Coretan Untuk KAMMI Komisariat UGM

Bagaiman mungkin dunia yang sekarang tengelam dalam kejahiliyahan kemudian sekali-sekali meminta Islam memberikan solusi kepada permasalahannya. Semestinya Jalankan dahulu Islam secara menyeluruh baru menanyakan masih adakah masalah yang dapat diselesaikan oleh Islam” (Sayyid Qutb)

Perubahan sosial adalah sebuah proses panjang. Penyiapan struktur dan rekonstruksi kultural masyarakat memerlukan waktu yang lama dan tenaga yang tidak sedikit. Posisi KAMMI dalam masyarakat sebagai garda depan perubahan menuntut adanya akselerasi kaderisasi. Ke depan, kader—yang dibesarkan oleh—KAMMI, akan menduduki posisi penting dalam struktur masyarakat. Mereka akan menjadi pioneer dalam proses perubahan masyarakat.

Di wilayah inilah, KAMMI menggebrak dengan Gerakan Ekstra Parlementer, Intelektual Profetik ataupun dengan Muslim Negarawannya, yaitu gerakan yang mempertemukan nalar akal dan nalar wahyu pada usaha perjuangan perlawanan, pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaan manusia secara organik. Ekstra parlementer, Intelektual profetik ataupun Muslim negarawan adalah proses membangun kesadaran, membentuk paradigma dan menggerakkan secara massif dan organik. yang lahir bukan hanya untuk berwacana atau menenggelamkan diri dalam lautan buku dan diskusi belaka atau sekedar demonstrasi, namun untuk membentuk sebuah paradigma baru mujahid cerdas (smart muslim fighter).

Dr. Ali Syari’ati berpendapat bahwa kesadaran itu tampak jelas dalam bentuk keimanan, ideologi dan perilaku orang yang mencari prinsip, berjuang mendorong manusia (individu maupun kelompok) untuk berubah. Manusia yang sadar adalah manusia yang memiliki pandangan ideologi yang kritis, rasa keterikatan dengan masyarakat tertentu, dan mengenal kondisi jama’ah (komunitas) tersebut. Manusia yang memiliki rasa tanggung jawab individu dalam menghadapi problematikanya, diformat karakternya oleh perasaan kolektif dan partisipatif dalam perjalanan dan pekerjaan masyarakatnya. Ia juga relevan dengan suatu masyarakat yang menginginkan kebangkitan.

Lantas dimana peran islam? Islam berposisi sebagai ideologi hidup seorang muslim. Arus ini memahami agama Islam bukan sekedar sebagai keyakinan agama (aqidah diniyyah), tetapi ia adalah aturan sosial (qanuun ijtima’iyyah), petunjuk spiritual (hidayah ruuhiyah) dan ikatan sosial politik (rabithah ijtima’iyah siyasiyah). Perlu dipahami pula bagaimana konstruksi ideologi kita. Ideologi adalah cara pandang, cara gerak dan aplikasi tindakan. Ideologi bukan hanya wacana atau bahan diskusi yg tersembunyi di puncak menara gading intelektual. Ideologi adalah perbuatan nyata. Karena itulah, Kredo Gerakan KAMMI mengikrarkan diri:
“Kami adalah orang-orang yang senantiasa menyiapkan diri untuk masa depan Islam. Kami bukanlah orang yang suka berleha-leha, minimalis dan loyo. Kami senantiasa bertebaran di dalam kehidupan, melakukan eksperimen yang terencana, dan kami adalah orang-orang progressif yang bebas dari kejumudan, karena kami memandang bahwa kehidupan ini adalah tempat untuk belajar agar kami dan para penerus kami menjadi perebut kemenangan yang hanya akan kami persembahkan untuk Islam.”

Sekarang ini dengan kondisi gerakan terutama KAMMI, tidak mungkin dapat mengandalkan Al Wujahiyah (figuritas). Dalam beberapa kasus diketahui bagaimana kepemimpinan seseorang terutama di KAMMI sendiri, tidak dapat diharapkan individual leader tetapi yang harus ada adalah kolektif leadership yang terdiri dari beberapa sosok yang saling mengisi. Seperti yang dikatakan oleh Imam Hasan Al Banna “Sesungguhnya sebaik-baiknya Qiyadah (pemimpin) adalah jika dalam hal istifadah ilmiah (pemanfaatan keilmuannya) dia seorang ustadz, dalam hal ribatil qulb (keterikatan hatinya) dia seorang ayah, dalam hal tarbiyah ruhiyah dia seorang syekh dan dalam hal siasia da’wah dia seorang panglima”. Sulit memang kalau harus menemukan seseorang yang memiliki hal-hal tersebut, bahkan terkadang pertanyaan muncul adalah mana iron stock KAMMI yang mampu berpikir futuristik dan kuat sinergisitasnya antara kultur haroki dengan tradisi ilmiah intelektual, antara ruhiyah dan sense social politic.

Munculnya KAMMI dari suatu barisan umat Islam yang telah dihasilkan dari proses kaderisasi yang kader-kadernya mempunyai beragam potensi dan kafaah (keahlian) masing-masing dan merekan diberikan peluang seluas-luasnya untuk mengekspresikannya sehingga akan muncul proses proyeksi, promosi dan nominasi kepemimpinan yang akan datang. Dan proses itulah yang dilakukan Rasulullah saw ketika mulai menggagaskan penataan barisan umat Islam sejak di Mekkah.

Penataan dalam KAMMI Komisariat UGM dimulai dari fungsi-fungsinya yang ada dalam menjalankan roda organisasi dalam keseharian kinerjanya. Berikut lanjutan coretan penulis sebagai bahan renungan untuk dapat dianalisis dan harapannya dapat menstimulan gerak roda KAMMI Komisariat UGM ke depan.

Kaderisasi
Kepengurusan kali ini mendapatkan tantangan untuk mampu mengejawantahkan konsep baru orientasi KAMMI sebagai gerakan mahasiswa dengan kaderisasi siyasinya untuk membentuk Muslim Negarawan sebagai iron stock kepemimpinan nasional masa depan. Boleh jadi kegamangan dalam pengejawantahan konsep baru ini adalah bagian dari proses pencarian formula yang terbaik dalam pengelolaan ratusan kader KAMMI Komisariat UGM dengan action plan dan frame gerak yang tegas.

Mantan Ketua Umum KAMMI Pusat, Andi Rahmat, pernah mengungkapkan bahwa gerakan mahasiswa islam yang paling mungkin diwujudkan adalah gerakan yang mampu menampakkan sikap-sikap moderasi, toleran terhadap perubahan dan cepat beradapasi dengan situasi. Ketiganya akan semakin mungkin manakala ditopang oleh konsistensi gerakan mahasiswa islam dalam membina dan melahirkan kader-kadernya.

KAMMI adalah gerakan massa (kuantitatif) bukan kader. Terbukti dengan tidak adanya sistem pengkaderan yang khas secara metodelogis dan metode. Dia hanyalah sebuah cover dari kelas tertentu dalam gerakan ideologi yang lebih besar, sehingga posisinya sebagai client secara fisiologis dari gerakan ideologi itu sendiri. Hal ini mengakibatkan ketidakmandirian metodelogi gerakan pada KAMMI dan anehnya KAMMI sepertinya menikmati keadaannya (powerlessness).

Kehumasan
KAMMI jelas membentuk kultur gerakan, kultur mahasiswa, kultur moral, kultur politik masyarakat negeri ini. Kultur-kultur tersebutlah yang menjadikan KAMMI memiliki citra dan citarasa tersendiri. Membentuk citra dan membentuk kultur, berawal dari bahasa, kata dan isu. Permainan kerja-kerja soft dan ideologis jurnalistik dalam rangkaian kata, kalimat, paragraf pernyatan sikap, opini maupun feature yang terhimpun dalam release, artikel ataupun jurnal.

Kerja ideologis jurnalistik membutuhkan tangan dan kaki untuk paripurnanya transformasi. Tangan dan kaki itu dapat dimaknai sebagai media dan jaringan. Lantas bagaimana kita menumbuhkembangkan potensi jurnalistik kader KAMMI Konisariat UGM, memperluas eksistensi KAMMI Konisariat UGM dalam ranah publik serta memperkuat jaringan terutama dengan media merupakan arahan yang yang harapannya memacu kreatifitas kita bersama dalam kerja-kerja kehumasan. Kerja-kerja kehumasan harus dapat dimengerti sebagai indeep publication artinya semua tingkah laku kader-kader sebagai humas harus dipandang sebagai bentuk pencitraan dan pelaksanaan fungsi public relations.

Kajian Strategis
Kondisi kader yang heterogen dan memiliki keterbatasan kesempatan untuk mempelajari persoalan sosial politik tentu saja membutuhkan back up khusus agar mereka juga paham dengan kondisi yang ada tanpa harus memerlukan waktu khusus yang lama untuk secara teoritis belajar tentang persoalan-persoalan sosial politik. Tentu saja dengan kondisi yang demikian dibutuhkan sejumlah kemampuan dan kepahaman terhadap persoalan-persoalan yang ada. Kastrat tentu saja memiliki andil yang besar agar seorang kader KAMMI memiliki kerangka minimal dalam struktur berpikirnya tentang sejumlah persoalan sosial dan politik yang terjadi.

Ide menjadikan Kastrat sebagai social and politics laboratory bagi kader KAMMI Konisariat UGM sebagai wadah mengasah sense sosial politik, forum penajam wawasan, wadah memadukan konsep dan gagasan, unit analisa sosial politik, jembatan dengan elemen lain, “Pabrik” peng-counter isu dan kawah candradimuka “negarawan—politisi muda”, kiranya bukan sesuatu yang mengada-ada jika dikaitkan dengan kelemahan kualitas kader-kader KAMMI Konisariat UGM. Gagasan normatif ini tentu saja hanya akan menjadi angan-angan saja jika tidak didukung kemauan kuat untuk merealiasasikannya, karena itu dibutuhkan bantuan dari seluruh elemen yang ada untuk mewujudkannya.

Keuangan
Tentunya kita mengenal Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Abdurrahman Bin Auf ataupun Khadijah, mereka adalah figur yang mampu menegakkan pilar-pilar ekonomi umat. Mereka mampu menjadi pribadi-pribadi yang mandiri, manager-menager profesional dan mampu menggenggam dunia dengan menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan dakwah.

Uang boleh jadi bukanlah segalanya tetapi tanpa uang banyak aktifitas yang terhambat. Layaknya sebuah pemerintahan yang menghidupi dan mengelola aktifitasnya, KAMMI tampil dengan profil ini. Idealisme ini kemudian melebur bersama jargon “sunduquna juyubuna” seperti mengkristal dan lekat dalam karakter kadernya, sehingga yang terjadi adalah seluruh aktifitas KAMMI seakan menguras harta/aset pribadi kader.

Tantangan kedepan bukan hanya perekonomian negara yang harus bangkit dan stabil tetapi juga KAMMI Komisariat UGM. Kebangkitan ekonomi berarti pula terbentuknya mandiri kader dan profesionalisme pengelolaan keuangan institusi.

Kesekretariatan dan Litbang (Penelitian & Pengembangan)
Manajemen organisasi profesional dapat diketahui dari peran besar fungsi kesekretariatan, kearsipan dan kerumahtanggaan. Semua data internal KAMMI seyogyanya dimiliki dan kemudahan kader untuk mengakses. Informasi up-date seharusnya dikumpulkan dari berbagai bidang yang dimiliki KAMMI Komisariat UGM untuk dilakukan pengarsipan, ini penting untuk menghilangkan kesan reaktif atas kerja-kerja KAMMI Komisariat UGM.

Pengembangan organisasi dapat dilakukan dengan analisis sosial yang memerlukan tim khusus, apalagi khusus di KAMMI Komisariat UGM dengan ada struktur terkecil, rumpun. Peran pengontrol agar tidak memunculkan “raja-raja kecil” menuju sinergisitas komisariat-rumpun dan peniadaan overlaping peran masisng-masing.

Advokasi dan Pelayanan Masyarakat
Abstaraksi sebuah keprihatinan memunculkan sense of society pada sebagian masyarakat yang sekarang lebih cenderung apatis terhadap kondisi yang ada. Termasuk bila keapatisan ini dimiliki the intelectual minority (mahasiswa), maka kekuatan moral yang sanggup memberi energi baru bagi masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan kondisi semakin minim.

Peran untuk mengasah sense of society sangat penting terutama untuk KAMMI dalam mencari format dalam melakukan pendampingan, pembinaan dan pemberdayaan terhadap potensi-potensi dalam masyarakat sebagai investasi jangka panjang pembentukan basis sosial. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah menjalankan fungsi advokasi bagi masyarakat yang dilemahkan, peranan ini cukup strategis mengingat hari-hari ini developmentalism berkembang kembali seiring otonomi daerah sehingga masyarakat sekali lagi akan menjadi victims. Sebagai gerakan tentu ini peluang kalau sekedar mencari eksistensi namun lebih dari itu ini adalah implementasi dari tauhid sosial.

Menurut konsepsi jama’ah Ikhwanul Muslimin tentang kesadaran politik, yaitu “pandangan universal yang mencakup wawasan politik, nilai-nilai dan orientasi politik, yang memungkinkan seseorang untuk mengerti situasi, kondisi dan problematika masyarakatnya, memecahkannya, memberi keputusan, dan menentukan pendirian terhadapnya, yang mendorongnya untuk bergerak dalam rangka mengubah atau mengembangkannya.” Jelas imbas yang terjadi manakala KAMMI Komisariat UGM memiliki prioritas dalam mengasah sense of society sebagaimana pada konsepsi tersebut.

Penutup
Kelahiran KAMMI merupakan sebuah keniscayaan sejarah. Latar belakang yang menyebabkan lahirnya KAMMI menuntut untuk terus berdiri kokoh menentang kedzaliman di muka bumi ini. Idealisme kemahasiswaan dan keindonesiaan yang dimiliki KAMMI niscaya menjadi pemantik bagi bara perjuangan berikutnya.
Saat ini, ketika umur 8 tahun, KAMMI harus lebih matang. Baik dalam pengelolaan kadernya maupun ketika mengambil keputusan politik taktis-strategisnya. Jangan sampai KAMMI khususnya KAMMI Komisariat UGM terjebak dalam euforia politik praktis yang seringkali menjerembabkan dalam jurang pragmatisme.
Omid Safi menyatakan, "Vision and activism are both necessary. Activism without vision is doomed from the start. Vision without activism quickly becomes irrelevant". Dengan memadukan dimensi visi dan aktifisme sekaligus, KAMMI Komisariat UGM akan mampu menjadi gerakan islam yang progresif dan revolusioner, hadir dalam wajah yang populis, intelektual, merakyat dan jauh dari kesan elitis dan utopis. Wallahu a`lam ***
READ MORE [...]

Ketauan Selingkuh

“salam bro”, teriakku sambil berjalan masuk ke dalam rumah yang biasa jadi tempat nongkrong anak-anak medan, basecamp tepatnya.
“salam, darimana kau?”, balas Kakek .
“adalah wak, tadi rapat terus mau cuci kompor kau nih”, jawabku sambil berjalan keluar dan mencari sabun cuci dan lap.
Aku ingat betul beberapa kali muncul di basecamp selalu saja pertanyaan seputar kompor dimana keluar. Seperti biasa aku cuma bisa mesem-mesem. Kompor portable itu memang favorit kita, stand by terus kala diantara kita pengen camping, hiking, atau mountainaring.
Beres mencuci kompor, aku ke kamar sobatku Ibal dan menghidupkan komputer. Kubuka folder D: LEISURE. Kutemukan file film Hellboy2 dan Hancock. Ready to watch now. Kakek masuk dan mencubit dadaku.
“busyet!. Kurang ajar!”, umpatku.
“hehehe…”, tawa Kakek dan berhasil memelukku dari belakang.
“woi, aku bukan Ryan”, sepertinya wajahku serius.
Ryan, penjagal dari Jombang belakangan menjadi ikon laris manis bagi mereka penyuka sesama jenis. Apapun yang dilakukan secara “mesra” antar laki-laki maka selalu saja dianggap Ryan. Imbasnya, bila dua ikhwan bertemu lantas berpelukan maka sering terlontar sebutan Ryan untuk salah seorang diantaranya. Fenomena sosial baru yang tengah menggeliat. Secara psikologis, semua orang punya potensi penyimpangan seks, termasuk menjadi penyuka sesame jenis.
“serius kali kau, kita nonton Iron Man aja wak, Hancock banyak melo-nya”, terangnya sambil senyum-senyum. Bayanganku seperti sedang berhadapan dengan gigolo cacingan karena badan kakek ya seperti badan kakek-kakek pada umumnya. Belum lagi dari tadi dia hanya bertelanjang dada.
“ga pa pa wak, aku belon nonton, kau baca koran aja sana”, balasku.
“aku mo ngirim barang wak, punya bapakku. Kemaren dah diminta. Kau kawanin aku nanti ya” pintanya.
“males nih, mau nonton aja, sori ya wak”, tolakku lembut.
Kakek mulai sibuk mengepak barang-barang yang akan dikirim ke Medan dan tentu saja wajah seriusku memelototi monitor komputer serasa konyol karena ternyata semakin banyak makhluk sakti dan penghuni neraka bisa keluar apalagi ternyata robot-robot. Wow!. “Imajinasi liar seperti itu keluar dari model otak bagaimana ya?” gumamku mengomentari sang anak Iblis, Hellboy.
“Samlikom”, Ibal masuk ke kamar dan langsung mencubit dadaku mesra.
“ah…, aku laki-laki wak, apalagi Ryan”, sergahku sambil berusaha menepis tangannya yang serasa meraba-raba punggungku.
“hahaha…”, tawanya keras dan memancing Kakek bergabung.
Selanjutnya tiiiiiiiiiittthhhhh…
***
“Kakek, belikan makan siang sekarang”, perintah Ibal.
“daulat tuanku”, sigap Kakek menjawab. Bentuk ketundukan abdi kepada majikan. Tidak lama Kakek yang memerintahkan hal yang sama kepada Ibal. Beberapa kali terulang. Padahal tidak boleh ngulang tiga kali. Padahal tidak boleh ngulang tiga kali. Padahal tidak boleh ngulang tiga kali. “Enough!”.
“ga ada yang bergerak nih”, tanyaku. Berharap aku bisa ditraktir siang ini. Kanker.
“aku cabut dulu wak, ke kantor pos, nganter barang ini dulu”, kata Kakek dan dengan gerak cepat menyalakan motor.
“yuk, makan. Laper kali wak”, Ibal memelas.
“boleh, bayarin aku ya”, tawarku konkret. Dalam hati kutertawa senang. Betapa tidak. Tadi pagi aku dibayarin sarapan bubur ayam Jakarta di depan Rektorat UNY oleh Sari, akhowat Humas KAMMI DIY sekalian rapat redaksi majalah dan siang ini, Free again.
Berangkat berdua dengan Ibal. Di sepanjang jalan kita heran kenapa banyak orang memperhatikan kita. Apa karena kita begitu “mesranya” di atas sepeda motor. “Astaghfirullah, Ya Allah, aku masih normal kok”, lirihku dalam hati.
Sejenak kita berhenti di persewaan komik. Sudah lama aku tidak pinjam komik. Apalagi sempat main ke tempat begini. “gila nih tempat, majalah FHM, Cosmopolitan, dan sederet majalah berbau pornografi ada”, hatiku berbicara. Padahal tepat dihadapanku ada tiga anak sekolah dasar sedang baca komik.
***
Lanjut perjalanan menuju warung makan. Hercules namanya. Warung dengan menu spesial ikan tuna di jalan selokan mataram, utara Fakultas Teknik UGM. Sudah terkenal dan beberapa kali diliput media cetak. Kita bilang, “maknyus”.
“bungkus nasi telor tuna dua”, pesan Ibal.
“oke”, jawab pelayan dan senyum manisnya seperti melegakan dahaga kala puasa seharian. Jadi ingat seorang teman bertubuh gemuk di Sekretariat KAMMI DIY, “gadhul bashar akhi”, sering dia mengingatkan.
Lima belas menit menunggu, kita dipanggil, “telur tuna dua bungkus”.
Kita datang dan celetuk mbak kasir “aku beri tau ke mas eko ya kalau mas-nya selingkuh”
“hah…, astaghfirullah”, aku ga bisa protes.

30 Agustus 2008
Thanx sobat-sobat Ikatan Mahasiswa Muslim Homo-rizt
LP Pogung Lor Indah
READ MORE [...]

Dikelilingi Iklan Rokok

Di Indonesia, kapanpun dan dimanapun kaki berpijak dapat dengan mudah menemukan iklan rokok. Saat menonton sepakbola, menonton konser musik, berada di jalan. Hampir bisa dipastikan kehidupan kita sehari-hari senantiasa dibersamai iklan rokok.

Dengan keuntungan yang sangat besar, perusahaan-perusahaan rokok jelas mampu melakukan berbagai bentuk kegiatan marketing. Dari mulai beriklan secara tidak langsung, seperti mensponsori pentas dangdut, membiayai bergulirnya berbagai kompetisi olaharaga, mensponsori band-band indie hingga berpromosi secara langsung melalui iklan di berbagai media.

Iklan-iklan yang dibuat pastinya bukan sembarangan iklan. Iklan yang dibuat sangat menarik, menampilkan bintang-bintang iklan yang cantik, sexy, keren, dan menginspirasi. Skenario iklan juga dibuat sedemikan rupa sehingga sangat komunikatif dan seolah-olah memberikan masukan-masukan positif bagi yang melihatnya. Ironisnya, sangat terlihat dan terbaca kalau kegiatan-kegiatan marketing yang dilakukan perusahaan rokok menjadikan anak muda sebagai sasarannya.

Kelihaian memanfaatkan aktivitas-aktivitas yang dengan gempuran promosi begitu hebat dan bukan tidak mungkin banyak remaja yang tertarik untuk mencoba mengkonsumsi rokok Kenyataannya bisnis tembakau di negeri terbilang sukses. Pemiliknya bahkan menjadi orang-orang terkaya di Indonesia.

Miris memang dengan realita tersebut. Belakangan riset-riset media menyebutkan angka yang fantastis karena usia perokok makin dini. Pelajar usia 9 tahun mengonsumsi rokok dan pada usia 15-19 tahun telah menjadi perokok berat. Fakta ini bukan sekedar untuk dinikmati, namun menjadi tantangan untuk merubahnya.

Pengharapan regulasi dari pemerintah yang memadai untuk mengontrol dan menghentikan angka-angka fantastis hanya akan berakhir dengan sia-sia. Tidak saja karena Indonesia belum menandatangani Framework Convention on Tobacco Control namun industri tembakau menjadi penyumbang keuangan dan investasi yang menggiurkan tentunya. Jika pemerintah serius mengontrol dan menangani permasalahan ini tentu tidak ada yang perlu didilematiskan. Hanya saja tidak ada keinginan ke arah sana.

“Makan ga makan asal merokok“ kini menjadi slogan kuat bagi para perokok. Nasi pun disubtitusikan dengan rokok. Himpitan ekonomi bukanlah soal dan tanpa disadari anggaran kesehatan para perokok membengkak di masa mendatang. Apalagi yang ingin diperdebatkan kalau ternyata merokok mengakibatkan efek domino. Kesehatan yang memburuk, keuangan yang akan terkuras untuk membeli rokok dan biaya berobat, terganggunya usia kerja, dan kenyataannya, Indonesia dipastikan impor besar obat-obatan. Tersadari atau tidak, diperlukan gerakan perlawanan anti rokok.

Perlawanan dapat dilakukan dengan counter attack iklan rokok berkesinambungan sehingga tidak sekedar seremoni belaka setiap tanggal 31 Mei yang dijadikan hari tanpa tembakau. Tunjukkan kengerian akibat mengonsumsi rokok baik di media, pendidikan sekolah, bahkan pada bungkus rokok sekalipun. Pelarangan iklan rokok pada kegiatan-kegiatan olah raga dan musik, menaikkan cukai rokok, serta peran pemerintah dalam membentuk regulasi yang adil dan benar.
Peran-peran ini tentu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan pribadi masing-masing. Kompromi dengan media untuk pelarangan atau memundurkan jam tayang iklan rokok di luar jam belajar masyarakat. Orang tua, pendidik, budayawan, serta pemerintah harus siaga satu atas bahaya rokok.
READ MORE [...]

Lirik Laguku

peterpan - Jauhi Mimpiku

pernahku simpan jauh rasa ini
berdua jalani cerita
kau ciptakan mimpiku
jujurku hanya sesalkan diriku


kau tinggalkan mimpiku
namunku hanya sesalkan diriku

ku harus lepaskanmu
melupakan senyummu


semua tentangmu tentangku hanyalah
jauh ku jauh mimpiku dengan inginku
READ MORE [...]

Kutipan Sajak

"...;di negeriku lelaki tak patut menitikkan air mata; aku pun pergi
ke negeri puisi; di mana kegembiraan dan kesedihan keraguan dan cinta
tak ditampik atau menampik " - Toto St Radik


"Siapa tak jatuh cinta pada malam?" tanyamu;
"Aku," jawabku. Sebab aku Matahari. " - Eka Budianta


"Kutulis surat ini;
kala hujan gerimis bagai bunyi tambur yang gaib;
Dan angin mendesah;mengeluh dan mendesah. " - WS Rendra

"Usaha Menjawab Pertanyaan Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api.." - Bo\
READ MORE [...]

Sucsess Skills for Agent of Change

Mahasiswa mungkin akan selalu menyandang predikat sebagai agent of change (Agen Perubahan). Tidak salah kalau melirik ke sejarah cina, peristiwa Tiananmen atau barangkali di Indonesia sendiri peristiwa Tritura, Tragedi Trisakti dan lainnya sebagai saksi sejarah betapa mahasiswa mampu menjadi jiwa-jiwa revolusioner.

Terlepas dari sejarah, lalu bagaimana sekarang? Mahasiswa kini dituntut lebih sigap terhadap suatu perubahan, apalagi jelas akan menghadapi tantangan dunia ketenagakerjaan yang menuntut totalitas kemampuan mahasiswa yang lebih aplikatif ataupun berkompetensi global sehingga hanya satu kata untuk seorang mahasiswa yaitu sukses.

Menurut L. M. Spencer, ada 6 kompetensi yang dapat dijadikan ukuran kesuksesan, yaitu skill, knowledge, cognitive processing, perception, self concept dan motivation . Skill, knowledge, cognitive processing itu dapat dilihat namun perception, self concept dan motivation butuh waktu untuk dikembangkan makanya butuh suatu pemahaman sendiri baik orang tua, guru, dosen maupun mahasiswa.

Oleh karena itu perlu sistematika pelatihan terhadap mahasiswa guna menciptakan mahasiswa yang dapat berkompetensi global, antara lain :
1. Living Skills
Secara singkat mungkin dapat diartikan pembangunan karakter pribadi sukses bagi mahasiswa, sehingga mahasiswa senantiasa digerakkan nilai-nilai kemanusiaan seperti : integritas, pengendalian diri, keberanian, kesederhanan dan sebagainya.
2. Learning Skills
Pelatihan ini akan meliputi pengenalan kepada 4 keterampilan dalam proses pembelajaran yang mandiri dan aktif, yaitu mengenali gaya belajar, bagaimana membuat catatan yang efektif, membaca dengan cepat dan belajar dengan pemikiran yang kritis.
3. Thinking Skills
Hampir dalam keseharian, kita selalu dihadapkan dengan masalah-masalah, baik besar atau kecil, penting atau tidak penting, rumit atau sederhana maka diperlukan Problem solving dan Decision making sebagai mahasiswa untuk menuntaskan masalahnya.
4. IESQ Skills
Jika selama ini mahasiswa UGM sering kali dirasakan kurang mampu mengekspresikan diri, kurang mampu tampil menarik dalam presentasi, lemah dalam negoisasi. Hal ini semata-mata bukanlah persoalan ketidakmampuan dalam tataran skill tetapi lebih merupakan adanya konstruksi diri sebagian besar mahasiswa dam konstruksi sosial yang menyebabkan mereka bertindak demikian. Seringkali orang terjebak dalam teknik dan keterampilan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa namun, seringkali orang melupakan struktur dasar yang membentuk mengapa mahasiswa kurang optimal dalam mengekspresikan potensi yang dimiliki. Oleh karena itu diperlukan sinergisitas antara Intellegence, Emotional, Spiritual Quotient mahasiswa menuju kompetensi global.
READ MORE [...]

Proyek Kebangkitan

Aktivis Lembaga Dakwah Kampus yang disebut-sebut sebagai ikon kebangkitan Islam di kampus terpanggil untuk mengarahkan dan mengamankan proses perubahan Indonesia, dan sepakat membentuk gerakan bernama KAMMI sebagai wadah perjuangannya. Hingga kemudian KAMMI tercatat sebagai salah satu motor gerakan reformasi Mei 1998. Sebuah kebanggaaan tentunya, namun pembicaraan tentunya tidak sampai disini saja karena kelanjutan gerakan (eksistensi) menjadi masalah serius. Sembilan tahun adalah umur yang masih muda bagi KAMMI, masih perlu pembuktian lebih lanjut untuk menunjukkan kapasitas keintelektualan dan kepemimpinan.

Keberadaan KAMMI sebagai bagian dari Gerakan dakwah dengan nuansa kebangkitan ini harus mampu mengembalikan kepercayaan mengenai kebenaran dan syummuliatul Islam dengan berbagai terobosan dan langkah dengan realisasinya membentuk aktivitas penting dalam masyarakat dan mendidik kaum muda.

Kebangkitan harus senantiasa didengungkan dan dikuatkan, dengan ruh dan semangat yang membaja, maka KAMMI-lah yang seharusnya siap untuk menjadi pionir dan garda terdepan dalam mengawal kebangkitan ini dan saatnyalah memulai dan menjernihkan peradaban ini dengan tinta emas dan kerja-kerja yang hebat.

Kondisi demikian menuntut penyesuaian atau bahkan perubahan kemampuan penyusunan langkah dan stategi yang kemudian penciptaan-penciptaan struktur dan kultur yang solid dan kuat, sehingga peran-peran internal ataupun eksternal bisa tergarap secara optimal. Sosok pemimpin KAMMI adalah orang yang siap membuat sejarah, tidak hanya sampai disini sejarah itu dibuat akan tetapi satu detik ke depan hingga kebangkitan itu akan selalu datang.

Skenario untuk membentuk sejarah memang harus kita wujudkan, KAMMI harus memulai dari tiga hal, yang diinspirasi oleh ungkapan Umar r.a.“Sesungguhnya Allah mempunyai Rijal ( hamba-hamba yang shalih) yang menghidupkan kebenaran dengan menyebutkan (menampakkan) kebenaran itu pada diri mereka mematikan (memberantas) kebatilan dengan meninggalkan (menjauhinya)”.

Pertama, melahirkan ide cerdas dan baru. Semangat progresif yang pada gerakan KAMMI dapat melahirkan pemikiran baru, selalu medapatkan alternatif dalam melakukan kegiatan dan memecahkan suatu problem. KAMMI juga akan memainkan peran dalam proses dinamisasi pada gerakan mahasiswa yang terbingkai pada arus reformasi.

Kedua, selalu dalam garda terdepan. Dengan penuh semangat pantang menyerah, KAMMI harus selalu tampil di garis depan dalam melakukan manufer dan terobosan untuk perubahan bangsa. Ketika sudah ada pada taraf pengkaryaan kader dan masuk pada lingkungan yang berbeda maka kader KAMMI menjadi pelopor dan perintisnya, adappun jika suatu saat menghadapi hambatan, tantangan dan ancaman dari unsur-unsur penghancur islam dan bangsa indonesia, maka kader KAMMI selalu berada pada barisan terdepan untuk menghadapinya.

Ketiga, Siap Menjadi pemimpin Ummat. Kader KAMMI, dalam hitungan waktu cepat atau lambat pasti akan mengisi posisi strategis di Negara ini untuk melanjutkan estafet menggantikan para pendahulunya. Sehingga kader KAMMI harus menyiapkan dirinya dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan yang akan mendukung proses alih generasi tersebut.

Sebuah cita-cita agung yang selalu terpatri dalam idealisme KAMMI adalah eksistensi KAMMI dari masa ke masa yang berjalan secara optimal ide, gagasan dan amal nyata untuk perbaikan ummat. Sebuah cita-cita bahwa eksisistensi KAMMI muncul sebagai keberanian dalam menyongsong era transisi demokrasi dan kekuasaan di republik ini dalam upaya untuk mengembalikan peradaban yang telah lama diambil alih oleh kaum barat.
READ MORE [...]

Melukis Dengan kata

Fiksi (puisi dan cerita) adalah menerjemahkankan mimpi-mimpi ke dalam kenyataan; dan menafsirkan kenyataan dunia ke dalam impian. (Nietzsche dalam suratnya ke Richard Wagner)
***

READ MORE [...]

Galery

READ MORE [...]

Dari Peristiwa Ke Tulisan

Menjadi penulis bukanlah cita-cita populer sebelum era milenium ketiga. Apalagi penulis fiksi (pengarang). Bagaimana masa depannya nanti jika hanya mengandalkan hidup dari honorarium menulis? Tapi, pasca reformasi dan memasuki era globalisasi, paradigma itu berubah. Ternyata profesi penulis (naskah radio, wartawan koran, iklan, televisi, dan pengarang) menjadi cita-cita yang populer. Bahkan cenderung mudah; tanpa perlu modal uang sogokan seperti kita mendaftar jadi calon pegawai negeri, misalnya. Atau jadi anggota dewan yang terhormat. 
READ MORE [...]