka akan senasib karena tidak bisa sekolah atau kuliah dan hanya jadi pemulung, pengamen, pengemis, atau buruh rendahan. Sementara amanah bagi kita (baik lewat Al-Qur’an atau UUD 1945) adalah mengentaskan kemiskinan. Dan semua itu bisa membuat kita tergerak dan membantu bila kita memiliki satu kata, kepedulian. Peduli pada nasib saudara-saudara kita yang tidak beruntung. Dan peduli tidak harus setelah kita jadi orang kaya lho…

Ada fakta yang fantastis. Sebagian dari orang miskin yang kadang kita anggap malas dan bodoh, ternyata memiliki niat dan keinginan kuat untuk BERSEKOLAH. Sekolah untuk memperbaiki nasib. Ini fakta yang setidaknya bisa kita lihat di Yayasan Sabilul Huda. Sebuah yayasan sederhana dengan spirit besar membebaskan para dhuafa dari kemiskinan. 

Di Sabilul Huda, puluhan anak usia SD-SMA tinggal dan belajar di sana, juga sekolah di sekolah-sekolah yang ada disekitar pondok. Mereka inilah anak-anak pemberani dan hebat yang ingin berilmu dan menaikkan derajat hidup diri dan keluarga mereka, yang berkemauan kuat untuk sekolah. Sayang kemampuan Sabilul Huda untuk menghantarkan mereka masih sangat terbatas. Banyak calon santri yang tidak tertampung karena keterbatasan fasilitas dan dana.

Berangkat dari keresahan itulah, kami pemuda-pemudi yang sering silaturahim ke Sabilul Huda berinisiatif membuat sebuah komunitas sosial. Komunitas yang bertujuan mengangkat harkat orang-orang miskin/dhuafa dari kemiskinan, melalui pendidikan yang gratis, berkualitas dan menanamkan keimanan dan moralitas. Komunitas sosial yang dikemudian hari diharapkan tidak hanya mampu menjadikan Sabilul Huda sebagai wahana membebaskan orang-orang miskin, namun juga berkontribusi di tempat-tempat lain yang menjadi kantong kemiskinan. 

Kami yakin dengan kepedulian dan upaya bersama, kita dapat membantu saudara-saudara kita keluar dari lingkaran kemiskinan. Dan Insya Allah kita akan mendapat ganjaran pahala dari Allah sebagai amal jariyah (amal yang tidak terputus aliran pahalanya) selama anak-anak yang kita bantu dan meningkat kualitas hidupnya, terus beramal, berilmu dan mengamalkannya.
READ MORE [...]

Capitalism was Failed

Konsep-konsep Kapitalis dianggap gagal, karena menyuburkan budaya eksploitasi manusia atas manusia lainnya, kerusakan lingkungan serta melupakan tujuan-tujuan moral dan etis manusia. Singkatnya, konsep yang ditawarkan Barat,  bukanlah pilihan tepat apalagi dijadikan prototype bagi negara-negara yang sedang berkembang. Namun demikian kita tak boleh menafikan bahwa pengalaman dari ekonomi pembangunan yang telah berkembang itu  banyak yang bermanfaat dan penting  bagi kita dalam membangun, meskipun relevansinya sangat terbatas.

Sistem kapitalis maupun sosialis jelas tidak sesuai dengan sistem nilai Islam. Keduanya bersifat eksploitatif dan tidak adil serta memperlakukan manusia bukan sebagai manusia. Kedua sistem itu juga tidak mampu menjawab tantangan ekonomi, politik, sosial dan moral di zaman sekarang. Hal ini bukan saja dikarenakan ada perbedaan ideologis, sikap moral dan kerangka sosial politik, tetapi juga karena alasan-alasan yang lebih bersifat ekonomis duniawi, perbedaan sumberdaya, stuasi ekonomi internasional yang berubah, tingkat ekonomi masing-masing dan biaya sosial ekonomi pembangunan.

Teori pembangunan seperti yang dikembangkan di Barat, banyak dipengaruhi oleh karakteristik unik dan spesifik, juga  dipengaruhi oleh nilai dan infra struktur sosial politik ekonomi Barat. Teori demikian jelas  tidak dapat diterapkan persis di negara-negara Islam. Terlebih lagi, sebagian teori pembangunan Barat lahir dari teori Kapitalis. Karena kelemahan mendasar inilah, maka teori tersebut tidak mampu menyelesaikan persoalan pembangunan di berbagai negara berkembang.

Ketika sistem ekonomi kapitalisme mengalami kegagalan maka peluang ekonomi syariah makin terbuka luas untuk menjadi solusi kerusakan ekonomi dunia. Diharapkan para ilmuwan dan praktisi ekonomi Islam saat ini dapat memanfaatkan  peluang besar yang sangat strategis itu dengan jihad iqtishadi dan ijtihad yang lebih kreatif dan inovatif dalam koridor syari’ah ilahiyah.

 Sistem kapitalis itu  akan terus menerus mengulangi kesalahan-kesalahan lama dan kejadian itu akan terus berulang jika sifat dasar, filosofi dan prinsip-prinsipnya  tidak diperbaiki. Sifat dasar kapitalisme memang dari awalnya sudah tidak ‘seimbang’ dan  tidak adil. Karena visi dan misinya  hanya mengutamakan ‘pemilik modal’. Pemilik modal sebagai motor penggerak, inisiator, leader dan otomotis juga sebagai penerima profitnya.. Pihak lain seperti tenaga kerja, profesional harus di bawah naungannya. Agar tidak terjadi lagi kesalahan-kesalahan yang menyengsarakan ummat manusia, maka tidak ada jalan lain, kecuali kembali ke sistem ilahi, pencipta manusia itu sendiri, yakni sistem ekonomi Islam (SEI). 

Sistem ini menempatkan aspek transendental sebagai prioritas dalam bangunan sistemnya dan SEI tidak saja menonjolkan aspek moral, tetapi juga menyuguhkan prinsip-prinsip ekonomi yang adil, melarang bunga (riba), spekulasi (transaksi derivatif), karena dalam Islam, uang bukan sebagai komoditas. 

Islam sangat mendorong  pertumbuhan  sektor riel, dan tidak memisahkannya dengan sektor moneter. Sektor moneter wajib terkait dengan sektor riel. Dengan kata lain, uang yang beredar harus seimbang dengan kegiatan sektor riel. Sedangkan dalam ekonomi kapitalisme sektor moneter benar-benar terpisah  sektor riel. Praktek bunga perbankan yang masih berkembang saat ini  merupakan aplikasi sistem kapitalisme yang menjadikan uang sebagai komoditas. Akibatnya rakyat dirugikan ratusan trilyun dan semakin miskin. Semoga Allah menunjuki kita untuk mengamalkan ajarannya dan meninggalkan riba.
READ MORE [...]

Muslim Negarawan (Perspektif KAMMI)

Dalam sebuah ruangan terjadi diskusi yang hangat. Saat itu semua sedang bertukar pikiran untuk merumuskan orientasi pengkaderan KAMMI. Lingkar kecil itu akhirnya memunculkan satu ide yang kemudian hari lebih kita kenal dengan Muslim Negarawan. Diksi ini menjadi konsensus yang dibuat dalam forum tersebut. Hanya saja, pandangan atau tafsir terhadap Muslim Negarawan belum benar-benar disepakati. 

Forum lanjutan pun dilakukan dalam ruang yang jauh lebih resmi. Bertempat di Sukabumi tepatnya di Situgunung, sebuah tim kecil melakukan pengkajian yang lebih mendalam. Rumusan itulah yang dibawa ke Muktamar KAMMI di Samarinda. Muslim Negarawan pun akhirnya ditetapkan sebagai orientasi kaderisasi nasional.

Paling tidak ada tiga perspektif dalam memberikan pengertian terhadap Muslim Negarawan. Pertama, perspektif filosofi gerakan sebagai nilai-nilai dasar yang menjadi landasan gerakan bagi organisasi. Kedua, persperktif Al Qur’an maupun Sunnah sebagai pijakan dasar bagi seluruh amal islamy. Ketiga, perspektif kekinian atau waqi’iyah. Sehingga sebagai sebuah orientasi kaderisasi, Muslim Negarawan memiliki alasan yang kuat untuk dijadikan sebagai arah yang jelas bagi gerakan.

Dalam perspektif filosofi gerakan, visi gerakan secara tegas mencantumkan visi kepemimpinan sebagai sebuah cita-cita gerakan. Prinsip gerakan KAMMI menjadikan kepemimpinan sebagai strategi perjuangan KAMMI. Dua alasan ini menjadi pijakan dalam perumusan Muslim Negarawan. Sedangkan dalam sudut pandang nash Al Qur’an, KAMMI merujuk pada QS Al Hajj 41, ada empat hal yang bisa diambi dalam ayat tersebut. Keempat hal itu antara lain:
•    Kesederhanaan dan Kokoh dalam Hubungan Transendental
•    Menciptakan Keadilan dan Kesejahteraan Sosial
•    Progresif dalam Kebijakan Produktif
•    Tegas dalam Kebijakan Preventif

Dalam tinjuan waqi’iyah kita akan mendapati bahwa bangsa dan Negara ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. Pengebirian selama 30 tahun terhadap potensi pemuda ketika rezim Orde Baru, berdampak pada mandulnya bangsa ini melahirkan generasi yang lebih maju. 

Saat ini, mencari tokoh-tokoh muda sekaliber Soekarno maupun Natsir di zamannya bagai mencari jarum ditumpukan jerami. Padahal pemuda adalah rahasia kemenangan sebuah cita-cita dan peradaban. Ketiga perspektif inilah yang digunakan oleh KAMMI untuk menentukan definisi yang jelas terhadap Muslim Negarawan. Dari sinilah Muslim Negarawan dirumuskan sebagai kader KAMMI yang memiliki basis ideologi yang mengakar, basis pengetahuan dan pemikiran yang matang, idealis dan konsisten,berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa serta mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan . Rumusan yang demikian kemudian diwujudkan kedalam enam profil kader KAMMI .

Bagaimana Muslim Negarawan akan dicapai oleh KAMMI?
Organisasi pergerakan dan organisasi pada umumnya memiliki kesamaan dalam lapisan bangunannya. Secara umum organisasi tersebut disusun dari empat lapisan, yakni: basis pengambil kebijakan, basis penerjemah gagasan menjadi program, basis pelaksana program dalam bentuk kegiatan, dan basis pelanggan atau subyek yang menikmati acara. Bangunan ini satu sama lain saling menguatkan. Dalam logika gerakan dakwah, bangunan organisasi ini dapat disebut sebagai piramida dakwah. Alasan penyebutan ini lebih pada realitas bahwa bangunan gerakan dakwah disusun oleh kualitas man power gerakan tersebut.

Semakin ke atas semakin sedikit, dan sebaliknya, semakin ke bawah semakin banyak. bahkan rasionya harus seperti segitiga sama sisi, tidak lebar sebelah atau tumpul di bagian atasnya.

Piramida dakwah dibangun oleh unsur-unsur orang yang memiliki peran-peran dominan di dalam lapisannya masing-masing. Berbeda dari sistematika pembahasan lapisan organisasi pergerakan dakwah dengan organisasi lainnya, organisasi pada umumnya dibahas dari puncak piramida, sedangkan piramida dakwah dibahas dari bawah. Lapisan-lapisan itu diurut pembahasannya lebih karena proses pencapaian alami jenjang seseorang yang dilewati dari bawah secara hirarkis ke posisi puncak. 

“Pasti kamu akan melewati tingkatan demi tingkatan.” (QS. Al-Insyiqaq: 19)

KAMMI merumuskan jenjang kaderisasi KAMMI menjadi tiga lapis. Jenjang yang pertama dalam paling dasar adalah qoidah harakiyah  kemudian Qoidah fikriyah  dan yang paling tinggi adalah Qoidah Siyasiyah .
READ MORE [...]

Kritik Demokrasi

Demokrasi bukanlah murni lahir dari seorang pemikir ataupun filsuf, namun istilah dan konsepnya kemudian yang dipopulerkan oleh pemikir-pemikir itu. Konsep aspirasi rakyat secara langsung pernah diterapkan di jaman athena yunani kuno namun sekarang dengan jumlah populasi manusia yang begitu banyak, hal ini tidak mungkn dilakukan lagi. Proses yang paling relevan dalam menghayati sebuah bentuk pemerintahan seperti ini adalah  adanya aktifitas melihat, mengkaji dan mencatat, kemudian setelah beberapa lama hal ini kemudian dikait- kaitkan dengan sebuah konsep pemerintahan ideal (al madinah al fadhilah) di atas sebuah negeri yang bertujuan untuk mensejahterakan serta menjamin aspirasi rakyat dalam pemerintahan yang berada di atasnya. 

Hingga di era revolusi sosial ini paham demokrasi yang menitik beratkan pada kedaulatan rakyat secara umum diklaim oleh hampir seluruh negara modern, bahkan oleh negara komunis sekalipun. Hal ini disebabkan karena adanya muatan nilai positif pada istilah demokrasi yang dikonsep oleh amerika setelah muncul sebagai negara yang sukses merepresentasikan kehidupan materialistis ditengah krisis yang dialami dunia- khususnya negara dunia ketiga – saat itu. Sehingga siapa saja hampir –hampir menyebutkan negerinya sebagai negeri yang demokratis.

Sebelum membahas populernya demokrasi di kalangan kaum muslimin pada awal abad ke-21 ini,  terlebih dahulu harus diketahui kapan pertama kalinya para pemikir muslim mulai mengkaji  mengenai konsep pemerintahan yang berdaasrkan keputusan ijtima’i dalam menentukan hal yang bersinggungan dengan kebijakan politik maupun perundang – undangan yang berhubungan pada kehidupan masyarakat hingga bernegara -secara holistik, baik dalam konstituennya sendiri maupun terhadap konstituen negara asing dengan tidak menafikan kaidah syariah al-islami .

Jika dirunut sejarah demokrasi dalam pemikiran politik islam yang diyakini sebagian orang sebagai  bentuk lain penfsiran gagasan daulah (negara) dalam Al-Quran- karena pemahaman demokrasi baru sebatas keadilan atau bahkan penghargaan vis a vis Islam dalam menghargai hak-hak asasi manusia – mulai dibicarakan pada akhir paro abad ke-19.  Saat itu negara – negara islam diseluruh belahan bumi kondisinya nyaris serupa : bergumul dengan kolonialisme, ditindas, dan diperintah oleh penguasa atau raja yang tiran. Dalam kondisi demikian, mereka mendengar gagasan demokrasi yang berasal dari barat, yang menaruh penghargaan terhadap hak- hak asasi manusia, menekankan kebebasan pendapat dan partisipasi rakyat dalam mengambil keputusan, mulailah mereka berbicara mengenai demokrasi sambil mengatakan sesungguhnya islam itu demokratis.

Mengatakan islam itu demokratis seperti yang dikatakan diatas dipengaruhi oleh tingkat pemahaman dan keyakinan dengan peambandingan istilah oleh sebagian besar kaum muslimin saat itu, dengan dasar pengertian serta manhaj yang digunakan bisa dikatakan pemakaian istilah Islam itu demokratis sudah sangat berbeda dengan istilah sekarang dan secara legitimitas hal ini sangat lemah dijadikan sebuah retorik maupun asumsi untuk alasan apapun.

Menurut Jalaludin Rakhmat ’menyebut Islam itu demokratis sebenarnya hanya menyederhanakan perjuangan Islam yang terlalu panjang kalau disebut satu – persatu, seperti Islam itu memperjuangkan keadilan, menuntut perdamaian, dan seterusnya’. Sehingga permasalahan yang bias ketika memperdebatkan bahwa demokrasi itu haram atau halal karena masih ada orang yang mengaitkan istilah – istilah itu seperti sebuah idiom.

Barulah jelas kaburnya pemaknaan atau boleh jadi perubahan makna istilah dulu dengan yang sekarang mungkin tidak pas lagi dengan konteks jaman, menjadi pemicu adanya beda pandangan mengenai konsep pemerintahan di antara para pemikir Islam. Bahkan ada sebagian golongan yang ekstrem mengemukakan bahwa demokrasi adalah sistem yang kufur sehingga siapa saja yang mengambil bagian dari sistem tersebut maka sama saja telah melegalisir kekufuran.

Lalu bagaimanakah dengan demokrasi yang dijalankan diatas negara Islam atau negara yang mayoritas penduduknya muslim, apakah hal itu didefinisikan sebagai kekufuran kaum muslimin. Tentu dengan penjabaran yang  yang telah dikemukakan di atas hendaknya jangan terburu- buru dengan juridikasi setengah yang nantinya menurut hemat justeru akan merugikan umat Islam wa bil khusus masyarakat grassroot yang notabene awam dengan pembahasan ideologis. Dan tidak berarti pernyataan seperti ini merupakan bentuk persetujuan terhadap demokratisasi tekstual yang dijalankan negara-negara muslim yang ”pro” terhadap pemimpin negara pan-demokrasi yang terkenal dengan pesawat tempur F-16 nya itu. 

Menurut Dahlan Thaib asas kedaulatan rakyat atau paham demokrasi mengandung (dua) arti: pertama, demokrasi yang berkaitan dengan sistem pemerintahan atau bagaimana caranya rakyat diikutsertakan dalam penyelenggaraan pemerintahan, dan yang kedua demokrasi sebagai asas yang di pengaruhi keadaan kultural, historis suatu bangsa sehingga munculah istilah demokrasi konstitusional, demokrasi rakyat, dan demokrasi pancasila.
READ MORE [...]

Daurah Siyasi II (Training Politik II)

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan daripada kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedangkan Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya” (QS. al-Anfal: 60)

Latar Belakang   
Gerakan mahasiswa lahir dan berkembang sebagai jawaban atas kondisi sosial masyarakatnya, begitupun dengan KAMMI. Krisis multidimensi  di negeri ini menunjukkan bangunan sosial negeri ini yang rapuh. Sementara itu imunitas sosial masyarakat tidak cukup mampu membebaskan masyarakat dari kooptasi kepentingan global—sebut saja Kapitalisme, lebih khusus lagi Neo-Liberalisme.

Kondisi sosial politik masyarakat yang carut marut menuntut aktivis gerakan KAMMI untuk terus bergelut dengan berbagai persoalan sosial politik dalam masyarakatnya. Proses pelibatan diri dan partisipasi politik tersebut menuntut KAMMI untuk selalu berhadapan vis a vis dengan berbagai hal yang bertentangan dengan visi yang dibawa KAMMI. Kondisi seperti ini mau tidak mau membuat KAMMI harus memiliki ideologi yang kuat—bila tidak ingin kalah dalam pertarungan wacana—serta kemampuan melakukan transformasi ideologi yang matang. Dan yang tidak kalah penting ialah, sebagai langkah berikutnya, kemampuan KAMMI dalam melakukan transfer ideologi kepada para kadernya.

Dalam memperjuangkan cita-cita gerakan dan ideologi politiknya,  Gerakan KAMMI sejatinya lebih dalam melakukan transformasi ideologinya dalam dataran wacana maupun dalam dataran pragmatis—dan tidak sekedar mengedepankan “simbol”. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan kefahaman atas konstruksi kondisi sosial masyarakat di negeri ini. Secara pragmatis pemahaman akan medan dakwah (ma’rifatul maydan) sangat menentukan aplicable tidaknya  ideologi yang dimiliki KAMMI. Dalam rangka mentransformasikan ideologi politiknya secara integral dalam setiap gerak langkahnya, peta-peta strategis sosial politik baik nasional maupun internasional menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar bagi KAMMI.

Kekhawatiran utama terhadap gerakan mahasiswa ialah ketika ia terjebak dalam jebakan arus pusaran politik praktis. Situasi di mana gerakan mahasiswa hanya menjadi instrumen bagi salah satu pihak yang bertarung. Dalam situasi seperti ini gerakan mahasiswa akan kehilangan elan vitalnya sebagai elemen yang mempejuangkan kepentingan rakyat. Dalam konteks ini, pemahaman yang baik terhadap dunia politik akan membuat gerakan mahasiswa lebih berhati-hati dalam menjalankan strategi gerakannya sehingga ia tidak terjebak untuk menjadi pragmatis, oportunis, dan mengalami disorientasi.

Dasar Pemikiran
Kejelasan akan medan dakwah—dalam hal ini medan sosial politik—yang akan dilalui KAMMI menjadi kebutuhan dan keniscayaan yang tidak bisa ditawar lagi bagi sebuah gerakan yang bercita-cita untuk melakukan transformasi ideologi. Perubahan yang menjadi target antara dalam orientasi gerakan sangat membutuhkan data dan analisa (tahlil) yang tepat. Validitas data dan ketepatan analisis akan berpengaruh pada pencapaian (hasil) orientasi gerakan yang sedang dibangun .

Untuk itu, dalam mempersiapkan (i’dad) transformasi ideologi gerakan ini, baik ke dalam (internal) maupun  ke luar (eksternal) harus berdasarkan analisis (tahlil). Analisis ini memungkinkan bagi peletakan  dan pengembangan potensi—kader dan perangkat—seefektif mungkin. Dalam melakukan analisis tersebut kita harus memperhatikan Pengalaman Masa Lalu (al tajribiyah al madhiyah) untuk dijadikan ibrah sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla: “Ambillah pelajaran, hai orang-orang yang berfikir!” (QS. 59 : 2) .

Ibrah dari peristiwa masa itu kemudian dikaitkan  dengan realitas masa kini  (al haqiqah al hadhirah) . Firman Allah dalam QS. 4: 49: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu pergi (berjuang) fi sabilillah hendaklah kamu mencari kejelasan sejelas-jelasnya”
Dalam realitas masa kini, dibutuhkan kejelian dalam membaca peta strategis yang menggambarkan kondisi  nyata dari ladang dakwah yang akan ditempuh. Realitas masa kini  kemudian diberi wawasan dengan prospek perkiraan di masa mendatang (at tawaqu’at al mustaqbaliyah) berdasarkan analisis prediksi yang valid.

Dauroh  Siyasi II, dengan penitikberatan pada pemahaman lebih mendalam terhadap peta gerakan dunia—sosial, politik, ekonomi, militer dan wacana intelektual—menjadi kebutuhan untuk mempertajam pemahaman terhadap berbagai strategi gerakan yang ada. Sebagai salah satu instrumen kaderisasi, Dauroh  Siyasi  diharapkan  mampu  mengembangkan  potensi siyasah ijtima’iyyah kader dan mendorong  kader untuk bergerak dengan  potensi tersebut.   

Tema
Memahami Realitas Bangsa, Menuntaskan Agenda Perubahan

Tujuan
  1. Sebagai upaya pengembangan potensi politik (siyasi) kader;
  2. Sebagai upaya awal pemahaman terhadap medan dakwah sosial politik lokal, nasional dan internasional secara strategis;
  3. Sebagai upaya konsolidasi kader-kader KAMMI yang beraktivitas dalam ranah sosial politik;
  4. Pengembangan wacana intelektual kader.
  5. Melakukan kajian kritis terhadap  strategi perjuangan dari berbagai gerakan ideologis.

Sasaran
  1. Kader KAMMI AB II
  2. Kader KAMMI yang berkompetensi sosial politik kuat.
  3. Kader KAMMI yang berkarya dalam ranah sosial politik kampus (direkomendasikan oleh ketua Komsat)
Materi/ Diskusi
  1. Paradigma Pemikiran dan Politik Islam, Sebuah Kajian  Epistemologis
  2. Membaca Politik Nasional Pasca Transisi Demokrasi
  3. Kebijakan Ekonomi Neo-Liberal: Pemiskinan Bagi Bangsa
  4. Perselingkuhan Politisi dan Ekonom Kapitalis: Efek Domino  bagi Bangsa
  5. Strategi Militer Mencapai dan Mengelola Kekuasaan di Tingkat Negara
  6. Kapitalisme dan Globalisasi Mengepung Dunia Ketiga
  7. Perempuan Berpolitik: Ideologi dan Aksi Kaum Feminis
  8. Manajemen Kekuasaan
  9. Kelompok Nasionalis, Militer, dan Kapitalis: Antara Kolaborasi dan Kompetisi
  10. Sejarah, dan Strategi Politik GMNI-HMI-FPPI-HMI (MPO) dll .dalam Persoalan Kampus, Lokal, Nasional dan Internasional
  11. Gerakan Mahasiswa: Antara Fenomena Politik Kampus dan Aksi Politik Nasional
  12. Rekonstruksi Strategi Politik dan Perjuangan KAMMI
  13.  
     
    MEMBUTUHKAN TRAINER UNTUK: TRAINING OUTBOND ATAU INDOOR TRAINING PENGEMBANGAN DIRI COMMUNITY DEVELOPMENT TRAINING EDUCATION TRAINING email: menlu_die[at]yahoo.co.id ym: menlu_die fb: maringan.wahyudianto tw: @ikhwankiri *tim terdiri dari trainer FKAPMEPI, TIO KAMMI, B-07dotCOM, Youth Care Community  
READ MORE [...]

Ngetes Uang Palsu + Filsafat Ayam Nyebrang

I. CARA NGETES UANG PALSU
Banyaknya pemalsuan di negara kita mengharuskan kita waspada. Di bawah ini ada beberapa tips untuk mengetes keaslian uang rupiah dengan cara yang gampang sekali.

# Mengetes uang Rp 100.000 - 50,000 dan 20,000 an
1. Lipat menjadi 4 bagian secara simetris memanjang
2. Tekan uang tersebut dengan perasaan secukupnya
3. Buka perlahan-lahan lipatan uang tsb
4. Bila kacamata Bung Hatta,WR Supratman atau Ki Hajar pecah berarti palsu
5. Khusus 50.000 an, periksa teks lagunya, kalau bukan Indonesia raya pasti palsu

# Mengetes uang Rp. 10,000
1. Lipat menjadi 4 bagian secara memanjang
2. Tekan uang tersebut dengan tekanan secukupnya
3. Kalau uangnya jadi basah karena kawahnya tumpah; atau kalau konde Cut Nyak lepas berarti palsu

# Untuk uang Rp.5000
1. Ambil sisir rambut di rumah, kemudian gesekkan pada uang tersebut.
2. Apabila jenggot Imam Bonjol rontok berarti pa lsu. Apabila tambah panjang berarti palsu juga!!

# Untuk ngetes palsu-tidaknya seribuan - 1.000
Cari SD Negeri terdekat, cukup taruh di trotoar depan sekolah, kalau hilang berarti asli....

# Uang 500 an kertas agak susah dites, karena anak-anak SD aja sudah nyuekin, satu-satunya cara adalah remes kenceng2, kalau monyetnya teriak berarti palsu..

"Selamat Mencoba!"


II. KENAPA AYAM MENYEBRANG JALAN?

Jawaban dari :

*Guru TK : supaya sampai ke ujung jalan

*PLATO : untuk mencari kebaikan yang lebih baik

*POPE : hanya Tuhan yang tahu

*POLISI : beri saya lima menit dengan ayam itu, saya akan tahu kenapa

*ARISTOTELES : karena merupakan sifat alami dari ayam

*KAPTEN JAMES T.KIRK : karena dia ingin pergi ke tempat yang belum pernah ia datangi

*MARTIN LUTHER KING, JR : saya memimpikan suatu dunia yang membebaskan semua ayam menyebrang jalan tanpa mempertanyakan kenapa

*MACHIAVELLI : poin pentingnya adalah ayam menyebrang jalan!siapa yang peduli kenapa!akhir dari penyebrangan akan menentukan motivasi ayam itu

*FREUD : fakta bahwa kalian semua begitu peduli pada alasan ayam itu menunjukkan ketidaknyaman seksual kalian yang tersembunyi

*GEORGE W.BUSH : kami tidak peduli kenapa ayam itu menyeberang! kami cuma ingin tau apakah ayam itu ada di pihak kami atau tidak, apa dia bersama kami atau melawan kami. Tidak ada pihak tengah di sini!

*DARWIN : ayam telah melalui periode waktu yang luar biasa, telah melalui seleksi alam dengan cara tertentu dan secara alami tereliminasi dengan menyeberang jalan.

*EINSTEIN : Apakah ayam itu meyebrang jalan atau jalan yang bergerak dibawah ayam itu, itu semua tergantung pada sudut pandang kita sendiri

*NELSON MANDELA : Tidak akan pernah lagi ayam ditanyai kenapa menyebrang jalan! dia adalah panutan yang akan saya bela sampai mati

* THABO MBEKI : kita harus mencari tau apakah memang benar ada kolerasi antara ayam dan jalan

*MUGABE : Setelah sekian lama jalan dikuasai petani kulit putih, ayam miskin yang tertindas telah menanti terlalu lama agar jalan itu diberikan kepadanya dan sekarang dia menyebranginya dengan dorongan ayam-ayam veteran perang. Kami bertekad mengambil alih jalan tersebut dan memberikannya pada ayam, sehingga dia bisa menyebranginya tanpa ketakutan yang diberikan oleh pemerintahan

inggris yang berjanji akan mereformasi jalan itu. Kami tidak akan berhenti sampai ayam yang tidak punya jalan itu punya jalan untuk diseberangi dan punya kemerdekaan untuk menyeberanginya!

*ISAAC NEWTON : Semua ayam di bumi ini kan menyebrang jalan secara tegak lurus dalam garis lurus yang tidak terbatas dalam kecepatan yang seragam, terkecuali jika ayam berhenti karena ada reaksi yang tidak seimbang dari arah berlawanan.

***

sumber: http://forum.smak1cirebon.com/index.php?topic=202.0
READ MORE [...]

Lantang Berteriak


Mereka belum pulang juga…..
Sudah sedari pagi mereka ada di ruangan ini.
Teriak mereka lantang, mereka muda, bergairah dan idealis.

“Rakyat negeri ini butuh kita kawan”
“Posisi kita sebagai Agent of Changes, Agen Perubahan, yang mengharuskan kita untuk bergerak”
“Wapres korup dan pro kapitalisme itu harus segera turun”
Dengan jelas aku bisa mendengar diskusi mereka.

Aku kagum dengan semangat mereka.
Niat mereka tulus, untuk perbaikan negeri.
Aku bangga

Semenjak sore
Dengan bermandi peluh
Mereka menggoreskan gemuruh hati mereka
Dalam berlembar-lembar kertas besar

Seseorang dari mereka memandangku
“Baru jam Sembilan malam, Ayo semangat” pekiknya menggema memunuhi udara
Dan aku berdetak menemani.


*Arief Mai Rakhman
READ MORE [...]